Kabupaten Jembrana bisa dibilang jauh dari hingar bingar pariwisata. Namun sebenarnya pariwisata di Bali Barat berjalan dalam senyap. Wisata religi jadi motor penggerak kunjungan wisatawan di sana.
GEREJA dengan arsitektur ukiran Bali berdiri megah. Gereja itu adalah Gereja PNIEL, bagi pemeluk agama Kristen Protestan. Gereja itu terletak di Desa Blimbingsari, Kecamatan Melaya. Sebuah desa yang memiliki penduduk pemeluk agama Kristen yang cukup dominan.
Arsitektur gereja yang begitu unik, ternyata menjadi daya tarik tersendiri. Setiap bulan gereja ini selalu jadi rujukan kedatangan para peziarah. Mereka ingin memanjatkan doa dan menjalani ibadah dari lokasi ini.
Kunjungan wisatawan akan makin bertambah jelang hari-hari besar umat kristiani. Sebut saja saat Paskah maupun Natal.
Selain di Desa Blimbingsari, kondisi serupa juga terlihat di Desa Ekasari, Kecamatan Melaya. Di sana terdapat Gereja Hati Kudus bagi pemeluk agama Katolik. Gereja ini juga penuh dengan arsitektur ukiran Bali. Bahkan dalam proses ibadah dan khotbah juga menggunakan bahasa Bali. Hal itu ternyata menarik Masyarakat melakukan wisata religi, merasakan ibadah di sana.
Kedua desa di Kecamatan Melaya itu merupakan desa wisata di Kabupaten Jembrana. Saat ini ada tujuh desa wisata di Bali Barat. Masing-masing Desa Wisata Blimbingsari, Ekasari, dan Yehembang Kangin yang masuk kategori desa wisata berkembang. Kemudian Desa Wisata Gumbrih, Medewi, Perancak, dan Manistutu yang masuk desa wisata rintisan
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negara menjelaskan, Jembrana punya 51 desa/kelurahan. Namun belum semuanya siap jadi desa wisata. Diharapkan tiap tahun ada desa yang siap menjadi desa wisata, sesuai dengan potensinya masing-masing.
Menurutnya desa bisa mengeksplorasi berbagai potensi yang ada. Baik itu potensi wisata alam, wisata buatan, dan maupun kerajinan. Dengan potensi yang unik, diharapkan dapat menarik kunjungan wisatawan.
“Desa wisata saat ini sedang tren, yang berkembang secara nasional. Bahkan desa wisata ini menjadi andalan promosi wisata,” Sapta Negara yang didampingi Kepala Bidang Pariwisata I Komang Gede Hendra Susanta.
Ia mencontohkan aktivitas wisata di Desa Blimbingsari dan Desa Ekasari. Aktivitas pariwisata di wilayah itu berbasis kerakyatan. Wisatawan berinteraksi cukup dekat dengan masyarakat. Sehingga memberikan pengalaman baru bagi wisatawan.
“Simpelnya, desa wisata ini bagaimana masyarakat menjadi pelaku, bukan mass tourism, dimana masyarakat menjadi penonton,” jelasnya.
Pihaknya pun berharap desa wisata dapat menggerakkan ekonomi kerakyatan. Ilustrasinya hasil pertanian bisa dijual kepada restoran yang ada di desa setempat. Restoran menyerap pekerja dari masyarakat lokal. Jangka panjang, restoran juga membayar pajak pada pemerintah daerah. [selesai/editor:eka prasetya]
Editor : Hari Puspita