Setiap hari ada saja driver ojek online (ojol) yang mangkal di salah satu sudut Gedung I Ketut Maria. Sembari menunggu orderan masuk, para “pasukan hijau” ini menikmati layanan Wi-Fi gratis yang dipasang Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Tabanan.
WIFI itu bagian sebagian kalangan telah menjadi berkah. “Dibandingkan dulu, sekarang Wi-Fi gratis di sini lumayan kenceng,” kata Made Arta, pengemudi ojol asal Banjar Dinas Angkah, Desa Angkah, Selemadeg, kepada Jawa Pos Radar Bali, Kamis (28/9/2023).
Arta tidak sendiri. Ia bersama kawan-kawan sesama driver ojol mangkal di tempat tersebut. Mereka menggunakan Wi-Fi gratis tidak hanya untuk keperluan pekerjaan semata, tapi juga untuk hiburan seperti nonton YouTube maupun main game. “Lumayan ini, bisa hemat paket internet,” ucapnya.
Layanan Wi-Fi gratis di Tabanan ini sudah ada sejak dua tahun lalu. Dia berharap Wi-Fi gratis di fasilitas publik ini bisa terus digunakan, bahkan diperluas. Sebab, internet sudah menjadi kebutuhan.
Sementara itu, Kepala Diskominfo Kabupaten Tabanan, I Putu Dian Setiawan mengatakan, Wi-Fi gratis di Tabanan ini berasal dari bantuan khusus keuangan (BKK) Provinsi Bali yang memiliki program Bali Smart Island. Dana yang diperlukan untuk semuanya Rp 3,5 miliar.
Pada 2023 ada 88 titik tambahan Wi-Fi gratis di sejumlah fasilitas umum. “Dengan penambahan kualitas koneksi internet 20 Mbps menjadi 30 Mbps untuk tiap titik layanan,” ungkap mantan Kabag Humas dan Protokol Setda Tabanan itu.
Sebelumnya di Tabanan sudah terpasang 393 titik. Dengan tambahan 88 titik, total menjadi 481 titik. “Kami berharap Wi-Fi gratis dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, untuk hal-hal positif,” pungkasnya.
Terpisah, di Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) yang terletak di kawasan Lumintang, Denpasar Utara, menjadi salah satu spot atau titik bagi pelajar maupun masyarakat untuk kumpul bareng.
Di dalamnya tersedia co-working space yang sering digunakan untuk mengerjakan tugas. Seperti yang dilakukan kelompok mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Warmadewa (Unwar) Denpasar.
Kelompok yang terdiri dari Dede Satria, Wahyu Tangkas, dan Kadek Giri ini mengaku sering menggunakan Wi-Fi gratis untuk mengerjakan tugas kampus. “(Pakai internet gratis) biar lebih hemat kuota,” kata Dede.
Penggunaan internet gratis itu tak lebih dari lima jam. Sementara selama di DNA, mereka masih menggunakan kuota internet masing-masing karena tidak mengetahui ada atau tidaknya internet gratis. Terkait dengan isu peretasan data akibat menggunakan Wi-Fi gratis, Dede tidak merasa takut karena biasanya internet yang disediakan pemerintah maupun instansi sudah terjamin.
Hanya saja layanan internet gratis lebih lambat dibandingkan dengan jaringan internet di rumah. Misalnya di kawasan kampus yang memiliki beberapa titik internet gratis, tak semua jaringannya yang lancar. Dengan makin berkembangnya area co-working space yang disediakan oleh pemerintah, mereka berharap ada penambahan Wi-Fi gratis yang dapat menunjang para pelajar untuk berkegiatan.
“Di area co-working space ini perlu, kan berguna banget. Untuk penyelenggara acara kalau ada event-event (dimudahkan),” harapnya. (juliadi/made ari rismaya dewi/dewa ayu pitri arisanti/editor: maulana sandijaya