Banyak hal dialami Analis Kebakaran Ahli Muda, I Ketut Suadnyana Adiarta selama bergabung dengan Pemadam Kebakaran Kabupaten Klungkung sejak 2009. Mulai dari rasa bangga karena berhasil membantu memadamkan api dan mendapat ucapan terima kasih, hingga pengalaman melihat teman sejawat hampir kehilangan tangan, bahkan nyawa.
ADIARTA menuturkan pulang terlambat menjadi hal yang tidak dapat dihindari petugas damkar. Terutama saat kebakaran besar terjadi, sehingga membutuhkan upaya lebih untuk memadamkan api. Bahkan petugas yang telah libur dan berkumpul dengan keluarga di malam hari pun harus turut membantu memadamkan api.
“Kami pemadam tidak bisa pulang walau anak istri sudah menunggu di rumah. Dan ini sesuai dengan moto damkar, pantang pulang sebelum api padam,” terangnya.
Tidak hanya masalah waktu istirahat yang kerap direlakan demi menjalankan tugas, menurutnya keselamatan juga kerap terancam. Di antaranya ada tangan petugas damkar yang nyaris putus karena terjepit pintu mobil saat bertugas. Bahkan ada yang nyaris kehilangan nyawa karena nyaris tersengat listrik akibat instalasi listrik rumah yang terbakar masih mengalir.
“Ketika saat memadamkan kebakaran tiba-tiba suplai air terputus sedangkan api sedang melalap. Ini menyebabkan petugas damkar panik, dan satu-satunya cara mengatasi hal seperti ini adalah dengan minta bantuan damkar dari kabupaten lain,” katanya.
Tetapi yang menyakitkan ketika petugas damkar berupaya secepat mungkin tiba di lokasi, namun karena kondisi jalan yang tidak bersahabat seperti sempit atau macet, petugas damkar Klungkung sering dicacimaki warga. “Karena kami dianggap datang terlambat,” curhatnya.
Meski begitu, dia mengaku sangat bangga menjadi petugas damkar. Terutama saat berhasil menyelamatkan harta benda dan jiwa dari kebakaran. Apalagi kemudian mendapat apresiasi berupa ucapan terima kasih. “Suka duka sangat beragam,” imbuhnya.
Terkait kebakaran TPA Jungutbatu, dia mengaku turut dalam pemadaman kebakaran itu. Menurutnya kebakaran itu tidak disengaja, tetapi karena dampak dari kondisi cuca. Untuk memperkecil potensi terjadinya kebakaran TPA, dia mengimbau kepada warga untuk disiplin memilah sampah, jangan membakar sampah, dan mengelola sampah di TPA dengan baik.
“Kebakaran bisa dicegah bila masyarakat sadar akan bahaya kebakaran. Penanggulangannya dengan cara kita memberikan sosialisasi dan simulasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat. Menggunakan alat listrik sesuai dengan standar,” tandasnya. (dewa ayu pitri arisanti/editor: maulana sandijaya)
Editor : Hari Puspita