Bali identik dengan pariwisata. Bahkan perekonomian Bali dibentuk sektor pariwisata, terutama pariwisata masal. Tatkala pariwisata masal semakin ramai, ada alternatif lain yang layak dicoba. Yakni desa wisata. Wisata ini jadi oase saat pariwisata massal mulai mencapai titik jenuh.
HAMPARAN padi menguning. Sejumlah ibu tampak sibuk menuai padi. Tak jauh dari aktivitas para ibu, satu keluarga terlihat berjalan-jalan santai melintasi jogging track yang telah disediakan. Di sudut lainnya, dua remaja tengah sibuk mencari lokasi yang cocok untuk mengambil foto estetik agar bisa diunggah ke media sosial.
Di sudut lain, Dadong Buntik juga tengah duduk di tepi jogging track, sembari menjual berbagai hasil bumi. Ada terong, kentang, kedelai, timun, pepaya dan pisang. Buntik mengaku hasil bumi itu ditanam di areal persawahan Kesiman Kertalangu.
Saban hari dia berjalan dari rumahnya yang terletak di Banjar Kertajiwa, Kesiman. Tak jauh dari lokasi jogging track. “Saya biasa jualan pagi dan sore. Kalau dari sore dimulai pukul 15.00,” ujarnya.
Jumat (5/8) sore, jogging track di Desa Wisata Kesiman Kertalangu sedang ramai pengunjung. Mayoritas adalah keluarga dan remaja yang menikmati suasana senja. Lokasi yang juga dikenal dengan sebutan Desa Budaya Kertalangu itu menjadi oase warga kota. Mereka melepas penat setelah sepekan penuh sibuk dengan aktivitas pekerjaan.
Desa budaya yang berlokasi Jalan By Pass Ngurah Rai itu, memang menonjolkan wisata edukasi dan ekowisata. Konsepnya sederhana saja. Lahan persawahan seluas 80 hektare ditata sedemikian rupa. Jalan akses pertanian dijadikan jogging track. Lokasi itu kemudian diberi nama Teba Majalangu.
Alhasil pengunjung berdatangan. Sebagian besar memanfaatkannya untuk olahraga sembari menikmati pemandangan sawah. Harga tiketnya pun murah meriah. Hanya Rp 2.000 per orang.
Lama kelamaan fasilitas di sana terus bertambah. Diantaranya ada warung tekor, kolam untuk berenang dan tempat memancing. Tidak hanya itu, ada bangunan tempat baru bermain golf sebagai sarana sport tourism.
Manajer Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kerta Sari Utama Kesiman Kertalangu, Made Semara Putra menjelaskan, lahan sawah yang dikelola menjadi kawasan wisata merupakan milik Subak Padanggalak. Pembuatan ekowisata ini diprakarsai oleh mantan kepala desa setempat dan disetujui Wali Kota Denpasar yang saat itu dijabat Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga.
Dari lahan seluas 80 hektare, sepuluh persen diantaranya digunakan sebagai kawasan ekowisata. Setelah melalui serangkaian penataan, kawasan itu akhirnya ditetapkan menjadi Desa Budaya Kertalangu pada tahun 2008.
Mengawali pembentukan desa wisata bukan perkara mudah. Pihak desa harus memberikan pemahaman kepada para petani. Mengingat sebagian lahan mereka digunakan untuk kawasan wisata. Setelah serangkaian sosialisasi, akhirnya para petani setuju lahan sawah mereka dipakai wisata edukasi. Pengelola sepakat para petani mendapatkan dampak baik dan juga asas manfaat adanya desa wisata ini dalam bentuk kontribusi.
“Kami menyisihkan sebagian pendapatan untuk kelompok tani. Karena desa wisata kami itu konsepnya wisata alam, edukasi dan budaya, serta konservasi. Kami memberikan itu kepada petani karena keterlibatan mereka dan masyarakat betul-betul aktif,” terang Semara.
Semenjak resmi dibuka, Teba Majalangu itu ramai dikunjungi wisatawan domestik khususnya pelajar yang ingin belajar bertani. Mereka tidak hanya belajar tata kelola pertanian Bali, tapi juga kehidupan masyarakat Bali serta kerohanian.
Pengunjung diajarkan membuat laklak (jajanan Bali) dan teh herbal, sarana upakara seperti canang dan gebogan. Selain itu, akan dikenalkan tumbuhan dan hewan. Pengunjung juga diajak merasakan sensasi membajak sawah. Setelah mengenal kehidupan petani dan masyarakat Bali, pengunjung akan diajak melihat museum di tempat tersebut.
Dengan konsep itu, tingkat kunjungan meroket. Pada tahun 2022 jumlah pengunjung di lokasi tersebut mencapai 139 ribu orang. Dalam sebulan rerata tingkat kunjungan mencapai 13 ribu orang. Kunjungan itu didominasi wisatawan domestik. “Kalau mancanegara paling sekitar 10 persen,” ujarnya.
Lebih lanjut Semara mengungkapkan, saat ini tantangan utama dalam pengelolaan adalah ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM). Saat ini pengelolaan wisata hanya melibatkan 14 orang saja. Sementara jumlah pengunjung mencapai belasan ribu. Dampaknya Semara harus menjadi manajer yang serba bisa. “Saya yang langsung jadi admin atau marketing juga,” celetuknya.
Sementara itu Perbekel Kesiman Kertalangu, I Made Suena mengungkapkan, keberadaan konsep desa wisata itu membuat lahan cukup terjaga. Ia mengklaim sejak 2008 hingga kini tak banyak terjadi alih fungsi lahan.
Saat ini, kata Suena, memang ada beberapa bangunan permanen. Namun hal itu sudah sesuai aturan. Sebab kawasan bagian barat di Desa Budaya Kertalangu adalah zona hortikultura. Selain itu diizinkan ada bangunan gedung maksimal dua lantai, asalkan bukan digunakan untuk hunian.
“Alih fungsi lahan yang terjadi sifatnya minor karena ada kerja sama yang baik dari masyarakat pemilik lahan dan warga Kesiman Kertalangu dan serta kepedulian pemerintah desa yang masih menghormati dan konsisten,” terangnya. [editor/eka prasetya]
Editor : Hari Puspita