DI Buleleng, cerita unik penghitungan suara dialami Made Suyasa, 55, Ketua PPS Kampung Baru, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Ia menuturkan, proses perhitungan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 2 dan TPS 9 bahkan baru selesai pada Kamis (15/2/2024) pukul 08.00 Wita. Berbeda dengan TPS lainnya yang paling lambat hingga pukul 01.00 Wita.
Usut punya usut, panjangnya waktu perhitungan sampai esok hari, karena ada kejadian-kejadian mistis di dua TPS tersebut. Suyasa mengatakan bila di TPS 2, saat proses perhitungan suara ternyata tidak menemui selisih yang benar. Tentu saja hal ini membuat KPPS menjadi bingung dan waswas.
“Selisih suaranya tidak ketemu-ketemu. Akhirnya saya suruh maturan rokok dan jajan di bawah pohon juwet di Pura Taman Sari. Akhirnya persoalan teratasi,” ujarnya pada Jumat (23/2/2024).
Tak hanya di TPS 2, TPS 9 juga memiliki kisah serupa, jumlah pemilih dan surat suara ternyata tidak sama. Bahkan berita acara sampai Alat Tulis Kantor (ATK) juga hilang dari tempatnya.
Mengetahui hal itu, Suyasa kembali meminta KPPS di sana untuk maturan ke Pura Tambak. Hasilnya, perhitungan bisa seimbang, hingga berita acara dan ATK ada di tempat semula.
“Setelah dikasi tirta, termasuk kotak suara, dihitung lagi, baru mau balance. Berita acara dan ATK , ditemukan di tempatnya. Padahal sudah berulang kali dihitung, sampai nangis ketua KPPS-nya,” lanjutnya menceritakan.
Cerita lainnya datang dari Kerta Hendrawan, 22, yang merupakan Anggota PPS Desa Gesing, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Meski bukan cerita mistis, tetapi kisahnya ini menjadi pengalaman berharga karena harus mencari barang yang hilang hingga Kamis (15/2/2024) pukul 06.00 Wita.
Meskipun perhitungan suara sudah selesai pada Kamis (15/2/2024) pukul 02.00 Wita, tetapi saat dilakukan pengepakan kembali, ternyata ada stiker luar kotak suara yang hilang. Kerta enggan menyebutkan TPS yang memiliki cerita unik itu.
“Pas pengepakan kembali, ada stiker luar kotak yang hilang di salah satu TPS, sehingga harus mencari itu sampai jam 6 pagi. Ternyata dimasukin ke kantong jaket ketua KPPS-nya,” ujarnya pada Kamis (22/2/2024) siang.
Cerita menarik datang juga dari salah satu TPS di Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, yang diceritakan anggota KPPS-nya, Indah Laksmi, 23. Ia menuturkan bila kepanikan sempat terjadi di TPS-nya, karena hilangnya satu surat suara pemilihan presiden dan wakil presiden.
Saat itu, KPPS berencana membuka kotak suara kembali, tetapi karena aturan yang ketat, sehingga hal itu urung dilakukan. Mereka lalu memutuskan kembali mencari surat suara itu hingga Kamis (15/2/2024) pukul 05.00 Wita.
Hingga dengan persetujuan bersama dengan saksi, kotak suara pun dibuka. Dan hasilnya, surat suara pemilihan presiden dan wakil presiden ditemukan terselip di kotak suara DPRD provinsi.
“Jika saja harus tetap mengikuti aturan tidak membuka kotak lainnya, bagaimana bisa mengetahui surat itu berada dimana. Karena pencariannya memakan waktu yang sangat lama, hingga sempat menyerah,” ujarnya pada Rabu (21/2/2024) siang.
Disinggung mengenai kendala perhitungan suara, narasumber mengatakan hal itu sah-sah saja dalam setiap kegiatan. Meskipun kendala yang ditemukan cukup membuat panik dan pusing kepala, ditambah mereka harus bertanggung jawab atas perhitungan suara pada lima kotak suara pada pemilu kali ini.
Belum lagi dengan penggunaan Sistem Rekapitulasi Suara (Sirekap) yang terkadang error dan perlu sinyal yang bagus, membuat penyelenggara pemilu di tingkat bawah cukup kewalahan. Apalagi, rata-rata KPPS merupakan wajah baru alias pertama kali ikut menjadi penyelenggara pemilu.
“Ada surat suara yang keselip pada saat perhitungan, sehingga selesai perhitungan pada Kamis (15/2/2024) pukul 01.40 Wita. Padahal estimasi kami, perhitungan suara sampai jam 12 malam saja,” kata Kadek Juliawan, 23, anggota KPPS di TPS 006 Busungbiu, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng pada Kamis (22/2/2024) siang.
“Banyak sekali aturan dan juknis terutama yang baru dikirim sebelum hari pemungutan dan penghitungan suara. Repot sih repot banget, apalagi penggunaan aplikasi Sirekap yang gangguan sehingga tidak bisa digunakan,” jawab Kerta Hendrawan.
Pasca usai perhitungan, mereka mengakui bahagia dan senang, karena tugas mereka otomatis sudah selesai. Meskipun sebagian dari teman seperjuangannya harus merasakan capek dan drop luar biasa.
Tetapi pengalaman ini dirasa sangat berharga, sehingga mereka yakin dan mantap untuk kembali menjadi penyelenggara pemilu.
Terlebih bagi mereka yang baru saja ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi lima tahunan ini.
Meskipun begitu, tidak semua dari mereka ingin menjadi bagian dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) baik di pusat, provinsi, maupun kabupaten.
“Sementara belum ada niatan ke komisioner KPU,” singkat Made Suyasa yang sudah berpartisipasi sebagai penyelenggara pemilu sejak tahun 2009. “Jika diberi kesempatan saya mau jadi bagian dari KPU,” jawab Kerta Hendrawan. (dewa ayu pitri arisanti/francelino junior/editor: ib indra prasetia)
Editor : Hari Puspita