Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Liku-liku Krematorium di Bali(2): Di Kerobokan Bantu Jenazah Telantar

Ni Made Ari Rismaya Dewi • Senin, 18 September 2023 | 01:05 WIB
ilustrasi (eveplans/JPG)
ilustrasi (eveplans/JPG)

Krematorium Perabuan Dharma Kerthi Pura Dalem Kerobokan menjadi pilihan warga Badung maupun masyarakat dari penjuru Bali. Kepala Perabuan Dharma Kerthi Pura Dalem Kerobokan, I Made Sindhu Yasa memaparkan bahwa krematorium ini merupakan unit dari Yayasan Yayasan Dharma Kerthi yang dimiliki oleh Pura Dalem Kerobokan.

SEJAUH ini, krematorium tersebut  telah melalui rangkaian melaspas pada bulan April 2022 lalu dan melayani umat perdananya pada 8 Agustus 2022. Kendati demikian, proses yang dilalui pun tak mudah. Perlu waktu lima tahun untuk mencapai kesepakatan.

“Awal mulanya berdiri itu perjalanannya panjang. Sebelum diputuskan untuk dibangun, itu melalui tahapan rapat-rapat selama lima tahun,” tuturnya.

Hal ini dikarenakan penyungsung Pura Dalem Kerobokan terdiri dari 20 banjar. Oleh karenanya diperlukan waktu yang panjang mulai dari memberikan pemahan, penjelasan, hingga akhirnya ditemukan pemahaman yang sama.

“Pura Dalem Kerobokan itu penyungsungnya 20 orang, jadinya untuk mencapai kata kesepakatan dan kesepahaman terhadap pendirian krematorium itu sampai memakan waktu lima tahun,” sambungnya.

Dijelaskannya Perabuan Dharma Kethi Pura Dalem Kerobokan memiliki sejumlah program yang ditawakan. Pertama yaitu ngeseng atau membakar tanpa upakara. Program ini bisa dilakukan oleh seluruh umat, baik umat Hindu ataupun non Hindu.

Kedua, program mekingsan ring geni. Ketiga adalah program ngaben yang terdiri ngaben sendiri dan kinembulan. Keempat, program nyekah atau memukur atau ngeroras, baik sendiri ataupun kinembulan.

“Yang paling banyak dipakai atau dimanfaatkan oleh umat itu ngelanus. Ngelanus itu dari mulai ngaben langsung ngeroras atau memukur, langsung ngelinggihang,” kata Sindhu.

Selain itu, krematorium di Kerobokan ini akan menyentuh upakara Manusa Yadnya untuk metatah atau mepandes atau mesangih. Diikuti dengan program penawaran metigang sasih atau matelubulanan yang tengah dalam tahap perancangan dan kemungkinan diluncurkan pada bulan Oktober.

Keunggulan dari Krematorium Kerobokan ini juga didukung dengan lokasi Perabuan yang berada di areal setra adat, bukan berada di tanah milik pribadi.

“Pengelolaan kami dikelola oleh Tim Perabuan yang mayoritas adalah kelian adat penyungsung Pura Dalem Kerobokan. Kedua, kami juga melakukan kerja sama dengan Dinas Sosial Provinsi Bali beserta RSUP Prof. Dr.I.G.N.G Ngoerah pembakaran jenazah yang terlantar,” paparnya.

Dari segi fasilitas, proses pembakarannya menggunakan sistem tungku, sehingga meminialisir adanya polusi udara. Di lokasi juga dilengakapi free wifi, toilet yang bersih, dan suasa bale pesandekan yang nyaman. Biaya yang ditawarkan pun sangat lebih ekonomis dan irit ketimbang melakukan upakara upacara di rumah.

Meski baru beroperasi selama satu tahun, krematorium ini sudah pernah menangani dari kalangan sulinggih; Ida Rsi; ibu mertua dari Bupati Tabanan, Nyoman Sanjaya; Pemangku; hingga khalayak umum. Yang dikremasi juga dari luar Badung hingga Kabupaten Jembrana. (ni kadek novi febriani/made ari rismaya/editor : ib indra prasetia)

Editor : Hari Puspita
#kremasi #Krematorium #ngaben