Akhirnya penghargaan prestisius didapatkan Desa Tembok, Tejakula, Buleleng. Pengakuan ini diberikan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal bersama Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
WILAYAH di ujung Bali utara ini, berhasil menjadi yang terbaik nomor satu di seluruh Indonesia.
Prestasi itu diperoleh dalam lomba desa terbaik dalam pelindungan pekerja migran indonesia (PMI) 2025, yang diselenggarakan oleh dua kementerian tersebut.
Hasilnya diumumkan pada Selasa (15/7/2025) secara resmi, berdasarkan hasil verifikasi lapangan dan rapat pleno.
Baca Juga: Risiko Tinggi Bila Terjadi Sesuatu, Disnaker Ingatkan Warga Jembrana Jadi PMI Legal dan Prosedural
Diketahui, Desa Tembok meraih terbaik 1, kemudian terbaik 2 Desa Sumber Gede, Kabupaten Lampung Timur, Lampung; terbaik 3 yakni Desa Bontomanai, Kabupaten Gowa, Sulsel; terbaik 4 yaitu Desa Bringinan, Kabupaten Ponorogo, Jatim; dan terbaik 5 adalah Desa Borok Toyang, Kabupaten Lombok Timur, NTB.
”Dalam lomba pelindungan PMI ini, Desa Tembok memiliki program yang concern pada perlindungan PMI dan keluarga mereka. Saat ini tercatat ada 160-an PMI dari desa kami,” ujar Perbekel Desa Tembok, Dewa Ketut Wily Asmawan pada Minggu (20/7/2025).
Penghargaan ini didapatkan, karena Desa Tembok dinilai telah menunjukkan komitmen luar biasa, dalam perlindungan PMI. Sehingga karena dedikasi dan kerja nyata itulah, menciptakan lingkungan yang aman, informatif, dan mendukung bagi PMI dan keluarganya.
Dewa Wily melanjutkan, perlindungan kepada PMI dan keluarganya itu, diberikan secara langsung. Mulai dari pencarian data dan informasi jelas terkait keberangkatan mereka, begitu juga dengan legalitasnya.
Setelah itu, kesehatan keluarga mereka pun dijamin melalui poskesdes. Ada juga jaminan angkutan sekolah, yang tidak hanya menyasar anak-anak dan keluarga PMI, tetapi juga bagi anak-anak lainnya di Desa Tembok.
”Program pendataan ini berjalan semenjak empat tahun lalu, tapi fokusnya dua tahun ini. Mulai dari cari kontak person PMI dan agensinya, kerja di negara apa, dan bekerja sebagai apa misalnya. Sehingga kalau ada permasalahan, mudah kami hubungi agensinya,” lanjut perbekel Desa Tembok.
Disebutkannya, PMI asal desa perbatasan Buleleng dan Karangasem itu, kebanyakan bekerja di darat atau di bidang hospitality, baik itu di Dubai, UEA; Amerika Serikat, Australia, hingga Jepang. Sedangkan 60 orang lagi, bekerja di kapal pesiar.
Dengan banyaknya warga yang menjadi pekerja migran, ditambah dengan banyaknya peristiwa yang melibatkan tenaga dari Indonesia di negeri rantau, membuat Desa Tembok membangun ”pagar pengaman” dengan program pendataan.
Yang dilakukan di desa, kemudian dilihat oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Buleleng dan BP3MI Bali. Sehingga berdasarkan penilaian mereka, Desa Tembok lolos mewakili Bali bersama Desa Apuan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Hingga Desa Tembok lolos sepuluh besar, lima besar, kemudian dinobatkan menjadi yang terbaik pertama.
”Kami belum tahu reward-nya seperti apa. Tapi kalau ada program, kami minta pelatihan untuk anak-anak muda kami, yang berkeinginan bekerja di luar negeri. Harapannya begitu,” tandas Dewa Wily. [*]