Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

I Wayan Apel Hendrawan, Seniman Tato Asal Sanur: Seniman Harus Kompak dan Cegah Banting Harga

Hari Puspita • Senin, 3 April 2023 | 05:33 WIB
TATO KELUARGA BERENCANA? : Tato bisa apa saja gambarnya sesuai selera pemesannya. (foto:adrian suwanto/radar bali)
TATO KELUARGA BERENCANA? : Tato bisa apa saja gambarnya sesuai selera pemesannya. (foto:adrian suwanto/radar bali)
I Wayan Apel Hendrawan mengakui perkembangan dunia saat ini  cukup pesat sekali. Bahkan hampir semua karya seniman tato bagus-bagus. Generasi muda cepat bisa menangkap dan  mempelajari tato. Mengingat  sarana prasarana pendukung juga mudah didapat.

BERBEDA dengan dulu, peralatan tato itu sangat sulit sekali didapatkan. Bahkan para tetua dulu mengenal istilah tato itu mecocok (ditusuk-tusuk). Mereka  ditato  tidak menggunakan jarum tapi dengan duri juwuk (jeruk) dan untuk warnanya menggunakan mangsi yakni warna untuk wayang kulit  yang dominan warga hitam.

Photo
Photo


Gambarnya juga identik dengan gambar pewayangan, barangkali seperti itu tren era dulu. Namun sekarang sudah tidak ada lagi menggunakan teknik tradisional seperti itu. “Sekarang equipment (peralatan) tato sudah canggih. Perkembangannya juga sangat pesat,” ujarnya.

Begitu pesatnya perkembangan dunia tato dan dilihat dari sisi bisnis menjadi suatu persaingan. Tak sedikit, para bule malah membuka usaha tato di Bali, mempekerjakan orang lokal dan dia mengontrol dari negaranya.

Selain itu dari segi harga juga bisa menjaga tidak sehat.  “Kalau saya ditato, selain Sanur Ink Tattoo saya mengembangkan beberapa studio di daerah Sanur namanya Sanur Big  Rock Tattoo sampai ada 4 studio. Memang sengaja saya bikin di Sanur untuk memproteksi owner dari luar. Kalau orang lain bergabung sulit menjaga harga, kualitas dan segala macamnya. Seperti di Kuta itu hancur-hancuran,” terangnya.

Untuk diketahui, di dunia tato Apel Hendrawan juga kerap tampil  sejumlah di even tato.

Seniman yang tinggal di Sanur ini juga selain melakukan pameran seni rupa bersama ia juga menggelar  pameran tunggal di antaranya, di Gabrig Gallery, Miami (1989), ‘Resurrection’ From Darkness into Light di Santrian Gallery, Sanur (2013), 'Resurrection II' serangkaian APEC di Nusa Dua Beach Hotel (2013), dan ‘Resurrection III’ Sabda Pertiwi di Messehalle, Hamburg, Jerman (2017) dan lainnya.

Baru-baru ini ia juga mengeksplorasi karya lukisannya menggunakan abu vulkanik. Tercetus ide melukis menggunakan abu vulkanik setelah ia mengikuti pameran lukisan di Jakarta. Dari beberapa karya ada 9 tema gunung meletus. Usai pameran karya balik ke Bali, Gunung Semeru meletus.

Akhirnya menyumbangkan tiga karya gunung dilelang dan hasilnya 100 persen didonasikan kepada  korban bencana Gunung Semeru.

Namun ia minta titipan dari teman-teman Walhi yang membawa donasi untuk membawa abu vulkanik, sejatinya untuk kenang-kenangan. Kemudian muncul ide abu vulkanik ini menjadi bahan sebuah lukisan. Saya membuat lukisan dari abu vulkanik dan sempat juga dipamerkan. (dwija putra/editor: aa candra gupta/radar bali) Editor : Hari Puspita
#seni tato di Bali #seniman tato Bali #tato Bali #seni rajah badan