Pilpres tinggal hitungan hari. Apakah pilpres 2024 ini akan berjalan dengan lancar? Berikut petikan wawancara jurnalis Jawa Pos Radar Bali, I Wayan Widyantara dengan Gede Indra Pramana, pengajar di Departemen Ilmu Politik FISIP Universitas Udayana (Unud).
Menurut Anda, pilpres kali ini apakah akan sengit seperti pilpres 2019, yang sampai mengelompokkan pendukung dengan sebutan cebong dan kampret?
Pilpres akan sengit, tetapi polarisasi relatif tidak meruncing seperti pengalaman 2019. Faktor pertama, ada tiga calon, hal ini menyebabkan tidak terjadi pembelahan para pendukung pasang calon menjadi dua pihak seperti pada 2019.
Faktor kedua, masyarakat telah melihat pasca-pemilu 2019 begitu cepatnya konsolidasi antara elite. Pasangan calon yang bersaing pada pemilu yang lalu hari ini saling mendukung, hal ini tentu memberikan perspektif pada warga tentang cairnya posisi elite dalam arena kekuasaan.
Menurut Anda, apakah masyarakat sudah dewasa dalam menyikapi perbedaan pilihan?
Sudah. Masyarakat berkepentingan untuk menjaga proses transisi kekuasaan berjalan dengan damai dan tidak mencederai nilai-nilai demokrasi.
Menurut Anda, apa yang harus diwaspadai oleh masyarakat agar tidak terjadi gesekan?
Masyarakat berkepentingan agar transisi kekuasaan yang demoktatis berjalan dalam kondisi damai. Kewaspadaan justru perlu terhadap praktik kampanye yang tidak bertanggung jawab. Pengalaman pada pemilu/pilpres yang lalu, seperti beredarnya tabloid Obor Rakyat. Cukup kiranya menjadi pelajaran terkait implikasi dari smear campaign (kampanye kotor) ini.
Apa saran Anda terhadap tim sukses paslon agar suasana tetap dingin meski calonnya kalah?
Pada 2021, dunia menyaksikan serangan 6 Januari pada gedung Capitol Amerika Serikat pasca-pemilihan presiden Amerika Serikat. Dalam konteks Indonesia, pengalaman pilpres 2019 juga cukup menjadi pelajaran mahalnya harga demokrasi hingga menimbulkan korban jiwa. Terlalu mahal harga yang harus dibayar jika hal ini terulang. (*/san)
Editor : Hari Puspita