Tak sekadar unik, rumah pohon yang satu ini punya cerita menarik, juga bersejarah di era colonial dulu. Bukan sekadar untuk bersantai memandang keindahan alam di sekitarnya. Berikut ini dituturkan Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna.
BAGI siapa saja pengendara yang melintasi Jalan Gajah Mada, Singaraja, saat senja mulai jatuh, ada pemandangan yang tak biasa di kawasan Setra (kuburan) Desa Adat Buleleng. Di kegelapan dahan pohon kepuh raksasa, tampak pendar cahaya kemerahan yang menggantung tinggi.
Bagi yang tak tahu, pemandangan itu mungkin memicu bulu kuduk berdiri. Namun, cahaya itu bukanlah tanda mistis, melainkan simbol kebangkitan sebuah saksi bisu Sejarah, Rumah Pohon Sang Pengintai.
Desa Adat Buleleng baru saja melakukan gebrakan dengan merevitalisasi rumah pohon legendaris tersebut. Bangunan kecil berukuran 2 x 2 yang terbuat dari kayu besi itu kini bertengger kokoh di pinggang pohon kepuh berusia ratusan tahun yang menjulang setinggi 30 meter.
"Mata" Bagi Pelabuhan Tua
Dulu, rumah pohon ini bukan tempat bersantai, melainkan titik pertahanan vital. Jauh sebelum hiruk-pikuk kota modern, tempat ini adalah "mata" bagi masyarakat Buleleng. Lokasinya yang strategis menjadikannya pos pemantauan kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Buleleng—pintu gerbang perdagangan utama Bali di masa lampau.
"Rumah pohon ini dulu digunakan sebagai tempat pengintaian. Mulai masa penjajahan Belanda hingga masa-masa perjuangan seperti G30S PKI dan Dwikora," ungkap Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna.
Di atas sana, para pemuda Buleleng bersembunyi di balik rimbunnya daun kepuh, mengamati gerak-gerik musuh dengan teropong sederhana, sembari menggenggam senjata tajam. Sebuah alat komunikasi tradisional disiapkan untuk mengirim sinyal ke rekan-rekan di bawah jika bahaya mendekat. Kini, memori heroik itu dihidupkan kembali agar generasi muda tak "Jas Merah"—jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Antara Estetika dan Keamanan
Proses revitalisasi yang dimulai sejak 18 Januari lalu ini dilakukan dengan sangat hati-hati. Mengingat statusnya sebagai objek wisata sejarah berbasis budaya, pihak desa bahkan melibatkan ahli tanaman untuk memastikan kesehatan akar dan batang pohon raksasa tersebut.
Meski kini tampilannya terlihat "gagah" dengan pendar lampu merah yang mencolok saat malam hari, pengunjung belum diizinkan untuk memanjat ke atas.
"Faktor keamanan dan kondisi kawasan setra menjadi pertimbangan utama. Sementara ini kami jadikan sebagai monumen dan dokumentasi sejarah," tambah Sutrisna, yang juga mantan Kepala Dinas Pariwisata Buleleng ini.
Ke depan, sebuah tangga yang aman akan dibangun. Rencananya, kawasan di bawah pohon kepuh tersebut akan ditata menjadi taman rekreasi sekaligus ruang edukasi. Pengunjung tidak hanya bisa berfoto, tapi juga belajar betapa hebatnya perjuangan para leluhur dalam menjaga tanah Bali Utara.
Ikon Baru City Tour Singaraja
Kehadiran rumah pohon ini diharapkan menjadi pemantik baru bagi pariwisata di pusat kota.
Ia tidak lagi dipandang sebagai sudut yang gelap dan menyeramkan di area pekuburan, melainkan ruang terbuka yang menyimpan cerita heroik.
Bagi Nyoman Sutrisna dan krama Desa Adat Buleleng, rumah pohon ini adalah bukti bahwa sejarah tidak harus kusam dan terlupakan. Ia bisa bersinar kembali, bahkan di tengah sunyinya area setra, mengingatkan setiap orang yang lewat bahwa di atas sana, keberanian pernah bertahta.[*]
Editor : Hari Puspita