Semakin ramai jumlah pengunjung, praktis potensi masalah juga makin besar. Kini masalah yang dihadapi Desa Budaya Kertalangu adalah sampah. Masih belum ada jurus jitu untuk mengatasinya.
SEBETULNYA masalah ini terbilang klasik. Namun tak mudah dituntaskan. Kendati fasilitas tong sampah telah tersedia di sejumlah titik, tapi masih saja ada sampah plastik, bekas wadah mie instan, maupun bekas kemasan makanan dan minuman yang berserakan.
Disamping itu minimnya fasilitas toilet membuat pengunjung merasa kurang nyaman. Diah adalah salah satu warga yang kerap berkunjung ke Desa Wisata Kertalangu. Wanita asal Batubulan, Gianyar itu mengaku hampir tiap pekan selalu menyempatkan diri melancong ke Kertalangu bersama keluarga. Sekadar berjalan-jalan melepas penat saat senja.
“Sampah masih ada. Selain itu kamar mandi masih kurang. Jadi kalau ramai itu rasanya kurang nyaman,” ujarnya.
Disamping itu ia juga mempertanyakan tambahan karcis yang dikenakan di luar tiket masuk. Ia mengaku dahulu hanya dikenakan tiket masuk saja, tapi belakangan dia juga dikenakan parkir dari fasilitas golf yang ada di kawasan itu. "Dulu nggak kena (parkir) hanya membayar per kepala saja,” katanya.
Manajer BUMDes, Semara Putra mengaku kebersihan saat ini masih jadi masalah yang dihadapi. Menurutnya sampah bukan dihasilkan pengunjung. Melainkan datang dari kawasan hulu. Sementara Subak Padanggalak berada di hilir. Praktis sampah-sampah terbawa ke subak.
“Tentunya sampah-sampah dari hulu plastik banyak sekali masuk ke kawasan pertanian. Dengan ada kerja sama dengan petani minimal mengurangi sampah plastik yang sebelumnya kawasan ini kotor dan jorok. Itu keterlibatan petani setiap minggu melakukan bersih-bersih kawasan,” terangnya.
Menurutnya pengelola juga terus berencana menambah fasilitas, agar pengunjung semakin nyaman. Hanya saja penambahan fasilitas harus dilakukan secara bertahap. Agar tidak mengganggu lahan pertanian yang jadi aktivitas pokok di sana. [editor:eka prasetya]
Editor : Hari Puspita