Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dilema Prostitusi Danau Tempe Usai Penyerangan Satpol PP (6): Harus Hati-hati karena Terkait Urusan Ekonomi

Admin Radar Bali • Senin, 11 Desember 2023 | 04:05 WIB
I Gusti Ngurah Agung Krisna Aditya, Sosiolog Universitas Udayana
I Gusti Ngurah Agung Krisna Aditya, Sosiolog Universitas Udayana

Tim Jawa Pos Radar Bali mewawancarai I Gusti Ngurah Agung Krisna Aditya, Sosiolog Universitas Udayana (Unud) tentang kemungkinan menutup atau bahkan melegalkan prostitusi di Danau Tempe.

Bisa dijelaskan sejak kapan Danau Tempe terkenal menjadi tempat prostitusi yang hits?

Sepengetahuan saya, juga dari beberapa tulisan mahasiswa saya juga, prostitusi di Danau Tempe dudah ada sejak 1948. Keberdaannya sebagai salah satu sarana rekreasi khusus untuk kebutuhan biologis.

Kenapa bisa bertahan hingga saat ini ?

Karena masalah ekonomi. Tentu jika mendatangkan uang bagi warga hal tersebut akan dijaga. Di sana juga tak hanya menyediakan yang bisa memuaskan kebutuhan biologis, tapi warga sekitar juga menawarkan beberapa kondimen seperti obat kuat, tempat menginap, dan fasilitas lain yang terjangkau untuk kaum kelas bawah.

Apakah memungkinan untuk dilegalkan?

Sebetulnya kemungkinan itu ada, sekarang tergantung pemangku kebijakan melihat prostitusi ini. Kalau dilegalisasi, mereka harus tahu bagaiman cara mengontrol risiko-risiko penyakit penularan seksual, mengatur siapa saja yang bisa jadi penyedia seks di sana.

Jadi butuh sinergitas jika ingin melegalkan hal tersebut. Karena Danau Tempe menjadi tempat seperti itu sudah lama, sehingga sulit untuk dihilangkan, butuh waktu.

Apa alasan Danau Tempe menjadi lokasi prostitusi?

Kalau secara lokasi memungkinkan, di sana lebih privat, tempatnya masuk gang. Lalu di daerah Sanur strategis sebagai tempat wisata, sehingga bisa jadi altetnatif wisata.

Bagaimana saran untuk Pemkot Denpasar terhadap Danau Tempe?

Kalau memang pemerintah benar-benar ingin menghapuskan, kembali lagi bukan hanya hal-hal yang kotor atau leteh. Tapi harus diperhitungkan bagaimana orang-orang yang tidak terlibat langsung namun mendapat juga keuntungan.

Bagaiman solusi untuk perekonomian di sana. Itu semua bisa terjadi jika perekonomian di sana bisa terbantu, karena ini masalahnya uang, siapa yang memberikan keuntungan bagi mereka pasti mereka akan membela atau mengikuti itu. [*]

Editor : Hari Puspita
#prostitusi #danau tempe sanur