BAKAT Made Lolit dalam dunia seni rupa sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Dia pun terus mengasah kemampuannya dan memilih menempuh studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar mengambil jurusan seni rupa. Sayangnya, itu bertahan sampai dua tahun. Sebab, dia merasa ekplorasi dalam kanvas masih kurang dan akhirnya hijrah ke kulit manusia alias menjadi tukang tato.
Made Lolit sejak saat itu mulai menekuni profesi sebagai seniman tato profesional. Dia pun meninggalkan bangku kuliah. Hal itu tercapai. Karyanya dihargai mahal, istilahnya hobi dibayar.
Ditemui di studio tato bilangan Kuta. Dia berkisah, perjalanannya menjadi artis tato sudah sejak enam tahun lalu. Awalnya, hobi melukis dituangkan ke media telur dan kanvas dan beralih ke kulit manusia. Alat-alat lukis tak lagi kuas melainkan dengan mesin. Sempat menyerah awalnya, pesimis dengan peralatan tato yang rumit.
"Dulu mesinnya berat bunyinya bising sempat berpikir lanjut tidak jadi tato artis, tapi seiring waktu zamannya praktis. Dulu mesin berat dan panas," ucapnya. Namun sekarang mesin lebih praktis seperti memegang spidol namanya rotary. "Kayak wireless," jelasnya. Made Lolit tidak bisa menghitung sudah berapa banyak orang yang ditato. Baik orang asing dan orang lokal. Paling dia ingat ketika berkesempatan merajah kulit DJ Bella. "Awalnya tidak ada bayangan jadi tato artis. Dulu cita-cita jadi seniman. Makin ke sini dikarenakan tato artis dan ekonominya lumayan," ucapnya.
Ciri khas Made Lolit lebih pintar membuat tato Balinese Style. Salah satunya yang sempat viral adalah tato Rangda. Lambat laun, penggemar karya tato Made Lolit makin banyak. Alhasil, pria 28 tahun ini berhasil mendapat sponsor salah satunya dari Amerika.
Dia sempat menjadi juri di Myanmar dan membawa tiga penghargaan dari Australia. Di Negeri Kanguru itu, Lolit ikut kompetisi di Australian Tattoo Expo, penghargaan yang diraih small black and grey; best tattoo of the day saturday; dan best tattoo of the day sunday.
Suka duka menjadi seniman tato, Lolit menjelaskan harus hati-hati karena melukis di kulit. Jangan sampai salah apalagi merobek kulit. Oleh karena itu, Lolit menerima order minimal satu bulan sebelumnya. Sebab, ia harus mengetahui gambar yang diinginkan pelanggan dan juga mengetahui kondisi kulitnya. Bahkan, orderan yang diterima tiga bulan sampai satu tahun sebelumnya.
"Ngelukis modal awal. Kalau ngelukis di telur kertas. Kalau di tato salah hancur kulit orang rusak kulit orang. Jangan sampai kulit orang robek," sebut dia. Selain bisa melukis, modal bisa jadi seniman tato adalah mental. Sering dia merasa grogi apalagi menato bule. Kendati kulit bule lebih putih dan bersih, ternyata lebih mudah dan mengenakkan menato di kulit warga lokal atau Asia.
Masalah harga menurut Lolit bagaimana dia bisa menghargai diri sendiri. Minimal untuk orang asing harganya sebesar Rp 500 ribu kalau untuk orang lokal lebih murah. Paling mahal tergantung gambar, misalnya full punggung bisa mencapai Rp 30 jutaan.
"Sukanya hobi dibayar dan bayarannya sangat dihargai. Dukanya banyak yang memandang mau jadi apa dengan suka tato. Ada kritik kalau gambarnya salah. Seperti buat rangda di kaki banyak yang menghujat," terangnya.
Harapnya, dunia tato di Bali semakin berkembang, tetapi seniman tato juga harus bisa menghargai hasil karyanya dengan tidak membanting harga. Ia melihat harga tato di Bali hancur, Made Lolit mengibaratkan seniman tato di Bali seperti jualan lalapan karena sangat murah "Di Bali sangat kacau banting harga kayak jualan lalapan," tukas alumnus SMK Negeri 1 Sukawati ini.
