Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mengikuti Tradisi Mapepada Desa Adat Buleleng: Sucikan 17 Jenis Satwa Menuju Harmoni Nyepi Saka 1948

Francelino Junior • Kamis, 19 Maret 2026 | 06:15 WIB

TUNTASKAN RITUAL UPACARA: Prosesi ritual  mapepada dalam rangka Hari Suci Nyepi di Desa Adat Buleleng.(francelino junior)
TUNTASKAN RITUAL UPACARA: Prosesi ritual mapepada dalam rangka Hari Suci Nyepi di Desa Adat Buleleng.(francelino junior)

 

Ada 17 jenis hewan menjalani ritual penyucian kuno bertajuk Mapepada, sebuah tradisi adiluhung yang tetap lestari sejak ratusan tahun silam sebagai rangkaian menyambut Hari Suci Nyepi Saka 1948.

ALUNAN mantra suci dan aroma dupa membubung tinggi di pelataran Pura Desa Adat Buleleng pada Selasa (17/3/2026) sore. Sudah berlangsung dan lestari ratusan tahun.

Tradisi yang telah eksis sejak tahun 1835 ini bukan sekadar rutinitas. Berlandaskan sastra suci Lontar Bama Kerti dan Ciwa Gama, Mapepada merupakan bagian tak terpisahkan dari denyut spiritual masyarakat setempat.

 Tahun ini, Banjar Adat Kampung Anyar mendapatkan kehormatan memegang tanggung jawab sebagai ngewalung atau pelaksana utama upacara.

Penyucian Lahir dan Batin Satwa

Mapepada merupakan tahapan krusial dalam rangkaian upacara Tawur Kesanga. Ritual ini bertujuan menyucikan roh satwa yang akan digunakan sebagai sarana pecaruan (persembahan).

Ke-17 satwa tersebut meliputi anak sapi (godel), kambing, babi, anjing, hingga berbagai jenis unggas seperti ayam, itik, dan angsa.

Prosesi sakral ini dipimpin oleh Sulinggih Ida Pandita Mpu Ratangkara Bayu Sagara Gni Ananda Wijaya Nantha dari Griya Taman Aswameda Asram Yeh Taluh. Dengan khidmat, krama yang mengenakan busana adat madya mengarak hewan-hewan tersebut di halaman pura untuk diperciki tirta (air suci).

“Tradisi ini bertujuan menyucikan hewan sebagai sarana upacara. Kami juga telah berkoordinasi erat dengan Banjar Adat Kampung Anyar yang bertugas menyiapkan banten pecaruan,” ungkap Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna.

Arak-arakan Menuju Catus Pata

Usai disucikan secara lahir dan batin di pura, satwa-satwa tersebut kemudian diarak menuju Catus Pata (perempatan agung) Desa Adat Buleleng—titik sentral pelaksanaan Tawur Kesanga yang mempertemukan Jalan Veteran, Gajah Mada, Mayor Metra, dan Gunung Semeru.

Setelah prosesi penyerahan oleh Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, hewan-hewan tersebut dibawa menuju Banjar Adat Kampung Anyar untuk diproses lebih lanjut sesuai tatanan adat.

Menjaga Keharmonisan Alam

Puncak ritual Tawur Kesanga sendiri dijadwalkan berlangsung pada Rabu (18/3) besok. Ritual ini membawa misi mendalam bagi keseimbangan kosmos sebelum umat Hindu memasuki masa hening Nyepi.

”Harapannya satu, yakni menjaga keharmonisan antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta atau Tri Hita Karana,” tandas Nyoman Sutrisna menutup prosesi. [*]

Editor : Hari Puspita
#tradisi lama #budaya tradisional #spiritual #buleleng