SINGARAJA, Radar Bali.id – Pemkab Buleleng mulai menggalakkan penanganan jangka menengah dan panjang untuk memutus rantai krisis air bersih yang saban tahun menerjang saat musim kemarau.
Baca Juga: Dampak Kemarau Panjang di Jembrana: 1.048 KK Krisis Air Bersih, BPBD Bikin Penampungan
Salah satu langkah konkretnya yakni memetakan sejumlah titik potensial untuk pembangunan sumur bor.
Langkah strategis ini digarap bersama oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Kawasan Permukiman (PU-Perkim) Buleleng, serta Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida.
Baca Juga: Air Bersih Macet Sejak Juli, Warga Tamblang Buleleng Gedor Kantor UPS-AB
Tim teknis BWS bahkan sudah diterjunkan ke lapangan untuk melakukan survei lokasi secara mendalam.
Kepala Pelaksana BPBD Buleleng I Gede Suyasa menjelaskan, opsi pembuatan sumur bor diambil lantaran keberadaan embung yang selama ini diandalkan terbukti kurang efektif menampung pasokan air kala kemarau panjang. Debit air pada embung cenderung menyusut drastis dalam waktu singkat.
”Kalau hanya mengandalkan lubang dan embung, seminggu saja airnya sudah habis. Karena itu, sekarang kita berbicara solusi jangka panjang. Kami mengundang BWS langsung untuk pemetaan kawasan yang cocok dan memungkinkan ditanam sumur bor,” ujar Suyasa, Selasa (29/9/2026).
Salah satu titik prioritas yang telah dipetakan berada di Kelurahan Penarukan. Di wilayah ini, tim teknis tengah mengkaji potensi cadangan air tanah untuk dialirkan ke daerah yang dilanda krisis air, termasuk Desa Sinabun. Pemetaan serupa akan berlanjut secara bertahap ke sejumlah desa langganan kekeringan lainnya.
Keberadaan sumur bor di titik-titik strategis diharapkan dapat mengikis ketergantungan masyarakat terhadap distribusi air menggunakan mobil tangki setiap musim kemarau.
”Target jangka menengah kami, jika rencana sumur bor ini disetujui, tentu bisa sedikit banyak membantu mengatasi persoalan krisis air bersih warga saat kemarau tiba,” tegasnya.
Penyusunan solusi jangka panjang ini berkejaran dengan meluasnya dampak kekeringan di Buleleng. Hingga kini, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Buleleng masih terus menggelontorkan bantuan air bersih ke wilayah-wilayah kritis.
Teranyar, pada Minggu (27/9/2026), BPBD menyalurkan 5.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan sekitar 30 kepala keluarga (KK) di Banjar Dinas Suci, kawasan Abasan, Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula.
Menurut Suyasa, kekeringan di Tejakula dipicu oleh penurunan debit sumber air yang diperparah oleh kerusakan teknis pada pipa jaringan.
Pihaknya berkoordinasi dengan Camat Tejakula agar penanganan selanjutnya dapat disuplai langsung oleh Perumda Air Minum menggunakan tandon air bantuan BPBD. Selain Tejakula, krisis air bersih juga melanda Banjar Dinas Menasa (Desa Sinabun), Desa Madenan, serta Desa Cempaga. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali