PEMASANGAN LED videotron adalah warisan dari kepemimpinan wali kota Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra yang diresmikan tahun 2018. LED itu berada di tempat panggung terbuka yang diperuntukkan untuk ruang-ruang publik anak muda.
Menurut Kepala Dinas Komunikasi Informasi dan Statistik (Diskominfos) Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Adhi Merta, masih terus dipakai masyarakat, baik komunitas maupun organisasi yang ingin membuat acara. Syarat meminjamnya mudah, hanya menyampaikan surat saja dan tanpa biaya. “Terakhir ada yang dari LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) minjam, mereka melakukan permohonan, permohonan ini penting karena ada petugasnya untuk mengoperasikan,” terangnya.
Videotron LED sempat mengalami kerusakan saat situasi pandemi. Perawatannya memakai anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kota Denpasar.
Pembangunannya juga dari APBD Kota Denpasar yang dibangun khusus untuk kreativitas di bidang seni visual dan pertunjukan melalui fasilitas Videotron Amphitheater Youth Park di Taman Kota Lumintang.
Fasilitas amphitheater dibangun untuk menunjang penggiat seni yang kesulitan mencari tempat untuk memutar film.
Amphitheater ini dibangun satu paket dengan pembangunan Youth Park, sekaligus merespons seniman serta komunitas di Kota Denpasar yang menginginkan aktualisasi kegiatan mereka. Dilengkapi dengan panggung terbuka tempat duduk dengan kapasitas ratusan orang ini, masyarakat bisa memanfaatkan untuk menggelar kegiatan seni budaya dan berbagai inovasi.
Namun, sepertinya taman pemuda ini mulai ditinggalkan sejak pembangunan gedung budaya Dharma Negara Alaya (DNA) selesai. Sebab, kini lebih banyak kegiatan anak muda seperti pemutaran film dilaksanakan di gedung DNA. Karena di gedung DNA memiliki fasilitas yang lebih memadai dan berada di dalam ruangan. “Masih ada yang pakai tercatat baru dua kali kegiatan,” ucap Gus Alit-sapaan akrabnya.
Dia menambahkan, ide awal pembangunan amphitheatre tersebut tempat yang bisa digunakan untuk menggelar kegiatan pentas teater, seni budaya dan dalam menampilkan informasi-informasi tentang perkembangan Kota Denpasar. Meliputi informasi pelayanan publik, sejarah, budaya, pendidikan, hiburan masyarakat serta menampilkan film-film hasil karya kreativitas dari komunitas-komunitas anak bangsa. Yang tentunya dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat yang bersifat nonkomersial. “Kami menyediakan tempat tersebut guna memberi ruang bagi talent-talent muda kreatif yang tentunya dapat menunjang ekonomi kreatif di Kota Denpasar. Dengan adanya amphitheater tersebut, kami berharap kualitas perfilman dan seni budaya di kota Denpasar akan terus meningkat dan berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan yang datang ke Kota Denpasar,” ujar Gus Alit.
Tersedia juga satu set videotron yang dilengkapi sarana pendukung yang dapat dipergunakan sebagai sarana informasi. Sehingga tercapai informasi dan komunikasi publik secara dinamis, cepat, terukur dan tentunya lebih menarik dengan konten yang bisa diganti setiap saat.
Selain itu, pengoperasian dengan sistem komputerisasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi mampu membuat tayangan program menjadi fleksibel dan dapat dikontrol melalui ruang Damamaya.
Sayangnya, saat ini dioperasikan sesuai permintaan dari perangkat daerah ataupun lembaga terkait. “Artinya tidak terus menerus running karena sifatnya seperti panggung pertunjukkan,” tandasnya. (ni kadek novi febriani/ib indra prasetia/radar bali)
Editor : Hari Puspita