SEPAK terjang dunia arranger musik di Bali tak bisa lepas dari nama musisi lawas seperti Yong Sagita, almarhum Jimmy Sila'a, dan Eko Wicaksono. Setelah itu mulai bermunculan arranger lainnya. Salah satunya I Made Mudi Artha yang populer disapa Dek Artha .
Dek Artha mulai bermain musik saat zaman SMA, tak pernah terbayang jika dirinya kini menjadi salah satu penata musik berbahasa Bali. Sebab, saat masih berseragam putih abu, ia sering memainkan musik ber-genre rock, seperti Metallica dan lainnya.
Awal mula ia membawakan musik Bali adalah ketika ada sebuah band di Denpasar yang akan main di kampungnya. Dek Arta yang saat itu memiliki grup band dengan aliran ska, ingin jadi band pembukannya. Namun, syarat yang diberikan panitia saat itu bandnya harus membawakan enam lagu berbahasa Bali dengan karya sendiri.
Hal itu pun disanggupi bersama rekan satu bandnya. Singkat cerita, semua itu mampu dilakukan dan Dek Artha bersama bandnya berhasil tampil sebagai band pembuka kala itu. Cerita itu pun berlanjut saat Dek Artha yang saat itu megang gitar usai manggung. Salah satu personel band dari Denpasar mengajak dirinya ke Denpasar untuk belajar di studio rekaman. “Kalau mengenal alat rekam ini sudah sejak tahun 1999,” katanya saat ditemui di kediamannya sekaligus studionya di Jalan Sedap Malam, Denpasar.
Tawaran itu awalnya membuat Dek Arta bingung, karena dirinya pun juga ingin fokus kuliah dengan mengambil jurusan S1 Pariwisata. Ia memilih untuk menyeimbangkan keduanya dan cukup dalam rentang waktu 1999-2000 ia mampu mempelajari alat rekaman tersebut.
Di sela-sela bekerja di toko musik dan sesekali ikut manggung bersama Punk Kuala Band khusus mengiringi Widi Widiana, penyanyi pop Bali yang sedang naik daun kala itu.
Proses cukup panjang dilaluinya, Dek Arta akhirnya dipercayai oleh salah satu penyanyi Bali, yakni D’ Antony untuk menggarap lagu berjudul Depang Beli Pedidi. Secara mengejutkan, lagu yang diarransemen oleh Dek Arta itu meledak di pasaran.
“Saya sendiri tak menyangka. Dulu saat menggarap lagu Depang Beli Pedidi dibayar Rp 300 ribu. Setelah meledak, diminta menggarap album Boya Je Romeo (D’Antony) dan dibayar Rp 3 juta,” kenang suami dari penyanyi pop Bali, Ayu Wiryastuti ini.
Sukses dengan arransemen yang meledak di pasaran, kemampuan Dek Artha kian dilirik banyak orang. Salah satunya adalah pihak Januadi Record. Tahun 2003, Dek Artha menjadi penata musik lagu-lagu milik penyanyi Bali lainnya, yakni Ketut Asmara dan Ari Kencana. Selain dua penyanyi itu, lagu Somahe Bebotoh yang dibawakan oleh Dek Ulik pun digarapnya dan meledak di pasaran.
Prestasi Dek Arta kian meroket dan ia dikontrak di Januadi Record mulai dari tahun 2005 – 2010 lalu. Setelah kontraknya selesai, pada tahun 2012 memilih untuk membuka studio rekaman sendiri yang diberi nama Harta Pro.
“Awal-awal buka, saya beli alat nyicil. Beli komputer, aplikasi (DAW) Cubase, speaker sederhana. Ya, habis sekitar tiga puluh juta lah waktu itu,” kata bapak tiga anak ini.
Di tahun 2015 ia mampu memperbarui alatnya untuk standar studio. Biaya investasi alat mencapai Rp 400 juta. Namun, sederetan penyanyi Bali lawas maupun pendatang baru memanfaatkan jasa Dek Artha untuk membikin garapan musik. “Kalau di saya, ya harganya untuk saat ini Rp 2-3 juta per lagu,” jelasnya. [wayan widyantara/editor : made dwija putra/radar bali]
Editor : Hari Puspita