Tragedi kemacetan horor yang berdampak kematian seorang penumpang bus di jalur Jembrana menuju Pelabuhan Gilimanuk setiap musim mudik Lebaran menjadi tamparan keras bagi infrastruktur Bali. Menanggapi kondisi yang sudah di ambang batas tersebut, Pemprov Bali bersama para pakar transportasi mulai merancang solusi konkret: memecah kepadatan darat melalui pengembangan jaringan tol laut logistik.
DALAM analisisnya, Pengamat transportasi Universitas Udayana, Prof. Putu Alit Suthanaya, menegaskan bahwa kemacetan panjang yang kerap memakan korban jiwa tersebut dipicu oleh ketimpangan antara jumlah kendaraan dengan kapasitas dermaga.
"Permasalahan utama adalah kapasitas Pelabuhan Gilimanuk dan Ketapang untuk kondisi puncak sudah terlampaui. Secara geometrik, jalan kita sudah tidak memadai lagi untuk melayani lalu lintas campuran antara kendaraan pribadi dan angkutan barang," ujar Prof. Alit.
Menurutnya, bercampurnya kendaraan logistik berdimensi besar dengan kendaraan kecil di jalur yang penuh tikungan tajam dan tanjakan curam sangat berisiko.
Hal ini sering memicu kecelakaan fatal akibat pengendara yang tidak sabar saat menyalip.
Beban Gilimanuk Sudah Melampaui Kapasitas, Perlu Strategi Pecah Arus, dari Sangsit hingga Kusamba
Gubernur Bali, Wayan Koster, merespons cepat dengan memerintahkan jajaran Dinas Perhubungan untuk merancang pembangunan infrastruktur jalur laut di beberapa titik strategis. Tujuannya jelas: mengurangi beban jalur darat Gilimanuk-Mengwi.
Rencana pengembangan ini mencakup tiga titik utama dan satu optimalisasi:
1. Pelabuhan Sangsit (Buleleng): Akan diperluas untuk melayani penyeberangan dan logistik Bali Utara.
2. Pelabuhan Amed (Karangasem): Menyasar distribusi wilayah Bali Timur.
3. Pelabuhan Kusamba (Klungkung): Menjadi pintu masuk logistik untuk wilayah Gianyar dan sekitarnya.
4. Optimalisasi Pelabuhan Celukan Bawang (Buleleng).
"Saya minta segera buat kajiannya. Tidak perlu terminal yang mewah karena peruntukannya adalah pelabuhan logistik. Kita akan meniru skema di Pelabuhan Merak yang sukses mengurai penumpukan," tegas Koster dalam acara Pembangunan Daerah Bali di Art Centre, Kamis (26/3/2026).
Pendanaan Non-APBD dan Target 2027
Proyek ambisius ini dipastikan tidak akan menyedot dana APBD Bali. Pemerintah Provinsi akan mengandalkan skema investasi dan dukungan penuh dari APBN. Gubernur Koster dijadwalkan akan menghadap Menteri Perhubungan untuk memasukkan rencana ini dalam program strategis tahun 2027.
"Jika tujuannya ke Karangasem, kendaraan logistik bisa langsung lewat laut. Kalau ke Buleleng, langsung ke Celukan Bawang. Ini akan sangat signifikan mengurangi kepadatan kendaraan besar di jalanan darat Bali," tambah Koster.
Harapan Baru di Tahun 2026
Implementasi ini merupakan bagian dari visi 'Nangun Sat Kerthi Loka Bali'. Pada tahun 2026, pembangunan diarahkan melalui pola Semesta Berencana dengan semangat 'Solid Bergerak Demi Nindihin Gumi Bali'.
Langkah ini diharapkan menjadi jawaban akhir bagi para pemudik dan pelaku logistik yang selama bertahun-tahun harus terjebak dalam antrean tanpa kepastian di pintu masuk Pulau Dewata. [Ni Kadek Novi Febriani/Djoko Heru Setiyawan]
Editor : Hari Puspita