DENGAN senyum merekah, Kadek mengaku, awalnya banyak firasat-firasat. ’’Sempat mimpi di Sari Club kejatuhan batu yang begitu besar. Ini tiga hari sebelum kejadian, dan banyak temen- temen kerja yang biasanya ceria, mendadak murung, nangis sendiri,’’ kisahnya.
Tak hanya itu. ’’Yang pelit jadi nggak pelit. Tapi, saya nggak ngeh bakalan ada kejadian yang besar ini (Bom Bali I, Red),’’ sambungnya.
Sampai malam kejadian, Kadek kebetulan dapat shift kerja siang, mulai kerja jam dua (14.00), kerja sebagai mana mestinya, bersih-bersih di semua areal bar, sambil set up kursi dan meja. ’’Sampai akhirnya, sekitaran jam lima sore, ada beberapa tamu yang mau masuk awal. Biarpun bar belum ready, tapi mereka maksa masuk, dengan alasan mau merayakan kemenangan salah satu Team AFL (Australian Football League),’’ urainya.
Dan dari managemen Sari Club, membolehkan mereka masuk lebih awal, tanpa harus menunggu jam buka.
Jam enam sore (18.00), Kadek selesai bekerja bersih-bersih, bersiap untuk ke kontrakan untuk mandi dan ganti baju buat kerja malam. ’’Saya meninggalkan bar ke kontrakan dengan situasi bar yang sudah ramai, tidak seperti biasanya, yang biasanya ramai sekitaran jam 10 ke atas,’’ kenangnya.
Kemudian kembali bekerja ke bar pukul 19.30. Begitu sampai, melihat bar sudah hampir penuh dengan orang, atau mungkin pas hari itu hari Sabtu atau malam Minggu. Kadek ngaku, sedikit pun tidak ada perasaan apa-apa selain bekerja.
’’Malam itu, saya dapat section di samping utara, tepatnya sebelah utara dari bar tengah atau bar central. Saya masih ingat sekitaran jam 10.30 malam,’’ tambahnya.
Dia berada di kasir bar tengah, untuk mengambil uang kembalian dari tamu yang duduk di meja section-nya. Maklum, karena ramai dan kasirnya sendirian, jadinya agak lama nunggu giliran. Pada saat menunggu uang kembalian di kasir, di samping Kadek kebetulan duduk sekuriti dari Polisi Militer (PM) yang bertugas setiap hari di sana. Namanya, Bimo (almarhum).
’’Nah, sambil saya nunggu uang kembalian, sempat ngobrol sedikit dengan beliau, sampai kurang lebih jam 10.20, terdengarlah ledakan pertama yang di Paddy’s Pub yang saya dengar tak lebih dari suara petasan,’’ jelasnya.
Tamu-tamu yang ada di Sari Club bukanya ngeh bakalan ada ledakan kedua. Mereka malahan bersorak, dikira ada yang nyalain petasan.
Sampai sekitaran lima menit setelah ledakan pertama, Bimo seperti mencium bau mesiu, dan Kadek pun menciumnya juga. ’’Mungkin karena insting militer beliau (Bimo, Red) yang menyadari akan ada bahaya. Nah, di sini beliau dengan kuat menarik tangan saya dan mengatakan kepada saya, Kadek lari.....dek, lari....lari!,’’ pintanya.
Kadek masih bingung, kenapa disuruh lari, dengan tanpa ada apa-apa lagi, Kadek akhirnya nurut lari dengan Bimo. Yang agak susah lari kencang karena banyak orang.
Sekitaran dua menit setelah lari, baru mau nyampe gerbang utama, bom yang di depan Sari Club meledak. ’’Saya sempat melihat beliau (Bimo, Red) kayak dihantam sesuatu, dan menggeliat, dan saya pun merasakan ada sesuatu menghantam kepala saya, sampai saya tidak sadarkan diri,’’ papar Kadek.
Tiba-tiba, kadek merasakan panas yang luar biasa, dan sadar, tapi belum bisa bangun, karena banyak sesuatu yang menindihnya.
Kemudian Kadek berinisiatif untuk menyingkirkannya, begitu bangun, melihat di sekitarnya hanya api yang besar di mana-mana. Sampai-sampai kadek tidak melihat jalan keluar, dan harus ke mana. Kemudian melihat tumpukan krat-krat bir yang kosong. ’’Nah, di situ saya susun seperti tangga, biar bisa manjat tembok yang di sebelah utara. Setelah saya berhasil naik ke tembok, dari sini saya melompat ke atap pertokoan yang ada di sebelah utara Sari Club, yang keadaanya juga hancur lebur,’’ bebernya.
