MESKIPUN pemakaman tersebut termasuk di tengah perkotaan, tidak banyak yang tahu tentang makam tentara Jepang ini. Ternyata makam Tuan Miuara Djo berada persis dekat dengan Setra Badung.
Menuju makam ini, pengunjung dapat melalui jalan setapak. Jalannya tidak terlalu luas. Tempatnya sepi, tidak seramai makam keramat Siti Khotijah yang setiap hari selalu ada saja yang datang untuk berziarah.
Makam Tuan Miura Djo dibuat dari batu hitam dan sebelum menuju makam ada tulisan yang ditujukan untuk Tuan Miura Djo yang ditulis oleh I Gusti Ketoet Katon. Tulisan itu ada yang berbahasa Jepang dan Bahasa Indonesia.
Dari tulisan tersebut dapat ditarik kesimpulan, Miura Djo sangat berjasa dan perjuangannya selalu dikenang oleh masyarakat Bali. Miura Djo lahir 10 Agustus 1888 itu meninggal pada 7 September 1945. Beberapa hari setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dibom atom Amerika Serikat.
I Gusti Ketoet Katon menuliskan bahwa Tuan Miura menjalin keharmonisan dengan penduduk di wilayah Badung, Denpasar, dan ibarat sudah seperti keluarga sendiri, layaknya.
Keramahan dan kebaikan hati Miura ini dikenal luas warga Denpasar dan sekitarnya saat itu dan banyak orang meminta bantuan atau pertolongan kepada Miura yang dikenal suka membantu orang yang sedang susah. Dari cerita yang ada, mendiang Miura dikenal sebagai sosok yang santai, santun. Juga tidak membeda-bedakan manusia dari pangkat, derajat dan status sosial.
Meskipun cerita tentang si tentara Nippon bernama Miura Djo ini sangat terbatas. Ada informasi yang mengatakan bahwa dia adalah tentara Jepang yang melarikan diri dari pasukan Nippon dan membelot ikut membantu Indonesia.
Saat Jawa Pos Radar Bali mendatangi makamnya, hanya bertemu penunggu makam bernama Lukman Nurhakim. Pria separuh baya ini tinggal digubuk dekat Makam Miura Djo. Ia setia membersihkan makam tersebut meski tidak dibayar.
Si Gondrong, begitu sapaan akrab Lukman Nur Hakim, mengaku tinggal di makam ini sejak tiga tahun lalu. Ia tidak ditugaskan oleh pemerintah setempat, tapi karena keinginan sendiri.
Seperti dituturkan, saat pertama kali datang, makam ini dipenuhi semak-semak dan tidak terurus. Lebih lanjut, yang datang juga tidak begitu banyak. Terakhir, ada warga Jepang yang ke sana berziarah.“Saya melihat semak-semak belukar, saya bersihkan. Sempat ada orang Jepang ke sini dari Batu Bulan, Gianyar. Saya di sini tidak digaji, sukarela,” ucapnya.
Ia juga tidak terlalu mengetahui sejarah makam ini, namun Ia sempat diceritakan oleh almarhum Raja Pemecutan. Almarhum Raja Pemecutan dalam ceritanya mengatakan bahwa yang dikubur di makam ini adalah orang Jepang yang tidak mau balik ke negaranya.
" Saya diceritakan oleh almarhum Raja Pemecutan, ndrong, begini sejarahnya. Miura itu tidak mau dikirim balik pulang ke negaranya. Miura Djo bela orang Bali dan berani berkorban " ucap Si Gondrong menirukan ucapan Raja Pemecutan.
Selain warga Jepang yang datang, ada juga dari mahasiswa yang melakukan penelitian. Menurutnya, selama dia menjaga dan menjadi tukang sapu di makam tersebut, tidak pernah melihat pemerintah setempat datang.
Sementara itu, dikonfirmasi dengan kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Raka Purwanta mengatakan bahwa makam Tuan Miura Djo belum masuk sebagai cagar budaya. Hanya sebatas baru dicatatkan saja.
Nah, berdasarkan catatan di Kadisbud Denpasar, makam tersebut merupakat tempat penguburan tentara Jepang bernama Miura Djo. Meski masuk dalam tentara Jepang, dia sangat kecewa dengan negaranya karena menjajah Indonesia.
Saat bertugas di Bali, semasa perang dunia kedua, Miura selalu berpihak kepada kaum pribumi dan banyak menolong warga pribumi. Sebelum meninggal dulu ia berpesan agar makamnya nanti ikut berdampingan dengan masyarakat di Setra Badung. " Miura itu kecewa dengan masa penjajahan Jepang dan lebih memihak masyarakat Pribumi," ucapnya.
Kondisi makam ini menurutnya masih dalam kondisi baik-baik saja. Walau tempatnya tampak seram karena di ada semak-semak dan pepohonan besar. Namun, sudah ada jalan setapak sehingga memudahkan pengunjung jika ingin berziarah.
Kendati demikian, Raka mengakui, Disbud Denpasar tidak menganggarkan untuk perawatan makam. Kemungkinan, untuk perawatan makam dilakukan secara swadaya melalui donasi atau dana punia yang datang ziarah ke makan tersebut. " Kalau OPD tidak menganggarkan biaya perawatan makanya. Untuk lebih jelasnya bisa tanya ke Bendesa Adat Denpasar," ucapnya. [ni kadek novi febriani/radar bali]
Editor : Hari Puspita