Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Cerita Pasca Penanganan Covid-19 di Bali (2): Masih Dipakai atau Tidak, Tergantung Kondisi dan Kebutuhannya

Juliadi Radar Bali • Selasa, 2 Januari 2024 | 00:05 WIB
SEKADAR PAJANGAN: Tempat cuci tangan yang terdapat di Lapangan Puputan Badung ini tidak digunakan. Keran airnya tidak lagi mengucurkan air. (adrian suwanto/radarbali)
SEKADAR PAJANGAN: Tempat cuci tangan yang terdapat di Lapangan Puputan Badung ini tidak digunakan. Keran airnya tidak lagi mengucurkan air. (adrian suwanto/radarbali)

DALAM  sebuah wawancara terpisah dengan Mantan Kadiskes Bali dr Ketut Suarjaya yang kini menjadi Plt. Rumah Sakit Bali Mandara mengungkapkan, alat-alat yang digunakan untuk penanganan Covid-19 usai pandeni masih ada yang bisa dipakai dengan baik, sesuai standar. “Alatnya masih tetap dipakai karena memang masih dibutuhkan,” kata Suarjaya. 

Alat-alat tersebut seperti utk infeksi paru seperti ventilator, HFNC (High Flow Oxygen Therapy, HFOT) merupakan oksigen beraliran tinggi, tabung oksigen dan oksigennya dll nya. “Tidak berbeda alat-alatnya. Sama jenis-janis alatnya,” terangnya. 

Pengadaan alat-alat itu berasal dari APBN, APBD dan CSR (Corporate Social Responsibility). Sayangnya Suarjaya tidak tahu jumlah anggaran yang dikeluarkan untuk membeli alat dan membangub fasilitas tersebut. “Itu ada datanya rinciannya di Dinas Kesehatan. Dana dari APBN dan APBD. Ada (CSR) tapi saya tidak ada datanya,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur RS Singasana Nyitdah Tabanan, dr Dodi Setiawan mengatakan sebagian besar alat-alat kesehatan untuk penanganan Covid-19 di RS Singasana Nyitdah itu masih digunakan. Misalnya alat pengukur suhu tubuh, tempat cuci tangan, tabung oksigen, rapid, alat bantu pernapasan dan beberapa alat lainnya. “Kami masih gunakan kok, hanya untuk pasien tertentu saja,” ucapnya.

Dodi menyebutkan bahwa  alat-alat kesehatan tersebut memang saat pandemi Covid-19, memang selain dibeli secara langsung, juga ada bantuan dari Kementerian Kesehatan pusat salah satunya alat bantu pernapasan.

“Kalau tempat cuci tangan dibantu oleh CSR dulunya, salah satunya pihak bank BPBD Bali,” jelasnya.

Alat-alat kesehatan itu jika sudah rusak tidak pihaknya gunakan lagi, namun beberapa alat selain masih disimpan.

Disinggung berapa anggaran dulu untuk pembelian alat kesehatan saat pandemi. Dodi menyebut ia harus melihat data ulang kembali.

“Yang pasti ada anggaran dari pemerintah daerah dan pusat dulu soal penanganan Covid-19,” tandasnya.  

Di  sisi lain data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali Pemkab Tabanan pada tahun 2022 menganggarkan untuk penanganan Covid-19 pada APBD Induk 2022 sebesar Rp 85 Miliar.

Dana tersebut untuk insentif nakes, pengadaan alat penunjang kesehatan seperti masker dan lainnya termasuk untuk bansos bagi masyarakat terdampak Covid-19.

Di bagian lain, rumah sakit umum (RSU) Negara juga mendapat gelontoran anggaran yang besar. Selain dalam bentuk anggaran, juga dalam bentuk barang sebagai belanja modal.

Di  antaranya mesin PCR yang merupakan bantuan  pusat bernilai Rp 1 miliar, serta dari anggaran daerah untuk pengadaan tempat tidur dan menambah ruang ICU. "Kalau yang belanja modal, masih terpakai sampai saat ini," ujar Direktur RSU Negara Ni Putu Eka Indrawati.

Pengadaan barang pada saat pandemi Covid-19 yang masih digunakan, ruang ICU, laboratorium PCR dan  tempat tidur. "Pengadaan barang pada saat pandemi Covid-19, masih banyak digunakan. Kecuali barang sekali pakai," tandasnya. (kadek novi febriani/julidi/m. basir/editor: ib indra prasetia)

Editor : Hari Puspita
#covid-19 #alkes