Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Sambung Menyambung Kisah Pilu Keluarga Korban KMP Tunu Pratama Jaya: Banyak Firasat, Jasad Ketemu pun Memberi Isyarat

Francelino Junior • Jumat, 11 Juli 2025 | 19:50 WIB
BANYAK FIRASAT SEBELUM KEJADIAN : Kadek Sudiartini, istri Putu Mertayasa menceritakan suaminya yang menjadi korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya.(francelino junior/radar bali)
BANYAK FIRASAT SEBELUM KEJADIAN : Kadek Sudiartini, istri Putu Mertayasa menceritakan suaminya yang menjadi korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya.(francelino junior/radar bali)


Tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali manjadi cerita dukake penjuru Bali. Salah satu korbannya ternyata berasal dari Bali utara bernama Putu Mertayasa, 43, warga Banjar Dinas Pasar, Desa Anturan, Kecamatan Buleleng. Jenazahnya pun telah tiba di rumah duka pada Rabu (9/7/2025) sekitar pukul 23.00 Wita.

CERITA duka itu  terus bersambung. Terus berseri. Karena satu demi satu jasad korban kapal tenggelam terus ditemukan, hari demi hari. Oleh petugas Basarnas hingga nelayan. Bahkan oleh pemancing.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bali di Jalan Pulau Serangan, Kelurahan Penarukan, Kecamatan Buleleng yang menjadi rumah duka, keluarga Mertayasa sudah berkumpul di sana, begitu juga istrinya, Kadek Sudiartini, 38. Terlebih lagi jenazah pria yang berprofesi sebagai sopir truk itu sudah diserahkan ke keluarga.

Jenazah Mertayasa ditemukan pada Rabu (9/7/2025) pagi di perairan Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Ia merupakan jenazah nomor 12 yang berhasil diidentifikasi, sehingga langsung dikembalikan ke daerah asal dan keluarganya. 

Setelah ditemukan, keluarganya juga dikabari oleh Kelian Banjar Dinas Pasar dan bhabinkamtibmas Desa Anturan. Sebab di dalam kantong celananya, ditemukan identitasnya yang utuh.

Keluarga Mertayasa langsung menjemput jenazahnya pada Rabu (9/7/2025) yang berangkat pukul 15.00 Wita dan sampai di Pelabuhan Gilimanuk sekitar pukul 21.00 Wita. Identitas dan barang milik Mertayasa lagi-lagi ditunjukkan, untuk memastikan. 

Ia bercerita, sehari sebelum jenazah suaminya itu ditemukan, Sudiartini mengaku didatangi melalui mimpi. Dalam mimpi itu, Mertayasa pun mengatakan kepada istri yang sudah dinikahi selama 20 tahun bahwa ia akan segera pulang. Namun ketika ditanya kenapa bisa selamat, Mertayasa hanya diam tak menjawab. 

Disebutkannya, sang suami datang tanpa mengenakan baju dan hanya memakai celana, persis seperti terakhir kali berkomunikasi dan saat ditemukan.

Ini membuatnya yang selalu merasa waswas dan deg-degan setiap ada berita penemuan mayat, akhirnya menjadi lebih tenang, meski Mertayasa harus pulang tak bernyawa.

”Dia bilang nah mani mulihmani mulih (iya besok pulang, besok pulang). Akhirnya besok pagi benar ditemukan. Sekarang saya lega, karena sudah ketemu, tidak bertanya-tanya lagi,” ujar Sudiartini.

Sebenarnya, sudah ada sejumlah kejanggalan yang dialami oleh Mertayasa, sebelum peristiwa memilukan ini terjadi. Berawal dari sebelum berangkat menuju ke gudang truk sampai saat berangkat.

Mulai dari terjatuh saat memetik jambu, dompet tertinggal saat hendak ke Terminal Sangket menuju ke Tabanan, hingga aki truk yang meledak saat di Tabanan.

Hal itu sempat mengundang tanya Sudiartini. Meski waswas, dirinya tidak bisa menuntut banyak, karena pekerjaan suaminya sebagai sopir truk yang memang harus berangkat untuk mengambil besi ke Surabaya.

Sehingga hal ini dianggapnya sebagai suratan takdir dan nasib. ”Terakhir komunikasi sekitar pukul 20.30 WIB, bilangnya sudah di Asembagus, Kabupaten Situbondo. Video call saat itu tidak pakai baju, sempat tanya anak-anak. Tapi sampai di kapal tidak ada mengabari,” lanjutnya menceritakan.

Sudiartini pun mengaku tidak ada firasat apa pun. Namun pada Kamis (3/7/2025) sekitar pukul 08.00 Wita, adik Mertayasa menghubungi dan memberitahukan, kalau ada peristiwa kapal tenggelam di Selat Bali.

Tentu yang dikhawatirkan adalah Mertayasa, sebab sebelumnya sempat membuat status WA dengan caption Ti be atau mati be, yang background-nya suasana kemacetan masuk ke Pelabuhan Ketapang.

Sudiartini pun sempat menghubungi suaminya itu, tetapi ponselnya sudah tidak aktif. Waswas pun menyelimuti hati dan pikirannya.

Sehingga hari itu juga ia langsung menuju ke Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana untuk mencari informasi. Ditambah dengan penyampaian dari bos, rekan kerja, hingga yang membelikan tiket, sehingga Mertayasa dipastikan naik KMP Tunu Pratama Jaya.

”Suami memang sopir truk tronton, angkut besi, kadang semen. Sejak sebelum menikah sudah sopir. Sudah sering perjalanan jauh. Kalau saat antar-antar barang, memang sering tidur di dalam kabin truk, apalagi saat pelayaran. Biasanya sambil video call,” tuturnya.

Mertayasa diketahui meninggalkan empat orang anak. Yakni Luh Eka Sintyawati, 19, Kadek Teguh Adi Pratama, 16, Komang Agus Prandika, 11,  dan Ketut Dika Oka Permana yang baru berusia 17 bulan.

Pihak keluarga kini tengah mencari hari baik, untuk melaksanakan upacara kematian bagi Mertayasa. Rencananya, keluarga akan melaksanakan kremasi di Setra Buleleng.[*]

 

Editor : Hari Puspita
#KMP Tunu Pratama Jaya #selat bali #gilimanuk #kapal tenggelam