Keluarga besar zuriah Syekh Salim bin Abdullah bin Smair menggelar acara peringatan meninggalnya, di tahun ke 174. Acara dihelat 17 Oktober 2023, di Ballroom Hotel Princess, Jalan Teuku Umar Barat, Denpasar.
ACARA berlangsung khidmat. Di kesempatan ini , perwakilan dari pihak zuriah almarhum, Javier bin Said bin Smair menegaskan tentang pentingnya ajaran mendiang menjadi teladan.
“Mudah-mudahan ini menjadi langkah awal bagi kami para zuriah Syekh Salim bin Smair untuk bisa belajar dan meneladani akhlah mulia beliau,”imbuhnya.
Seperti diketahui, haul merupakan tradisi peringatan meninggalnya seseorang yang diadakan setahun sekali dengan tujuan mendoakan ahli kubur agar semua amal ibadah yang dilakukannya diterima Allah sekaligus mengenang keteladanan semasa hidup dari tokoh yang diperingati tersebut.
“ Kami merasa malu dan jauh dari pantas jika membaca tarikh keilmuan dan perjuangan beliau. Pantaslah beliau tercatat dengan tinta emas atas perjuangan dan keilmuan beliau,” tandasnya.
Di sela-sela acara haul yang meriah ini, pria brewokan ini juga mengungkapkan: ”Kami berharap para santri atau siapa saja yang pernah belajar kitab Safinatun Najah, bermurah hati mendoakan kami para zuriah beliau untuk bisa mengikuti jejak langkah mulia beliau.
Baik dalam bidang keilmuan maupun dalam bidang perjuangan menyiarkan risalah Nabi Muhammad SAW, ” jelasnya. “Semoga kami bisa rutin mengadakan Haul ini di tahun-tahun mendatang.” pungkasnya
Dalam acara ini antara lain menghadirkan KH. Agus Thoha Al-Amnan ini juga dihadiri para habaib, masyayikh, undangan dan pencinta Syekh Salim bin Smair dari penjuru Denpasar dan sekitarnya hingga mencapai sekitar seribuan jamaah.
Acara haul kali ini diiringi kelompok kesenian hadrah, Ahbabul Musthofa Bali pimpinan H. Khoiron, yang mengiringi pembacaan Maulid Habsyi bersama, hingga akhir acara.
Seperti diketahui, sosok Syekh Salim bin Smair, sosok yang paling dikenal kalangan santri yang pernah belajar di pesantren. Almarhum adalah penulis kitab fiqh dasar Safinatun Naja, sebuah kitab fiqih ibadah dasar yang hampir menjadi pelajaran dasar wajib di semua pesantren ahlussunnah waljamaah (aswaja).
Selain menulis kitab tersebut di atas, almarhum juga menulis kitab: Al-Fawaid AI-Jaliyyah Fiz-Zajri ‘An Ta’athil Hiyal Ar-Ribawiyah (faedah - faedah yang jelas mengenai pencegahan melakukan hilah – hilah ribawi), satu kitab yang ditulis untuk mengecam rekayasa (hilah) untuk memuluskan praktik riba.
Pemilik nama lengkap Syeikh Salim bin Abdullah bin Said bin Smair Al-hadhrami, bukan hanya seorang pengajar dan penulis kitab fiqih semata.
Sosok kelahiran Dzi Ashbah, Hadramaut, Yaman, ini terlahir dari keturunan ulama. Ayahnya, Syekh Abdullah Bin Said adalah seorang tokoh ulama yang disegani masyarakat pada zamannya, termasuk salah satu dari Abdillah Sab’ah.
Yaitu tujuh orang bernama Abdullah yang hidup sezaman di Yaman. Syekh Salim mengajar berbagai macam disiplin keilmuan agama, sehingga Syekh Salim menjadi ulama kharismatis yang dikenal luas.
Syekh Salim sebelum hijrah ke Batavia, adalah salah seorang penasihat sultan di kesultanan Katsiriyyah, Yaman. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Kerajaan Al-Katsiry memiliki konflik politik berkepanjangan dengan suku Yafi` sejak tahun 926 Hijriyah.
Sepanjang tiga abad lebih sebelum Syekh Salim lahir, kedua penguasa ini saling berperang demi “perebutan kekuasaan” di berbagai wilayah Yaman.
Kemelut ini semakin memanas pada era Syekh Salim. Kisaran tahun 1264 Hijriyah, daerah kelahiran Syekh Salim, Dzi Ashbuh dan sekitarnya menjadi saksi bisu pertumpahan darah antara pasukan Katsiry dengan Yafi`.
Demi kemaslahatan rakyat yang menjadi korban kekuasaan, Syekh Salim memainkan peran besar dalam rekonsiliasi perdamaian antara Yafi’ dan Kerajaan Al-Katsiry. Di akhir Rabi’ul Awwal tahun 1265 H, serangan 800 pasukan Yafi’ untuk menguasai kota Seyyun mengalami kegagalan telak.
Kerajaan Katsiry menang dan menawan banyak prajurit Yafi’. Akhirnya, rekonsiliasi antar pimpinan mereka pun terjadi. Hasil mufakat memutuskan agar suku Yafi’ harus “diusir-balik” ke daerah asalnya, timur laut Teluk Aden. Dan, tidak boleh bergerilya lagi di wilayah Yaman.
Selain kepakaran dalam bidang teologi dan fiqih, ternyata juga cukup mumpuni urusan kemiliteran. Hal ini terbukti ketika pihak kesultanan hendak menambah peralatan militernya dari Singapura, pihak kesultanan meminta pendapat dan nasihat atas kepakaran beliau.
Berkat jasa dan manuver politiknya, Syekh Salim diangkat sebagai penasihat pribadi Sultan Abdullah bin Muhsin Al-Katsiry.
Melawan Kolonial Belanda
Dari cerita yang diperoleh Radar Bali menyebutkan bahwa dalam periode akhir hayatnya, Syekh Salim yang kemudian tinggal di Batavia, seakan menjadi tempat berkumpulnya para pejuang-santri yang melakukan pergerakan anti pejajahan. Hampir setiap hari ada sekian banyak santri yang belajar hingga meminta doa keberkahan.
Dengan karakternya yang “lurus dan tegas”, beliau dikenal tidak berkompromi dengan segala kemungkaran yang terjadi, termasuk di dalamnya praktik penjajahan yang terjadi di Batavia (Jakarta) kala itu.
Syekh Salim bin Smair tampaknya kurang setuju dengan kedekatan yang dijalin antara Habib Utsman bin Yahya dengan pemerintah kolonial Belanda. Sehingga tampak, secara umum, kedua tokoh ini berseberangan.
Namun, waktu kemudian mempertemukan berdua sehingga ada kesempatan bagi habib Utsman bin Yahya untuk menjelaskan maksud dan tujuannya yang berdekatan dengan pemerintah kolonial kepada syekh Salim bin Smair.
Setelah mendengar argumentasi cerita langsung dari Habib Utsman, akhirnya saling memahami sisi perjuangan masing-masing.
Kemudian pada tahun 1271 Hijriyah atau tahun 1855 Masehi Syekh Salim berpulang dan dimakamkan di Batavia (Jakarta). [*]
Editor : Hari Puspita