Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Liku-Liku Prostitusi di Terminal Pesiapan, Tabanan: Sepi Tamu, Musim Kopi dan Sayur Selalu Dirindu

Hari Puspita • Minggu, 29 Januari 2023 | 23:05 WIB
SEMPAT BERJAYA: Suasana Terminal Pesiapan yang menjadi lokasi “warung plus-plus” atau tempat prostitusi. (foto:tim radar bali)
SEMPAT BERJAYA: Suasana Terminal Pesiapan yang menjadi lokasi “warung plus-plus” atau tempat prostitusi. (foto:tim radar bali)
Terminal Pesiapan, Tabanan, lebih dari sekadar terminal biasa. Tempat yang sempat populer dengan sebutan TPI (Taman Pesiapan Indah), itu memiliki sisi lain sebagai tempat transaksi “daging mentah”. Kini, di tengah maraknya prostitus online, para Pekerja Seks Komersial (PSK) di sana mencoba eksis. Berikut investigasi tim Jawa Pos Radar Bali.

PAGI itu cuaca di sekitar Terminal Pesiapan cerah. Tampak meja beratap terpal milik para pedagang berjejer menjual sayuran, buah, ikan, bumbu dapur, dan aneka sembako. Transaksi di sana lazimnya jual beli di pasar tradisional lainnya.

Masuk ke belakang lapak, terlihat deretan kios didominasi warna hijau di bagian depannya. Kios itulah yang disebut “warung plus-plus”. Tempat di mana para PSK menjajakan diri pada pria hidung belang.

Saat Jawa Pos Radar Bali datang, sekitar pukul 10.00, sejumlah kios hijau sudah buka, tapi sepi. Berbeda dengan lapak di depannya yang menjual sayuran dan kebutuhan dapur.

Beruntung, saat itu koran ini berhasil menemui salah seorang PSK. Tidak mudah mewawancarai PSK di Pesiapan. Mereka cenderung tertutup. Maklum, sebagai PSK mereka identitasnya tidak ingin diketahui publik.

“Masih belum (ada pelanggan) kalau jam segini, Pak. Malam baru ramai,” ucap salah seorng PSK berinisial T.

T adalah PSK senior di kalangan PSK lainnya di Pesiapan. Sudah lebih dari dua dekade dirinya menjadi kupu-kupu malam di Terminal Pesiapan. “Dari usia 18 tahun saya sudah di sini,” aku perempuan yang kini usianya hampir 50 tahun itu.

T mengungkapkan, pelanggan yang datang tidak seramai dulu. Ini lantaran Terminal Pesiapan atau dulunya dikenal sudah beralih fungsi menjadi pasar. T menceritakan, dulu tahun 2000, ia bersama dengan teman-teman lainnya membuka “warung kopi” di Pesiapan.

Ia ingat betul, dulu pukul 09.00 warungnya sudah ramai pelanggan. Saking ramainya, satu warung diisi sampai lima orang PSK.

“Sekarang susah, Pak. Mau buka pagi malu, karena sudah ada pasar yang ramai pedagang dan ibu-ibu pembeli. Kalau dulu beda (sepi),” ungkapnya.

Menurut T, dunia PSK saat ini dengan 20 tahun lalu mengalami perubahan drastis. Dulu pelanggan datang, transaksi, langsung “eksekusi” di tempat. Kini, sebelum datang ke lokasi, pelanggan lebih awal melakukan memesan via online. Biasanya melalui aplikasi MiChat.

“Sekarang saya dan teman-teman bisa nongkrong di warung (kios), tapi tempat “mainnya” beda. Bisa di luar, karena dijemput pelanggan secara langsung,” ungkapnya.

Tidak hanya perbedaan pola bookingan dan tempat “eksekusi”, menurut T, prostitusi di Pesiapan juga mengalami pergeseran musim. Maksudnya? Dulu PSK di Pesiapan ramai tamu jika datang musim kopi dan musim sayuran. Ketika ramai sehari bisa melayani tiga kali pelanggan.

“Kalau musim kopi pelanggan yang datang pasti dari daerah atas Pupuan. Sedangkan musim sayuran, pelanggan datang dari daerah Baturiti. Namun, sekarang sudah tidak ada lagi musim kopi dan sayuran,” beber T.

Ditanya soal tarif, itu semua tergantung kepiawaian tamu. “Kalau yang pintar menawar bisa dapat Rp 50 ribu (sekali kencan). Beda lagi dengan diajak keluar, tarifnya lebih mahal, Rp 150-200 ribu,” jelas T.

Untuk warung yang ditempatinya saat ini, tidak menyewa. Dalam sebulan ia membayar uang sewa sebesar Rp 70 ribu. Itu belum termasuk uang retribusi setiap hari. “Kami membayar Rp 5 ribu untuk retribusi setiap harinya,” rinci T.

Dia menambahkan, ada beberapa rekannya tidak melulu bekerja sebagai PSK. Sebagian bekerja sebagai buruh bangunan. Apabila kondisi pekerjaan sebagai buruh bangunan sepi, maka mereka balik kucing bekerja sebagai PSK.

“Mereka yang bekerja sebagai PSK di sini rata-rata umurnya di atas 40 tahun. Kalau usia muda-muda paling satu dua orang,” pungkasnya. (tim radar bali)

  Editor : Hari Puspita
#penjaja seks komersial #Terminal Pesiapan Tabanan #Prostitusi di Tabanan #esek-esek di tabanan #aktivitas seks di terminal pesiapan