Untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk hak cipta, sebaiknya dibangun LMK di Bali khusus untuk musisi Bali. Karena Lembaga ini yang bisa membantu menyalurkan hak ekonomi kepada para pencipta lagu.
KARYA-KARYA yang akrab di telinga itu bisa terlantun di mana saja. Sering kali terjadi lagu mereka diputar di mana-mana seperti hotel, restoran bahkan tempat karaoke tapi nasib pencipta secara ekonomi memprihatinkan.
“Karaoke lebih dulu ada kan dibandingkan platform digital, misal datang sama teman-teman ke Karaoke Inul ada lagunya mereka dan mereka tidak tahu. Apa rage sing maan (apa kita tidak dapat),” celetuknya.
Rahman meminta pemerintah untuk bisa dibangun LMK di Bali yang bisa memberikan penghidupan untuk para pencipta. Hal ini juga menjadi penyemangat dalam berkarya karena pencipta bisa mendapatkan tambahan pendapatan meski tidak menelurkan karya baru.
Namun karena karyanya sebelumnya sudah didaftarkan ke lembaga LMK atau publisher jadi mendapat penghasilan.
“Dengan adanya sistem publisher dan LMK bisa dibentuk di Bali otomatis ada tambahan walau tidak banyak rutin ini reguler bisa misalkan setiap enam bulan ini sekian ada pemasukan diam-diam tanpa berkarya baru lagi. Itu bagusnya kalau sudah ada yang memikirkan sehingga kesejahteraan penyanyi bisa terwujudkan. Kadang-kadang penyanyi lebih banyak popular dan pencipta dapat manfaatnya,” terang.[ni Kadek novi febriani/editor: made dwija putra]
Editor : Hari Puspita