Lain lagi dengan I Wayan Apel Hendrawan, ungkap dia, dunia seni lukis maupun tato tidak lepas dari dunia spiritual. Bahkan ia mengeksplorasi karya-karya seninya dengan ciri khas art modre. Sebab aksara modre ini adalah aksara suci dan juga untuk mengingatkan bahwa Bali memiliki ciri khas kaligrafi istimewa yakni modre.
Apel Hendrawan menceritakan sekilas perjalanan di dunia seni sejatinya sudah dari sejak kecil. Mulai melukis tembok atau mural hingga di atas kanvas. Sejalan dengan hal tersebut ia juga mencoba mempelajari dunia tato.
Bahkan sempat merakit mesin tato dari dinamo tape compo. “Dulu equipment untuk tato sangat terbatas sekali seperti mencari tinta, jarum, itu sulit. Artinya standarisasi di tato memang terbatas,” jelas Apel Hendrawan saat ditemui di studio tatonya di Sanur Ink Tattoo Jalan Danau Tamblingan Nomor 212, Sanur, Denpasar, Jumat (31/3/2023).
Perjalanan seni Apel Hendrawan antara melukis maupun tato tak bisa dipisahkan. Di dunia seni rupa ia juga kerap ikut pameran dengan teman-teman perupa lainnya dan juga pameran tunggal.
Namun dari tahun 2009 ia mulai terjun di dunia tato. Seiring berjalannya waktu dan juga berkarya dalam lukisan maupun tato yang mengeksplorasi aksara modre yang ia sebut art modre.
Aksara modre merupakan puncak aksara Bali yang sering dipergunakan dalam hal-hal yang berkaitan dengan aspek keagamaan, spiritual, dan mistik. Aksara modre adalah aksara yang ditutup dengan anusuara, yang sulit dibaca karena memperoleh berbagai perlengkapan, busana, pengangge aksara sehingga dalam penulisannya aksara modre terkadang tidak sesuai dengan aturan penulisan yang disebut uger-uger pasang aksara Bali. “Kenapa saya berani angkat art modre? Itu sebenarnya tulisan yang memang disakralkan sekali dan tidak boleh dilakukan sembarang orang, karena memiliki energi besar. Saya sudah melalui proses pawintenan dan sudah mendapat restu dari nabe (guru spiritual). Saya bisa mengaplikasikan art modre ini yang penting di sisi yang benar dan tidak melecehkan,” terang pria kelahiran, Sanur , 29 Mei 1974 ini.
Terlebih aksara modre itu sangat menarik sekali untuk dieksplorasi. Sebuah karya dalam bentuk kaligrafi yang memiliki aksara modre tertentu.
“Ini juga untuk mengingat bahwa kita punya ciri khas kaligrafi istimewa di Bali. Setelah di lukisan, saya juga mencoba aplikasi art modre dengan gaya saya di media kulit,” beber seniman yang full tato ini.
Namun ia juga tidak sembarangan mentato art modre. Ketika ada klien, dia tidak mau langsung mentato. Melainkan melakukan dialog maupun diskusi. Sebab, Modre ini tato sangat kental hubungan dengan spiritual.
Sehingga ketika dia mentato, kliennya juga diberikan energi positif dari tato tersebut. Tak heran, ia juga banyak menolak tamu untuk mentato art modre ini. Sebab, tato art modre ini lebih ke karya seni.
“Biasanya kalau ada tamu yang ingin tato art modre biasanya saya ada dialog, memberikan pemahaman dan penjelasan mengenai modre ini. Selain tamu juga paham, saya juga menghargai karya tato art modre saya ini. Karena modre itu tidak bisa dibaca dan hanya si pembuat saja yang mengerti. Artinya antara karya, pembuat dan dengan yang di Atas (Tuhan) itu sangat personal sekali,” terang seniman yang juga sebagai pemangku ini. (ni kadek novi febriani/dwija putra/editor: aa candra gupta)
Editor : Hari Puspita