Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Pohon Perindang, Antara Keindahan, Kenyamanan dan Bencana-2: Ada Oknum yang Sengaja Ingin Mematikan

Muhammad Basir • Rabu, 17 Januari 2024 | 04:55 WIB
BIKIN RINDANG: Pohon perindang di kawasan jalan Raya Puputan memberikan manfaat sebagai peneduh dan juga penghalang silau dari cahaya matahari bagi para pengguna jalan. (adrian suwanto)
BIKIN RINDANG: Pohon perindang di kawasan jalan Raya Puputan memberikan manfaat sebagai peneduh dan juga penghalang silau dari cahaya matahari bagi para pengguna jalan. (adrian suwanto)

POHON perindang jalan tidak hanya memiliki fungsi sebagai peneduh, tetapi juga berperan sebagai penyerap karbondioksida dan polutan. Sekaligus menghasilkan oksigen sehingga udara lebih segar dan terbebas dari berbagai zat berbahaya. Sayangnya, jumlah pohon perindang jalan semakin sedikit karena banyak yang mati.

Tidak semua pohon perindang jalan  mati secara alami, tetapi ada juga karena sebab lain. Di antaranya karena ditabrak kendaraan, bahkan ada yang memang disengaja agar pohon perindang mati.

\“Banyak kami temukan pohon perindang yang mati bukan karena usianya sudah tua, tetapi sengaja biar mati,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana I Putu Agus Artana Putra.

Oknum warga yang sebagai mematikan pohon perindang yang kerap ditemukan, sengaja mengelupas kulit pohon perindang, disuntik cairan khusus dan dibakar pada pangkal pohonnya.

“Pernah kami dapat laporan dan permintaan warga agar menebang pohon perindang jalan yang sudah dalam posisi miring hampir roboh, ternyata setelah ditebang masih ada bara api di bagian dalam pohon,” imbuhnya.

Pihaknya mendata seribu lebih pohon perindang jalan di Jembrana, khususnya jalur Denpasar - Gilimanuk, ratusan pohon perindang yang perlu penanganan. Pendataan terakhir pada bulan Oktober 2023 lalu, sebanyak 300 pohon yang mati dan terlalu rimbun sehingga membahayakan pengguna jalan.

Terlebih saat musim hujan disertai angin bisa berpotensi menyebabkan pohon perindang mati patah dan pohon perindang jalan yang rimbun bisa tersangkut kendaraan yang melintas. “Sebagain besar kasus pohon perindang yang patah, karena tersangkut kendaran besar,” jelasnya.

Pohon perindang jalan dari segi aset sebenarnya milik pemerintah pusat dalam hal ini balai jalan. Pihak BPBD Jembrana sebenarnya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pemangkasan dan pemotongan pohon perindang jalan.

Tapi sebagai upaya cegah dini atau sebagai upaya mitigasi bencana, pihaknya melakukan penebangan terhadap pohon perindang yang sudah mati dan membahayakan.

“Setiap menebang, kami selalu berkoordinasi dengan instansi terkait agar tidak disalahkan juga. Karena bukan aset kita,” terangnya.

Dari sisi aset, pohon pending jalan di Jalan Denpasar Gilimanuk, tidak hanya menjadi aset pemerintah pusat, tetapi ada juga sebagian menjadi aset pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten.

“Jumlah seribu lebih, terbanyak di jalan nasional dan menjadi aset pusat,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jembrana Dewa Gede Ary Candra Wisnawa.

Jenis tanaman yang ditanam juga beragam, sebagian besar di jalan nasional yang menjadi aset pusat pohon mahoni dan trembesi. Selain itu, pohon angsana, pohon flamboyan dan pohon tangi.

“Kalau di wilayah Kota Negara, sebagian besar kabupaten yang menanam pohon perindang jalan, seperti pohon tangi dan flamboyan,” ujarnya.

Sebagian besar pohon perindang jalan yang mati dan perlu pemangkasan rutin berada di jalan nasional. Karena dari segi usia, sebagian besar merupakan pohon perindang jalan yang ditanam sejak puluhan tahun lalu. “Sudah di atas 10 tahun, terutama mahoni dan angsana,” ungkapnya.

Karena banyak pohon perindang jalan yang mati, pihaknya juga melakukan peremajaan dengan menanam pohon perindang jalan yang baru. Namun tidak dilakukan secara rutin, setiap tahun tetapi tergantung dari kondisi dan anggaran. [m.basir/editor : made dwija putra/radar bali]

Editor : Hari Puspita
#penghijauan #pohon perindang