Ketika pengurus Jaringan Jurnalis Peduli Sampah (J2PS) melakukan kunjungan studi lapangan di Bali Waste Cycle (BWC) di kawasan Jalan Cargo Permai No. 67 Ubung, Denpasar Utara, fakta berbalik. Di tempat pengolahan sampah ini ternyata menerima dan membeli sampah multilayer yang terbuang itu. Sampaj multilayer menumpuk, bahkan banyak yang sudah di press rapi.
Ida Bagus Ari Wijaya selaku Tim Edukator BWC didampingi Bisma Mahendra selaku Supervisor Operasional BWC, menyambut rombongan J2PS yakni Agustinus Apollo Daton (Ketua), Muhammad Ridwan (Sekretaris) dan I Gusti Ngurah Dibia (Ketua Divisi Sosialisasi dan Edukasi), Ignatius Kleden (Devisi Advokasi) dan Umar Ibnu Alkhattab (penasihat).
Setelah beberapa saat mengamati langsung, pengelolaan sampah unorganik di BWC terkelola dengan baik. Rapi dan taka da bau. Menurut Ari Wijaya, BWC hadir karena melihat TPA overload akibat pengelolaan kurang maksimal alias hanya jadi tempat penampungan saja. “Kami di BWC menekankan edukasi ke semua lapisan tentang cara memilah sampah dari sumber dan memastikan hingga TPS tetap terpilah atau tak tercampur lagi,” tandasnya.
“Kedepan sampah residu akan kami olah kembali, ini masih dalam pengembangan,” tukasnya.
Ari Wijaya menyebutkan, di BWC sejauh ini mampu menampung pasokan 2 ton sampah perhari. Dari jumlah itu Sebagian besar adalah sampah unorganik. “Sampah unorganik lebih banyak di BWC, jadi multilayer kita tidak anggap residu, kita tampung disini,” tambahnya.
Sementara itu Ketua Umum J2PS Agustinus Apollo Naris Daton memberikan apresiasi bagi manajemen BWC yang mampu menampung sampah multilayer. “Sampah multilayer in ikan seperti tutup botol minuman kemasan dan label produk kemasan kan tak dilirik pemulung, namun di BWC kita lihat dikelola juga,” puji jurnalis senior ini.
Dipaparkan, sampah plastik multilayer ialah lapisan plastik yang terdiri dari beberapa jenis material yang mempunyai beberapa fungsi dari tiap layer, antara lain sebagai printing layer, barrier layer, dan sealing layer.
“Jenis sampah plastik yang sangat sulit terurai oleh alam. Sampah jenis ini biasanya melekat pada kemasan produk yang berbentuk. Sachet. Lapisan lapisan yang bertumpuk pada sampah plastik multilayer ini membuatnya menjadi jenis sampah yang sangat sulit diuraikan,” urainya.
Jenis sampah ini tidak laku bagi pemulung dan pengepul. Bahkan tidak semua pelaku daur ulang menerima sampah jenis multylayer. "Jangankan memungut, melirik pun tidak oleh pemulung. Karena tidak diterima oleh pengepul. Dan tidak layak dijual. J2PS mengapresiasi BWC yang berani mengambil dan membeli sampah jenis ini. Kalau saja semua pelaku daur ulang mengambil dan membeli sampah jenis ini seperti BWC tentu akan banyak yang tertarik untuk memungut dan memilah," ungkapnya, menegaskan.
Disebutkan pula, sampah plastik multilayer biasanya ditemukan pada kemasan kemasan kemasan berbentuk sachet seperti bungkus kopi, minuman bubuk, sampo, deterjen, bungkus mie instan yang didalam kemasan itu ada plastik tipis yang berwarna bening. "Beban lingkungan yang paling berat adalah sampah plastik. Tidak perlu saling menyalahkan. Saatnya berkolaborasi untuk mengatasi sampah plastik yang dari hari ke hari makin meresahkan," kata Agustinus Apollo sapaannya sembari menjelaskan sampah itu tak mengenal suku, agama, ras, kasta dan negara. Selagi ada peradaban sampah selalu ada. Tinggal bagaimana mengelolahnya. "Kalau dari rumah tangga (sumber) sampah sudah dipilih dan dipilah, maka 50 persen sampah sudah terkelolah dengan baik. Tapi kalau tidak dipilah dari sumber maka kita gagal mengelolah sampah"ujarnya. (feb/rid) Editor : M.Ridwan