Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Eksistensi Puri-Puri di Bali(1): Taman Ayun Jadi Penyaksi Budaya Tetap Lestari

Djoko Heru Setiyawan • Minggu, 12 November 2023 | 23:10 WIB
EKSOTIS : Suasana Taman Ayun, Mengwi, Badung, yang selalu memikat wisatawan. (foto:dok.radar bali)
EKSOTIS : Suasana Taman Ayun, Mengwi, Badung, yang selalu memikat wisatawan. (foto:dok.radar bali)

Perjalanan sejarah itu sudah berlangsung ratusan tahun. Puri-puri di Bali, selain berperan dalam pelestarian budaya Bali, juga turut mewarnai dunia perpolitikan di Pulau Dewata ini.

DINASTI Kerajaan Mengwi atau Puri Ageng Mengwi, Badung, kali pertama didirikan Raja Mengwi I Gusti Agung Putu yang juga bergelar Cokorda Sakti Blambangan, pada abad ke-17 atau tahun 1634 Saka.

Penglingsir Puri Ageng Mengwi Anak Agung Gde Agung menuturkan, di kala itu, leluhurnya sudah memikirkan bagaimana memberikan pelayanan untuk masyarakatnya, serta memberikan suatu pencerahan budaya, termasuk agama. Tak hanya membangun puri, Cokorda Sakti Blambangan juga membangun Pura Taman Ayun.

’’Beliau (Raja Mengwi I) membangun Pura Taman Ayun dan sudah berpikir pura paibon yang beliau buat ini, bukan hanya untuk kepentingan beliau dan keluarga serta keturunan. Beliau membuat itu untuk kepentingan masyarakat yang di bawah naungan beliau,” tuturnya, kemarin.

Terdapat tiga fungsi utama dari Pura Taman Ayun. Pertama, sosial religius. Pura Taman Ayun dibangun dan didedikasikan untuk kepentingan masyarakat. Karena pada era tersebut, masyarakat belum memungkinkan untuk datang ke Pura Kahyangan Jagat lantaran belum adanya jalan menuju ke Pura Besakih, Pura Batur, dan lainnya.

Oleh karenanya, Pura Kahyangan Jagat distanakan di Pura Taman Ayun dan masyarakat melakukan persembahyangan atau tangkil dari sana. Bangunan padmasananya pun dibuat seperti aslinya.

’’Kedua, walaupun pura paibon, tetapi itu merupakan pemersatu dari wangsa-wangsa di Bali. Mereka bisa melakukan persembahyangan di Taman Ayun, baik itu brahmana, ksatria, termasuk pasek. Jadi di sini berfungsi sebagai pura umum yang bisa memersatu,” paparnya.

Fungsi ketiga, juga fungsi sosial ekonomi. Kolam yang terdapat di Pura Taman Ayun tak hanya berfungsi dari segi keindahan atau estetikanya, tetapi juga berfungsi untuk mengairi sawah ratusan hektare yang ada di sebelah selatan pura.

’’Jadi sejak awal, dinasti Mengwi sudah berpikir soal konservasi budaya, dari perkembangan berikutnya, turun temurun, hingga saya sudah generasi ke-13. Dari ayah saya, saya menerima bahwa bagaimana caranya agar Taman Ayun itu, tetap dilestarikan. Puri tetap dilestarikan, budaya tetap dilestarikan,” sambungnya.

Sang ayahanda juga mendoktrin dan menanamkan pada dirinya, untuk menjadi seorang konservasionis yang tidak merusak bangunan, serta tidak merusak budaya. Salah satunya, dengan mempertahankan banguan artefak yang sudah ada, seperti di Taman Ayun, mulai dari kawasan Nista Mandala, Madya Mandala, hingga Utama Mandala.

Pura Taman Ayun tak hanya diakui sebagai pusat budaya, namun sudah diakui secara nasional dengan masuk dalam cagar budaya nasional. Bahkan, telah diakui secara internasional sebagai world heritage list atau bagian dari situs warisan budaya dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2012.

Selain konservasi dalam bentuk benda, juga tak benda yang dalam hal ini adalah kesenian. Puri Ageng Mengwi memiliki sanggar dengan ratusan anggota, dan secara rutin mengadakan Taman Ayun Barong Festival.

Untuk diketahui, festival ini telah digelar dengan kategori regenerasi untuk anak-anak SD dan SMP. Sementara, kategori superstar diikuti para jawara di seluruh Bali. Selain itu, festival ini juga akan mencari jawara untuk Tari Monyet dan Tari Topeng Pajegan.

Baca Juga: Sambut Turis Jelang New Normal, Pura Taman Ayun Mulai Dibersihkan

’’Kami di sini keluarga besar Puri Ageng Mengwi ditekankan selalu supaya tekun untuk melaksanakan konservasi. Baik konservasi benda dan tak benda. Semampu kami mempertahankan warisan-warisan budaya kita yang adi luhung,” kata Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Perwakilan Bali ini.

Wisatawan yang berminat untuk melihat-lihat Puri Ageng Mengwi sebagai warisan budaya yang adi luhung pun dipersilakan untuk datang, tanpa membayar tiket masuk.

Terkait dengan politik, Anak Agung Gde Agung mengungkapkan, tidak terjun dalam kontestasi politik lagi. Seperti diketahui, ia telah 10 tahun menjabat sebagai Bupati Badung, yakni periode 2005-2010 dan 2010-2015. Saat ini pun ia duduk di kursi DPD RI Perwakilan Bali periode 2019-2024 di Komite III yang menaungi bidang agama, pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata.

’’Kalau akan (menuju panggung politik, Red) tidak ada. Saya cukup 10 tahun di panggung politik sebagai Bupati Badung dan menjadi Anggota DPD Provinsi Bali. Untuk selanjutnya, tidak. Saya tidak maju lagi,” tegasnya.

Dalam kondisi tahun politik jelang Pemilu 2024, Gde Agung sebagai penglingsir Puri Ageng Mengwi akan menempatkan diri sebagai pengayom saja.

’’Puri Ageng Mengwi adalah sentral, artinya masyarakat kami, braya kami, keluarga besar kami kan warnanya bermacam-macam. Berkenaan dengan hal tersebut, kami di sini tidak ikut dalam kontestasi politik yang akan datang. Cukuplah, kami selaku pengayom saja,” kata Gde Agung.

Terlebih saat ini, ia juga menjadi pengrajeg Desa Adat Mengwi dan juga Pengrajeg Karya di Mengwi hingga luar Kabupaten Badung. Dengan demikian, ditegaskannya, ia akan bersikap mengayomi tidak ikut serta dalam kontestasi politik.

’’Sudah selayaknya kami menempatkan diri sebagai mengayomi, agar kontestasi politik yang akan datang ini bisa lancar, aman, damai, dan demokratis. Sehingga, tidak terjadi friksi-friksi di masyarakat. Saya sangat sedih, kalau di masyarakat terjadi friksi, apalagi terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kericuhan,” pungkasnya. (ni made ari rismaya dewi/editor :djoko heru setiawan)

Editor : Hari Puspita
#puri #taman ayun