Tanaman ini ada beragam jenis. Juga beragam banderol harga. Dari yang ribuan hingga berjuta-juta harganya.
SIMBAR ini berasal dari beragam daerah. Seperti Platycerium Wandae dari Papua yang paling diminati serta ekonomis dari kisaran Rp 50 ribu hingga Rp200 ribu.
Selain itu juga ada jenis Platycerium Coronarium dan Platycerium Grande dari Sulawesi; dan Platycerium Ridleyi dari Kalimantan. Simbar yang paling murah berkisar di harga Rp50 ribu, yakni jenis cabutan yang paling kecil dan belum dibentuk. Sementara simbar termahal berkisar Rp4,5 juta yang sudah dirawat hingga tiga tahunan. Ada juga spesies Platycerium Panama asal Panama dan Platycerium Elephantotis asal Afrika. Namun keduanya tak langsung didatangkan dari luar negeri, tetapi dari perkembangbiakan yang anakannya sudah beredar di Bali. Ia juga menjual jenis hybrid atau silangan pohon. “Yang lokal juga ada. Di Bali ada Platycerium Willinckii atau simbar menjangan. Pada dasarnya karena perawatannya kurang, mereka kurang menarik,” terangnya.
Kadek Oka, salah satu seorang pengusaha tanaman, asal Desa Bumbungan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung menjelaskan simbar dibagi atas dua jenis, yakni simbar hybrid dan simbar SP.
Simbar hybrid memiliki ratusan jenis lantaran merupakan persilangan. Sementara simbar SP terdiri dari 18 jenis. “Simbar asli Bali ada satu, yakni simbar menjangan. Tetapi itu masih rancu, sebab di seluruh Indonesia ada. Biasanya banyak ditemukan di pohon-pohon di Bali. Harganya kisaran Rp 35 ribu -Rp1,5 juta,” terangnya.
Dijelaskannya, simbar yang dia jual banyak didatangkan dari Papua, Gorontalo, Kalimantan, dan Bogor. Selain itu ada pula yang didatangkan dari luar negeri. Hampir semua jenis simbar dijual dengan harga yang bervariasi, mulai Rp50 ribu-Rp 24 juta pernah dia jual.
“Yang paling laris itu simbar Wandae. Harganya ada yang mulai Rp50 ribu sampai yang termahal pernah saya jual Rp 24 juta. Banyak yang suka Wandae karena harganya yang murah dan bentuknya yang bagus,” katanya.
Menurutnya simbar merupakan tanaman yang mudah beradaptasi. Apalagi dengan kondisi Indonesia yang hanya memiliki dua cuaca, yakni hujan dan panas. Sehingga untuk merawat simbar tidak susah. Simbar hanya perlu disiram di pagi hari sebab bila terlalu sering disiram akan membusuk. “Kemudian harus diberikan pupuk juga agar tidak tumbuh kerdil. Selain itu hindari terkena sinar matahari langsung,” ujarnya.
Besar harapannya pemerintah turut berkontribusi terhadap eksistensi simbar melalui penyediaan stand-stand gratis seperti yang dilakukan untuk pelaku UMKM lainnya. Sebab menurutnya sangat berat bila dia harus menyewa stand dengan omzet belum bisa dipastikan besarannya.
“Kalau dapat jualan, tidak apa-apa. Kalau tidak sebanding dengan biaya sewa stand, kan rugi. Kami harus terus berpromosi agar tanaman ini terus eksis,” tandasnya. (ni made ari rismaya dewi/ dewa ayu pitri arisanti/editor : made dwija putra )
Editor : Hari Puspita