Setelah itu, melompat lebih kurang lima meter dari atap sampai ke jalan. Di sinilah mungkin lututnya sempat dislokasi tulang lutut, tapi tidak mersakan sakit waktu itu. Karena saat itu, pikirannya harus pergi dari sini sejauh-jauhnya.
Sejauh ini, kadek belum sadar bahwa itu bom yang meledak. Saat itu, di pikirannya hanya gardu listrik di depan SC yang meledak. Luka-luka yang diingatnya waktu itu, baju hampir semua lengket di badan karena terbakar, rambut terbakar, pecah tulang tempurung kepala depan. ’’Dan mohon maaf, pakaian yang tersisa di badan cuma celana dalam,’’ ujarnya.
Setelah berhasil keluar, segera menuju Jalan Legian. Melihat orang-orang yang jauh lebih parah darinya. Ada tangan putus, kaki putus, ada yang terbakar seluruh tubuh, dan banyak melihat orang yang bergelimpangan di trotoar jalan. Nggak jelas, mereka masih hidup atau meninggal. Kadek tetap berjalan ke utara sambil minta tolong ke orang-orang. Tapi, tidak ada satu pun yang menolong.
Sampai akhirnya tiba di Mama’s Restaurant. Di sanalah ada bapak-bapak yang mau menolongnya, dan beliau mau mengantarkan ke rumah sakit. Karena melihat luka di kepalanya banyak mengeluarkan darah, Kadek menolak diajak ke rumah sakit. Tapi, Kadek minta diantar ke rumah kontrakan.
Singkat cerita sampai dikontrakan, Kadek sudah ditunggu teman-teman yang lain, yang selamat, seperti Arnol, Agus Tasi, Ayu Sila, dan tuan rumah yang sudah tak henti-hentinya menangis, karena mengira Kadek tidak selamat.
Kemudian teman-temannya mencari taksi, untuk mengantarkan ke rumah sakit. Dari informasi sopir taksi, dilarang pergi ke Rumah Sakit (RS) Sanglah, ataupun dekat-dekat dengan Kuta, karena hampir semua rumah sakit sudah penuh.
Maka, dibawalah ke Rumah Sakit Surya Husada.
Begitu tiba di rumah sakit, Kadek adalah yang pertama dapat pertolongan di antara mereka berempat. Karena dokter bilang waktu itu, Kadek sudah kritis, karena banyak kehilangan darah. Di rumah sakit baru merasakan dingin yang luar biasa, dan sempat tidak ingat apa-apa lagi. ’’Sampai akhirnya, sadar sendiri dan begitu sadar semua luka di badan, kepala dan lain-lain, sudah diperban, dan kepala depan jahitan dalam, 12 jahitan, jahitan luar 17,’’ rincinya.
Sikunya dapat 12 jahitan, lengan kanan tujuh jahitan. Ketika sadar, banyak orang yang datang. ’’Baik dari kepolisian, Gubernur Bali, waktu itu Bapak Dewa Berata, teman-teman wartawan, dan para relawan-relawan, baik dari Indonesia maupun relawan dari luar,’’ sambungnya.
Di sinilah, diinfokan, telah terjadi ledakan bom mobil. ’’Saya waktu itu masih belum bisa mendengar secara jelas, karena pendengaran masih tidak bagus, dan sampai saat tulisan ini ditulis, telinga saya masih mendengung,’’ akunya.
Singkat cerita, lebih dari dua minggu Kadek di RS Surya Husada, dan akhirnya memilih untuk pulang paksa, karena takut sekali berada di Denpasar, begitu tahu itu bom.
Kadek ngaku, ingin tinggal di kampung demi keamanan. Sebetulnya saat itu, maunya dikirim ke RS Sanglah, biar para korban bom dirawat jadi satu di Rumah Sakit Sanglah. Tapi, karena Kadek ngotot harus pulang, maka diperbolehkan rawat jalan. Atau dokter yang akan ke kampung saat itu, untuk merawat.
Kurang lebih perawatan luka dan lainnya, memakan waktu setahun. Maka, setahun lebih harus pulang pergi dari Singaraja ke Denpasar pulang pergi (PP).
Hingga akhirnya, dikatakan sembuh sekitar akhir 2003, kemudian kembali ke Denpasar untuk mencari pekerjaan baru. Sampai akhirnnya dapat pekerjaan di daerah Jimbaran, mulai kerja Februari 2004 sampai September 2004
Karna saat itu dapat pekerjaan di kapal pesiar dan memutuskan untuk berlayar sampai 2013.
’’Kemudian saya berhenti kerja di kapal dan balik ke Indonesia. Kegiatan sekarang, saya bekerja sebagai freelance tour driver dan guiding,’’ pungkasnya. (djoko heru setiyawan) Editor : Hari Puspita