SINGARAJA, radarbali.jawapos.com - Rutinitas pagi para siswa di Kabupaten Buleleng, Bali, terasa berbeda beberapa waktu belakangan.
Sejak awal hari, bahkan saat mentari masih terlelap, para orang tua menyiapkan bekal untuk anak-anak mereka berangkat ke sekolah.
Mereka begitu bersemangat menyiapkan bekal bagi putra-putrinya. Tapi, kini bekal yang disiapkan lebih simpel dari sebelumnya.
Mereka tak lagi menyiapkan bekal makanan berat, melainkan cukup camilan ringan pengganjal perut. Para orang tua tak lagi pusing soal menu bekal anak-anak mereka.
Para siswa pun tak kalah bersemangat. Karena kini mereka punya kebiasaan baru di jam istirahat pertama: makan bersama di sekolah.
Mendekati pukul 09.00 Wita, suara khas mobil yang sudah dihafal di luar kepala oleh para siswa terdengar masuk ke area sekolah.
Ya, itu adalah mobil box milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mitra kerja Badan Gizi Nasional (BGN). Mereka mengantarkan paket-paket Makan Bergizi Gratis (MBG), program Presiden RI Prabowo Subianto.
Dengan cepat dan hati-hati, petugas mengeluarkan ompreng-ompreng (wadah) MBG dari mobil. Guru-guru menyaksikan prosesnya.
Tak sekadar melihat, namun juga mengawasi. Mengingat ompreng-ompreng itu berisi makanan bergizi yang akan dinikmati para siswa.
Ompreng-ompreng MBG itu tiba tepat saat jam istirahat pertama. Semua anak-anak berkumpul dan berbaris menerima MBG. Mereka duduk melingkar, ada yang berkelompok secara acak, ada pula yang menyantapnya seorang diri sembari menikmati suasana di sekolah. Bahasa kerennya, chill.
”Adanya MBG, sebagai orang tua jadi lebih ringan. Soalnya pagi-pagi jadi tidak begitu repot,” kata Okta Yuanita, salah satu orang tua siswa SDN 5 Banyuning.
Menu MBG di setiap sekolah dirancang berbeda-beda setiap harinya, tanpa meninggalkan pakem atau aturannya. Isinya jelas, makanan yang mengandung unsur empat sehat lima sempurna.
Tiap SPPG bertanggung jawab untuk menyediakan makanan yang nikmat di lidah namun tetap bergizi.
Para orang tua rata-rata mengaku bebannya jadi lebih ringan dengan adanya MBG. Bukan berarti mereka melepas tanggung jawab terhadap anak.
Bagi para orang tua, dukungan makanan dari pemerintah setidaknya ikut membantu pemenuhan gizi anak.
Menurut Dwi Lestari, salah satu orang tua siswa SDN 3 Banjar Jawa, adanya program MBG membuat orangtua tidak begitu repot menyiapkan bekal anak.
Yang menjadi nilai positif, anak secara tidak langsung diajarkan untuk mengenal lebih banyak jenis buah, protein, dan sayuran.
”Sekarang anak saya hanya cukup membawa bekal snack (roti, pancake, dan sebagainya) dari rumah,” ujar Dwi.
Program MBG yang menyasar anak-anak sekolah juga membuat para orang tua lebih lega secara ekonomi. Sebab, anggaran untuk bekal anak mereka di sekolah bisa ditekan.
Kalaupun tidak hilang sama sekali, nominal yang diberikan bisa lebih hemat dari sebelumnya, ketika belum ada program MBG.
Tak dipungkiri, tetap ada anak yang mengeluhkan rasa makanan yang menurut dia aneh, bahkan porsi menu yang minimalis. Tetapi secara umum orang tua mengakui kalau mereka dan anak-anaknya senang, bersyukur, dan tetap menikmatinya.
Semenjak ada program MBG, uang bekal dari orang tua yang tadinya untuk keperluan makan dan jajan di sekolah, bisa ditabung. Bahkan, tak jarang siswa tidak membawa bekal uang, karena sudah diberikan bekal nasi.
”Dulu sebelum ada MBG, anak-anak bawa bekal banyak-banyak ke sekolah. Belum lagi beli nasi untuk makan siangnya plus bekal.
Sekarang sudah ada MBG, bekal dari Rp 25 ribu bisa turun jadi Rp 20-15 ribu,” ujar Anak Agung Ayu Damar Riantini, salah satu orang tua siswa SDN 1 Banjar Jawa.
Para orang tua menaruh harapan dengan adanya program MBG dari pemerintah. Selain membantu meringankan beban mereka, MBG juga menjadi bentuk perhatian pemerintah terkait pemenuhan gizi anak-anak menuju Generasi Emas 2045.
Keinginan mereka, MBG bisa terus berlanjut untuk mengisi bagian gizi anak yang tidak terpenuhi. Pada intinya, mereka ingin agar makanan yang diberikan sehat dan fresh, agar sesuai dengan namanya, yaitu makan bergizi.
”Sebagai orang tua, harapannya program ini terus berjalan, kalau bisa merata sampai ke pelosok dan membantu perekonomian masyarakat yang terlibat,” kata Yaseri Yuly, salah satu orang tua siswa SMPN 2 Singaraja.
”Semoga ke depannya menu dapat berubah-ubah tiap hari, biar anak-anak tidak bosan,” imbuh Okta Yuanita.
Editor : Rosihan Anwar