Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mengunjungi Makam Tentara Jepang di Setra Badung: Disambut Baik Warga, karena Dulu Suka Membantu

Hari Puspita • Kamis, 12 Januari 2023 | 19:05 WIB
KENANGAN SISA PERANG DUNIA KEDUA : Makam Tuan Miura Djo, di Kawasan Setra Badung,  Jalan Batu Karu Denpasar. (foto : adrian suwanto/ radar bali)
KENANGAN SISA PERANG DUNIA KEDUA : Makam Tuan Miura Djo, di Kawasan Setra Badung, Jalan Batu Karu Denpasar. (foto : adrian suwanto/ radar bali)
Kawasan Kuburan Badung atau Setra Badung ternyata ada dua makam istimewa. Dua makam istimewa itu adalah : Makam Putri Raja Pemecutan, seorang Muslimah,  Raden Ayu Siti Kothijah dan di sebelahnya  makam orang Jepang, Miura Djo. Ternyata ada jenazah warga negara asing di setra ini.

MESKIPUN pemakaman tersebut termasuk di tengah perkotaan, tidak banyak yang tahu tentang makam tentara Jepang ini.  Ternyata   makam Tuan Miuara Djo berada persis dekat dengan Setra Badung.

Menuju makam ini, pengunjung dapat  melalui jalan setapak. Jalannya tidak terlalu luas.  Tempatnya sepi, tidak seramai makam keramat Siti Khotijah yang setiap hari selalu  ada saja yang datang untuk berziarah.

Makam Tuan Miura Djo dibuat dari batu hitam dan sebelum menuju makam ada tulisan yang ditujukan untuk Tuan Miura Djo yang ditulis oleh I Gusti Ketoet Katon.  Tulisan itu ada yang berbahasa Jepang dan Bahasa Indonesia.

Dari tulisan tersebut dapat ditarik kesimpulan,  Miura Djo sangat  berjasa dan perjuangannya selalu dikenang oleh masyarakat Bali. Miura Djo  lahir 10 Agustus 1888  itu meninggal  pada 7  September 1945. Beberapa  hari setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dibom atom Amerika Serikat.

I Gusti Ketoet Katon menuliskan  bahwa Tuan Miura  menjalin keharmonisan dengan penduduk di wilayah Badung, Denpasar, dan ibarat  sudah seperti keluarga sendiri, layaknya.

Keramahan dan kebaikan hati Miura ini dikenal luas warga Denpasar dan sekitarnya saat itu dan banyak orang meminta bantuan atau pertolongan kepada Miura yang dikenal suka  membantu orang yang sedang susah. Dari cerita yang ada, mendiang Miura dikenal sebagai sosok yang santai, santun. Juga tidak membeda-bedakan  manusia  dari  pangkat, derajat dan status sosial.

Meskipun cerita tentang si tentara Nippon bernama Miura Djo ini sangat terbatas. Ada informasi yang mengatakan  bahwa  dia adalah tentara Jepang yang melarikan diri dari pasukan Nippon dan membelot ikut membantu Indonesia.

Saat Jawa Pos Radar Bali mendatangi makamnya, hanya bertemu penunggu makam bernama Lukman Nurhakim. Pria separuh baya ini tinggal digubuk dekat  Makam Miura Djo. Ia setia membersihkan makam tersebut meski tidak dibayar.

Si Gondrong, begitu sapaan akrab Lukman Nur Hakim, mengaku tinggal di makam ini sejak tiga tahun lalu. Ia tidak ditugaskan oleh pemerintah setempat, tapi karena keinginan sendiri.

Seperti dituturkan, saat  pertama kali datang, makam ini dipenuhi semak-semak dan tidak terurus. Lebih lanjut, yang datang juga tidak begitu banyak. Terakhir, ada warga Jepang  yang ke sana berziarah.“Saya melihat semak-semak belukar,  saya bersihkan. Sempat ada orang Jepang ke sini dari Batu Bulan, Gianyar.  Saya di sini  tidak digaji, sukarela,” ucapnya.

Ia juga tidak terlalu mengetahui sejarah makam ini, namun Ia sempat diceritakan oleh almarhum  Raja Pemecutan. Almarhum Raja Pemecutan dalam ceritanya  mengatakan bahwa yang dikubur di makam ini adalah orang Jepang yang tidak mau balik ke negaranya.

" Saya diceritakan oleh  almarhum Raja Pemecutan, ndrong, begini sejarahnya. Miura itu  tidak mau dikirim balik pulang ke negaranya. Miura Djo bela orang Bali dan berani berkorban " ucap Si Gondrong menirukan  ucapan Raja Pemecutan.

Selain warga Jepang yang datang, ada juga dari mahasiswa yang melakukan penelitian. Menurutnya, selama dia menjaga dan menjadi tukang sapu di makam tersebut, tidak pernah melihat pemerintah setempat datang.

Sementara itu, dikonfirmasi dengan kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Raka Purwanta mengatakan bahwa  makam Tuan Miura Djo belum masuk sebagai cagar budaya. Hanya sebatas   baru dicatatkan saja.

Nah, berdasarkan catatan di Kadisbud Denpasar, makam tersebut merupakat tempat penguburan tentara Jepang  bernama Miura Djo. Meski masuk dalam tentara Jepang, dia sangat kecewa dengan negaranya karena menjajah Indonesia.

Saat  bertugas di Bali, semasa perang dunia kedua, Miura selalu berpihak kepada kaum pribumi dan banyak menolong warga pribumi. Sebelum meninggal dulu ia berpesan agar makamnya nanti ikut berdampingan dengan masyarakat di Setra Badung. " Miura itu kecewa dengan masa penjajahan Jepang dan lebih memihak masyarakat Pribumi," ucapnya.

Kondisi makam ini menurutnya masih dalam kondisi baik-baik saja. Walau tempatnya tampak seram karena di ada semak-semak dan pepohonan besar. Namun, sudah ada jalan setapak sehingga memudahkan pengunjung jika ingin berziarah.

Kendati demikian, Raka mengakui, Disbud Denpasar tidak menganggarkan untuk perawatan makam. Kemungkinan, untuk perawatan makam dilakukan secara swadaya melalui donasi atau dana punia yang datang ziarah ke makan tersebut. " Kalau OPD tidak menganggarkan biaya perawatan makanya. Untuk lebih jelasnya bisa tanya ke Bendesa Adat Denpasar," ucapnya. [ni kadek novi febriani/radar bali]

 

 

  Editor : Hari Puspita