Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Uniknya Natal Umat Kristiani di Bali (1): Ada Mebat dan Ngejot di Piling, Penebel,Tabanan

Hari Puspita • Senin, 18 Desember 2023 | 00:05 WIB
PERTAHANKANKAN KEARIFAN LOKAL: Suasana perayaan Natal 2022 lalu di Gereja Stasi Santo Mikael Piling, Desa Mangesta, Kecamatan Penebel, Tabanan. (juliadi/radar bali)
PERTAHANKANKAN KEARIFAN LOKAL: Suasana perayaan Natal 2022 lalu di Gereja Stasi Santo Mikael Piling, Desa Mangesta, Kecamatan Penebel, Tabanan. (juliadi/radar bali)

Menyambut perayaan Natal, Senin (25/12/2023), berbagai persiapan bakal dilakukan umat Kristen Katolik di Piling, Desa Mangesta, Kecamatan Penebel, Tabanan.

SELAIN gotong royong menghias gereja, umat Nasrani yang berjumlah 49 kepala keluarga (KK) akan menghias gereja mereka dengan penjor khas budaya Bali.

’’Kami akan mulai persiapan Natal pada tanggal 21 Desember mendatang. Didahului dengan tradisi mebat dan ngejot,” ujar Ketua Dewan Gereja Katolik Piling I Made Agus Wirawan, Kamis (14/12/2023).

Baru selanjutnya menghias gereja dan pemasangan penjor pada 23 Desember. Kemudian melaksanakan persembahyang dua kali di Gereja Stasi Santo Mikael Piling dengan menggunakan pakaian adat Bali, saat malam Natal dan hari Natal nanti.

’’Pasang penjor dan sembahyang dengan pakai adat Bali itu wajib, karena umat Nasrani di sini keturunan Bali,” bebernya.

Untuk tradisi ngejot sebelum perayaan Natal dengan memberikan makanan kepada tetangga desa yang beragama Hindu. ’’Sejatinya sudah berlangsung dari dulu sejak leluhur kami memeluk agama Kristen. Jadi tradisi ngejot ini, generasi atau kami yang melanjutkan,” ungkapnya.

Ngejot ini tradisi turun temurun dan warisan leluhur. Di mana, yang melandasi tradisi ngejot karena hubungan keluarga dan persaudaran yang masih terjadi erat dan terpelihara.

Bahkan, sejatinya di Piling, Desa Mangesta, masih satu rumpun keluarga. Terutama, dengan warga yang beragama Hindu.

’’Nenek moyang kami satu, entah bagaimana dulu leluhur kami memeluk agama Kristen.  Karena masih ada hubungan persaudaraan, ngejot inilah sebagai ucapan syukur,” tuturnya.

Menurutnya, ucapan syukur ini, dengan ada umat Nasrani nampah celeng dan siap (ayam). ’’Setelah daging ini, diolah jadi makanan, baru akan kami bagikan kepada saudara umat Hindu yang tidak merayakan,” sambungnya.

Demikian pula sebaliknya, saat warga Hindu merayakan Hari Raya  Galungan dan Kuningan, mereka pula akan ngejot ke umat Nasrani.

Tidak hanya tradisi ngejot saja. Tetapi, rasa kekeluargaan dan persaudaraan ada ketika pelaksanaan ngaben dan nganten di desa.

Bila ada warga Hindu yang melakukan upacara ngaben umat Nasrani di Piling ikut membantu. Demikian, saat pula nganten. Begitu pula juga dengan umat Nasrani yang ada kematian dan pernikahan.

’’Mengapa hal ini bisa terjadi karena kami masih menjadi satu organisasi suka duka. Ade nak nganten dan mati kita berbaur saling bantu,” pungkasnya. (juliadi/editor: djoko heru setiawan)

 

Editor : Hari Puspita
#kerukunan antar umat beragama #bali #natal