SINGARAJA, radarbali.jawapos.com – Buleleng Festival (Bulfest) 2026 dibuka pada Selasa (18/8). Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster bersama Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra di Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja.
Kemegahan para penari, terbaru di sekitar kawasan ini. Sebanyak 50 penari Wiranjaya di bagian barat, 50 penari Palawakya di bagian utara, dan 50 penari Truna Jaya di bagian timur. Menjadi simbol dari ”Sunia Campuhan Parisuda”, konsep penyucian di titik pertemuan dua aliran air untuk mencapai kejernihan pikiran dan ketenangan batin.
Dibukanya Bulfest 2026, ditandai dengan penembakan meriam ke langit, disaksikan Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, Ketua DPRD Buleleng, Ketut Ngurah Arya, dan Sekda Buleleng, Gede Suyasa. Dengan mengusung tema ”Uriping Rasa”, pesta rakyat selama enam hari ini dihadirkan Pemkab Buleleng sebagai ruang untuk menghidupkan ingatan, identitas, dan rasa cinta pada kebudayaan Buleleng Tempo Dulu, sekaligus menjadi ekosistem seni, budaya, ekonomi kreatif, dan inovasi bagi masyarakat lokal hingga wisatawan mancanegara.
”Makna uriping yang berarti hidup dan rasa berarti hredaya/hati, menegaskan bahwa budaya bukan sekedar tontonan, melainkan pengalaman batin yang membimbing tindakan kita sesuai dengan dharma,” ucap Bupati Sutjidra.
Bulfest disebut tak hanya menjadi perhelatan seni, namun ruang bersama untuk menghidupkan ingatan, identitas, kreativitas, dan rasa memiliki terhadap kebudayaan Buleleng Tempo Dulu. Dengan tema saat ini, Pemkab Buleleng berharap event ini menjadi momentum refleksi bahwa kebudayaan hidup ketika rasa di hati tetap menyala.
Uriping Rasa mengajak semua untuk menjaga rasa hormat kepada leluhur, cinta pada tanah kelahiran, kebanggaan identitas, kepedulian terhadap lingkungan dan sesama, serta tanggung jawab mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.
Apalagi Buleleng yang memiliki perjalanan sejarah panjang dari masa kerajaan hingga era digital kini, mengingatkan masyarakat bahwa daerah ini mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
“Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang harus ditinggalkan ketika zaman berubah. Sebaliknya, tradisi harus mampu menemukan ruang baru agar tetap hidup, relevan, dan dapat diterima generasi masa kini,” tambah Sutjidra.
Dasar itulah yang membuat pemerintah menggelar Bulfest selama enam hari, sejak Selasa(18/8) hingga Minggu (23/8) yang menyuguhkan berbagai kegiatan seni, budaya, ekonomi kreatif, dan inovasi kepada masyarakat lokal, wisatawan domestik, maupun mancanegara.
Beragam kegiatan kesenian tradisional dan modern digelar pada dua zona panggung. Zona A yang merupakan panggung utama di Tugu Singa Ambara Raja serta Zona C yaitu kawasan Catus Pata Singaraja. Pagelaran seni juga berlangsung di kawasan Kantor BKAD dan DPRD Kabupaten Buleleng.
Sementara itu di Gedung Wanita Laksmi Graha dan Galeri Singa Ambara Raja menjadi etalase produk UMKM, Kriya, dan juga kerajinan tangan. Kawasan Ruang Terbuka Hijau Rumah Jabatan Bupati memamerkan Buleleng Digital Expo, Aneka kuliner disajikan disepanjang Jalan Veteran dan sekitarnya, dan Sarasehan dan seminar dilaksanakan di Wantilan Sasana Budaya.
Karena keseluruhan rangkaian ini menghadirkan sebuah ekosistem kebudayaan yang tidak hanya berbicara mengenai seni pertunjukan, tetapi juga tentang pengetahuan, kreativitas, ekonomi masyarakat, teknologi dan masa depan Buleleng.
Bupati Sutjidra juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seniman dan pelaku budaya atas dedikasinya dalam melestarikan kesenian, adat dan budaya Buleleng.
”Teruslah berkarya menjaga tradisi dan melakukan inovasi. Kepada generasi muda kenali, cintai, dan banggalah pada budaya anda. Ketika rasa terhadap budaya tetap hidup, identitas kita terjaga dan budaya menjadi kekuatan pembangunan,” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster dalam sambutannya menyampaikan, Bulfest menjadi wadah untuk menunjukkan karakter khas kesenian Buleleng. Kuatnya pengaruh gaya kesenian Buleleng bagi Bali, harus tetap dijaga dan dikembangkan serta diapresiasi oleh seluruh komponen masyarakat.
Pelaksanaannya diharapkan mampu menjadi batu loncatan untuk akselerasi menjadi altar pemuliaan alam, manusia, dan kebudayaan Bali dalam rangka mendukung Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.
”Mari teguhkan komitmen untuk melanjutkan gelora kesenian di Bumi Panji Sakti. Mari pacu semangat dan kreativitas dan secara konsisten melakukan regenerasi seniman-seniman muda,” katanya.
Gubernur Koster juga menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Buleleng beserta seluruh jajaran, yang telah menginisiasi dan mempersiapkan festival ini. Ini menjadi bukti atas komitmen dan kerja nyata pemerintah daerah untuk mengaktualisasi upaya penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali sesuai dengan Perda Provinsi Bali nomor 4 tahun 2020.
“Semoga kegiatan ini mampu memacu semangat berkesenian, kreativitas dan inovasi bagi para seniman dan insan kreatif lainnya, namun tetap bepegang teguh pada akar kebudayaan Bali sebagaimana yang telah diwariskan oleh leluhur dan lelangit Bali,” tutup Gubernur Koster. (adv/jun)
Editor : Rosihan Anwar