SINGARAJA, Radar Bali.id – Kolaborasi antar elemen dirasa perlu untuk menjaga kebersamaan. Dalam kunjungannya ke Puri Kanginan Buleleng di Kabupaten Buleleng pada Senin (12/5/2025) pukul 14.55 Wita, Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Addin Jauharudin mengatakan kalau Ansor-Banser siap berkolaborasi dengan pecalang.
Ini juga sebagai bentuk menjaga keamanan dan keharmonisan sekaligus menangkal potensi meluasnya premanisme organisasi kemasyarakatan (ormas).
Menurut Addin, besarnya Indonesia hingga saat ini, tidak lepas dari peran besar nenek moyang serta berbagai kerajaan yang tersebar. Hingga akhirnya membentuk tradisi, budaya, hingga warna bahasa.
Sama seperti Kerajaan Buleleng, Ansor juga berdiri sebelum merdekanya Indonesia, tentu kemudian, mereka bersama-sama menjaga suasana dan kondusifitas hingga saat ini.
Dari kunjungan tersebut, disebutkan kalau Ansor-Banser siap apabila diminta bersama-sama menjaga dan mengamankan aktivitas umat Hindu apabila ada kegiatan adat dan keagamaan. Begitu juga sebaliknya. Sebab keharmonisan dan toleransi di Buleleng yang sudah kuat dengan persatuan keragaman.
”Sangat siap apabila ada kolaborasi antara Ansor-Banser dengan pecalang. Karena Ansor lahir dari masyarakat. Jadi aktivitas masyarakat, apapun warnanya, harus dijaga,” jawab Addin kepada Jawa Pos Radar Bali.
Sementara itu, Penglingsir Puri Kanginan Buleleng, Anak Agung Ngurah Parwata Pandji menyebut hubungan harmonis antara umat Hindu dan Islam, utamanya di Buleleng sudah terjalin sejak 1711. Pihaknya berharap hubungan harmonis ini dapat terus terjaga, salah satunya dengan kolaborasi antara pecalang dengan Ansor-Banser.
Alasannya, dengan bersama-sama menjaga situasi, setidaknya mampu mengurangi tindakan yang tidak diinginkan, maupun gesekan-gesekan yang tidak diperlukan, yang malah memicu retaknya toleransi yang ada di Gumi Den Bukit-julukan Kabupaten Buleleng.
Puri Kanginan Buleleng juga menyatakan, menolak premanisme yang berkedok ormas. Karena akan menambah runyam dan merusak tatanan sosial yang ada di Bali. Menurutnya sudah cukup apabila ada pecalang saja, apalagi diperkuat dengan Ansor-Banser.
”Kami menolak premanisme berkedok ormas. Karena itu akan menghancurkan tradisi. Di Bali sudah ada keamanan tradisional yakni pecalang. Apalagi kerja sama dengan Banser, ke depannya semakin kuat,” tegasnya.
Selain melakukan dialog sekaligus menyikapi premanisme berbalut ormas, Addin juga diajak mengunjungi museum yang ada di areal Puri Kanginan Buleleng. Diperlihatkan juga pedang zulfikar serta lontar berhuruf arab. [*]
Editor : Hari Puspita