Buleleng juga makin menggeliatkan desa wisata. Desa wisata diyakini jadi strategi yang efektif. Alasannya, Buleleng tidak bisa mengandalkan pariwisata masal karena terkendala dengan aksesibilitas.
SAAT ini Buleleng punya 75 desa wisata. Desa wisata yang tersohor adalah Desa Sudaji di Kecamatan Sawan dan Desa Pemuteran di Kecamatan Gerokgak.
Desa Sudaji misalnya meraih predikat runner up pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun lalu, sementara Desa Pemuteran meraih predikat desa wisata inspiratif pada tahun 2021 sekaligus meraih predikat ASEAN Tourism kategori community-based tourism.
Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara mengatakan, desa wisata punya potensi yang besar. Bisa dibilang desa wisata masuk dalam wisata minat khusus. Meski begitu, tingkat kunjungan cukup tinggi.
“Memang tidak ramai seperti mass-tourism. Tapi, tingkat kunjungan stabil dan kontinu. Malah durasi tinggalnya cukup lama,” kata Dody.
Ia mencontohkan Desa Wisata Sudaji. Dari sisi kunjungan wisatawan domestik, terbilang rendah. Namun, dari sisi kunjungan wisatawan mancanegara sangat tinggi.
“Mereka suka ke Sudaji karena tenang, sepi, dan sunyi. Jadi, kesunyian itu menjadi daya tarik. Mereka trekking ke sawah-sawah, kemudian yoga. Hal itu justru menarik,” ujarnya.
Sementara Desa Pemuteran dikenal dengan potensi terumbu karang. Program adopsi dan konservasi terumbu karang menarik kunjungan wisatawan mancanegara. Mereka mengeksplorasi potensi bahari yang ada di sana.
Lebih lanjut Dody mengatakan, pihaknya kini terus mendampingi desa-desa wisata yang ada di Bali Utara. Harapannya semakin banyak desa-desa wisata yang lolos ADWI. Kini, pihaknya berusaha menguatkan sejumlah faktor. Di antaranya digitalisasi dan kreativitas, CHSE, toilet, souvenir, homestay, daya tarik pengunjung, dan kelembagaan. (eps)
Editor : Hari Puspita