Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ketika Demam Simbar Menggeliat di Bali (2): Sembilan Penghobi Menyabet Gelar

Made Dwija Putera • Senin, 30 Oktober 2023 | 00:00 WIB
NAIK DAUN: Platycerium Willinckii dari Bali ikut naik daun dan banyak ditemukan di rumah orang Bali dari dulu.
NAIK DAUN: Platycerium Willinckii dari Bali ikut naik daun dan banyak ditemukan di rumah orang Bali dari dulu.

Sembilan penghobi platycerium dari Bali menyabet juara internasional karena hasilnya sangat bagus. Saat ini kerap dilihat platycerium biasanya dijadikan hiasan.

 SEBELUMNYA   Willinckii jadi bahan untuk mengempukkan daging, tapi di tangan penghobi ini  dikemas dengan baik.  Gus Agung berharap ini harus serius dikembangkan karena membantu pertumbuhan ekonomi  dan juga banyak penggemarnya.

 Begitu I Ketut Santika atau yang akrab disapa Jik Ink, pemilik Platynesia yang terletak di Jalan Tirta Tawar nomor 21 Banjar Kutuh Kaja, Petulu, Ubud, Gianyar ini telah mengoleksi tanaman ini sejak tahun 2020 lalu.

Selain jual beli, dia juga kerap terlibat dalam beberapa kontes platycerium. Menurutnya, booming-nya platycerium ini puncaknya sejak tahun 2022 lalu hingga sekarang.

“Tapi saya main dari tahun 2020. Ada pemain lama juga ada yang 10 sampai 20 tahun lalu. Puncaknya sekarang tahun 2023 dan banyak kontes. Dari 18 jenis di dunia,” katanya.

Menurutnya, dari sebanyak 18 jenis platycerium di dunia, dirinya sudah mengoleksi semua jenis tersebut. Sebagai seorang kolektor dan penghobi, dia mempelajari betul jenis-jenisnya.

Dikatakan bahwa dari 18 jenis yang ada di dunia, 7 di antaranya berada di Indonesia.

Spesies-nya berada di Kalimantan dikenal dengan platy Ridleyi. Di Papua yang populer dengan Wandae yang kian menjamur di Bali dan tanah air. Begitu juga di Sulawesi dengan jenis Grande dan masih banyak jenis lainnya.

Sementara itu, Bali sendiri memiliki jenisnya sendiri yakni Willinckii. Jenis ini sudah banyak ditemukan di rumah orang Bali sejak lama. “Sementara untuk jenis hybrid atau mutasi itu kebanyakan didatangkan dari Thailand dan Taiwan,” ungkapnya.

Dijelaskan, bahwa cuaca di Bali sendiri sangat mendukung untuk perawatan dan budidaya platycerium. Apalagi di beberapa lokasi ketinggian seperti Ubud atau Bangli. Teknik perawatannya di mana media platycerium harus lembab terus menerus. Mengenai harga di Bali bervariasi. Jika platycerium  cabutan dari alam liar, mungkin hanya berkisar puluhan ribu sampai ratusan ribu.

Namun jika platycerium tersebut hasil mutasi atau budidaya, rawatan maka harganya bisa menjadi mahal.

“Yang rawatan itu sehat karena perawatan. Harganya mahal. Dan juga yang didatangkan dari luar negeri. Yang perawatan harganya sampai puluhan juta. Bahkan ada yang Rp10 hingga Rp30 juta,” imbuhnya. (ni kadek novi febriani/marcelus pampur/editor: made dwija putra)

Editor : Hari Puspita
#paku tanduk rusa #penghobi tanaman