Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Suka Duka Petugas Damkar Menjinakkan Si Jago Merah(3):Dengar Ada Kebakaran, Sakit Langsung Sembuh

Maulana Sandijaya • Senin, 6 November 2023 | 00:00 WIB
TAK KENAL LELAH: Anggota pemadam kebakaran memadamkan api di sebuah lahan di Kabupaten Jembrana belum lama ini.(foto: damkar-satpol pp jembrana)
TAK KENAL LELAH: Anggota pemadam kebakaran memadamkan api di sebuah lahan di Kabupaten Jembrana belum lama ini.(foto: damkar-satpol pp jembrana)

Kebakaran merupakan salah satu musibah yang tidak bisa diprediksi. Ini menuntut kesiapsiagaan petugas pemadam kebakaran. Menjadi petugas pemadam kebakaran bukan hanya tuntutan tanggungjawab pekerjaan, tetapi juga tanggungjawab sosial.

INI  seperti diungkapkan Kade Bagus Darmawan, petugas pemadam kebakaran dari Satpol PP Kabupaten Jembrana. Selama 13 tahun menjadi petugas pemadam kebakaran, ia sudah 11 tahun terakhir menjadi kepala seksi penyelamatan dan penanggulangan kebakaran. “Menjadi petugas pemadam kebakaran adalah profesi mulia,” ungkapnya.

Karena menjadi petugas pemadam kebakaran merupakan kerja tim, maka menuntut kekompakan semua petugas. Sehingga yang harus menjadi pedoman oleh semua petugas adalah rasa persaudaraan sebagai sesama petugas pemadam kebakaran, menurutnya selalu tertanam di hati.

“Sehingga tidak ada lagi keluhan ataupun kendala, menjadi alasan tidak melaksanakan tugas,” sambungnya.

Akan tetapi, selama menjadi petugas pemadam kebakaran bukan tanpa hambatan. Terutama saat memadamkan api sudah banyak mayarakat yang berkumpul untuk membantu memadamkan api, apalagi yang datang hanya menonton yang menghambat armada yang  datang karena jalan ditutup waga yang menonton.

 Kadang niat baik masyarakat membantu memadamkan api belum tentu benar. Sebaliknya justru merepotkan petugas pemadam kebakaran, misalnya masyarakat yang membantu  berusaha merebut selang penyemprot air.

Padahal memadamkan api, bukan hanya sekadar semprotkan air ke lokasi yang terbakar. Ada teknik yang harus dikuasai agar api bisa segera padam.

Hal ini yang tidak diketahui masyarakat, merebut selang justru menghambat petugas pemadam kebakaran. “Belakangan ini setelah kami aktif melakukan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat, perlahan masyarakat mengerti,” ungkapnya.

Tantangan menjadi petugas pemadam, ketika harus melakukan evakuasi pada tempat yang sulit dan harus bertaruh nyawa. “Pernah juga kebakaran mobil, pada saat kami sedang memadamkan api tiba tiba suara ledakan keras dari mobil. Beruntung selama menjalankan tugas berat, berjalan dengan selamat,” kenangnya.

Hal itu menurutnya didukung dengan peralatan yang memadai, sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Darmawan mengungkapkan, pernah ada  kejadian kebakaran dalam sehari terjadi tiga kali. 

Disusul keesokan harinya, sehari kebakaran sebanyak dua kali kebakaran. “Saya sempat jatuh sakit mungkin karena kelelahan, tetapi herannya cepat sembuh dan sehat kembali saat mendengar laporan kebakaran, sehingga langsung menuju ke lokasi,” kisahnya.

Saat ini di tengah kemarau panjang, potensi terjadinya kebakaran tidak hanya bangunan, tetapi juga lahan dan tempat pembuangan akhir sampah.

Mengenai kebakaran sampah, meskipun di Jembrana tidak terjadi selama kemarau ini tetap diantisipasi. (m. basir/editor: maulana sandijaya)

 

Editor : Hari Puspita
#damkar #kebakaran #bali