BERBEDA dengan dulu, peralatan tato itu sangat sulit sekali didapatkan. Bahkan para tetua dulu mengenal istilah tato itu mecocok (ditusuk-tusuk). Mereka ditato tidak menggunakan jarum tapi dengan duri juwuk (jeruk) dan untuk warnanya menggunakan mangsi yakni warna untuk wayang kulit yang dominan warga hitam.
Gambarnya juga identik dengan gambar pewayangan, barangkali seperti itu tren era dulu. Namun sekarang sudah tidak ada lagi menggunakan teknik tradisional seperti itu. “Sekarang equipment (peralatan) tato sudah canggih. Perkembangannya juga sangat pesat,” ujarnya.
Begitu pesatnya perkembangan dunia tato dan dilihat dari sisi bisnis menjadi suatu persaingan. Tak sedikit, para bule malah membuka usaha tato di Bali, mempekerjakan orang lokal dan dia mengontrol dari negaranya.
Selain itu dari segi harga juga bisa menjaga tidak sehat. “Kalau saya ditato, selain Sanur Ink Tattoo saya mengembangkan beberapa studio di daerah Sanur namanya Sanur Big Rock Tattoo sampai ada 4 studio. Memang sengaja saya bikin di Sanur untuk memproteksi owner dari luar. Kalau orang lain bergabung sulit menjaga harga, kualitas dan segala macamnya. Seperti di Kuta itu hancur-hancuran,” terangnya.
Untuk diketahui, di dunia tato Apel Hendrawan juga kerap tampil sejumlah di even tato.
Seniman yang tinggal di Sanur ini juga selain melakukan pameran seni rupa bersama ia juga menggelar pameran tunggal di antaranya, di Gabrig Gallery, Miami (1989), ‘Resurrection’ From Darkness into Light di Santrian Gallery, Sanur (2013), 'Resurrection II' serangkaian APEC di Nusa Dua Beach Hotel (2013), dan ‘Resurrection III’ Sabda Pertiwi di Messehalle, Hamburg, Jerman (2017) dan lainnya.
Baru-baru ini ia juga mengeksplorasi karya lukisannya menggunakan abu vulkanik. Tercetus ide melukis menggunakan abu vulkanik setelah ia mengikuti pameran lukisan di Jakarta. Dari beberapa karya ada 9 tema gunung meletus. Usai pameran karya balik ke Bali, Gunung Semeru meletus.
Akhirnya menyumbangkan tiga karya gunung dilelang dan hasilnya 100 persen didonasikan kepada korban bencana Gunung Semeru.
Namun ia minta titipan dari teman-teman Walhi yang membawa donasi untuk membawa abu vulkanik, sejatinya untuk kenang-kenangan. Kemudian muncul ide abu vulkanik ini menjadi bahan sebuah lukisan. Saya membuat lukisan dari abu vulkanik dan sempat juga dipamerkan. (dwija putra/editor: aa candra gupta/radar bali) Editor : Hari Puspita