SINGARAJA, Radar Bali.id- Jembatan bailey yang selama ini menjadi akses vital menuju kawasan Sistem Pertanian Terpadu (Hutan Kota) di Kelurahan Banyuasri, Buleleng, telah diambil kembali oleh pemiliknya, Kodam IX/Udayana, pada Rabu (1/10/2025).
Penarikan jembatan baja sepanjang 33 meter ini dilakukan untuk membantu wilayah Nagekeo, NTT, yang baru saja dilanda bencana banjir bandang.
Keputusan mendadak ini membuat akses permanen menuju lahan seluas 1,9 hektare tersebut kini menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, membenarkan penarikan tersebut. Jembatan bailey yang dipinjam dari Yonzipur 18/Yudha Karya Raksaka Gianyar sejak Januari hingga Mei 2024 itu, dan kemudian diperpanjang, kini sangat dibutuhkan di lokasi bencana.
”Jembatannya diambil lagi, karena sangat dibutuhkan di Kabupaten Nagekeo, NTT. Pasca banjir bandang yang melanda dan merusak hingga terisolir transportasinya,” ujar Bupati Sutjidra pada Minggu (5/10/2025).
Pemkab Anggarkan Jembatan Permanen di 2026
Meskipun hilangnya akses penghubung ini menimbulkan kendala, Bupati Sutjidra memastikan hal tersebut tidak akan menghentikan pengembangan kawasan Sistem Pertanian Terpadu yang diproyeksikan menjadi laboratorium pertanian strategis Pemkab Buleleng.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Buleleng langsung merancang solusi permanen: pembangunan jembatan baru.
"Untuk pembangunan jembatan, sudah dimasukkan dalam RAPBD 2026, menunggu persetujuan legislatif. Pengembangan akan terus dilakukan dan ditata dengan bagus,” lanjut Sutjidra.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Buleleng, I Putu Adiptha Ekaputra, mengungkapkan pihaknya telah diperintah untuk segera merancang jembatan permanen yang serupa dengan desain jembatan bailey milik TNI-AD.
Kebutuhan anggaran untuk proyek ambisius ini diperkirakan mencapai Rp4 hingga Rp6 miliar. Dana tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi pembangunan jembatan, tetapi juga penataan akses jalan masuk secara keseluruhan.
"Kami akan buat jembatan ini bagus dan estetik, mengingat lahan yang dihubungkan akan menjadi pusat-pusat pertanian," kata Adiptha.
Dia menambahkan, pihaknya akan menggunakan material cor manual di tempat dan beton pracetak (precast) yang akan disesuaikan dengan kemampuan anggaran. Sementara untuk akses penghubung sementara, Dinas PUTR masih berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Buleleng mengingat belum adanya anggaran yang tersedia di APBD tahun berjalan.[*]
Editor : Hari Puspita