DENPASAR, radarbali.id - Seminggu pasca Hari Pengerupukan, terpantau masih ada sejumlah ogoh-ogoh di Denpasar banyak yang belum dibakar. Namun, ada juga sekaa teruna yang sudah membakar hasil kreativitas ogoh-ogoh di setra atau kuburan milik desa adat masing-masing.
Menanggapi hal tersebut, Pralina Petajuh 1 MDA Kota Denpasar, I Wayan Butuantara menjelaskan ada konsep Utpeti, Stiti, dan Pralina dalam proses ogoh-ogoh.
Menanggapi hal tersebut, Pralina Petajuh 1 MDA Kota Denpasar, I Wayan Butuantara menjelaskan ada konsep Utpeti, Stiti, dan Pralina dalam proses ogoh-ogoh.
Utpeti merupakan awal pembentukan ogoh-ogoh. Kemudian Stiti-nya yakni pada saat parade/pawai/lomba ogoh-ogoh, dan terakhir Pralina dilakukan sehabis Pengerupukan.
Baca Juga: Wow! Tahapan Pilkada Serentak 2024 Dimulai, KPU Bali Matangkan Anggaran Ratusan Miliar
"Di-pralina melalui sarana, tetapi wujudnya masih. Itu hanya berubah fungsi, (sehingga, red) tidak masih dia berkait dengan kegiatan agama. (Kemudian, red) dia berfungsi sebagai hasil kreativitas seni budaya," jelasnya, kemarin (19/3).
Proses Pralina dilakukan dengan memercikkan tirta yang diperoleh dari Pura Prajapati atau Pura Dalem di masing-masing desa adat.
"Setelah diarak saat Pengerupukan, malam itu siratanga (dipercikkan, red) tirta pada ogoh-ogoh. Secara niskala sudah melakukan proses Nyomnya artinya Pralina," sambungnya.
"Di-pralina melalui sarana, tetapi wujudnya masih. Itu hanya berubah fungsi, (sehingga, red) tidak masih dia berkait dengan kegiatan agama. (Kemudian, red) dia berfungsi sebagai hasil kreativitas seni budaya," jelasnya, kemarin (19/3).
Proses Pralina dilakukan dengan memercikkan tirta yang diperoleh dari Pura Prajapati atau Pura Dalem di masing-masing desa adat.
"Setelah diarak saat Pengerupukan, malam itu siratanga (dipercikkan, red) tirta pada ogoh-ogoh. Secara niskala sudah melakukan proses Nyomnya artinya Pralina," sambungnya.
Baca Juga: Ngeri! Awal Tahun 2024, Kasus Demam Berdarah Melonjak Capai 2.131 Kasus, Dinas Kesehatan Bali Bilang Begini
Dijelaskannya ketika Pengerupukan, ogoh-ogoh seolah-olah diwujudkan dalam wujud atau karakter yang berbeda-beda. Seperti misalnya diwujudkan sebagai Bhuta Kala. Sehingga ketika dipralina, Nyomnya-nya mengembalikan beliau pada tempat semula dan tidak mengganggu alam semesta. Termasuk manusia dan isi alam.
"Fungsi Nyomnya mengembalikan beliau-beliau ke tempat di mana mestinya dan tidak menggangu kehidupan kita," terangnya.
Namun, belakangan ini dengan berkembangnya zaman, dirinya tak menampik ada ogoh-ogoh yang memang dibiarkan di balai banjar sebagai pajangan.
Dijelaskannya ketika Pengerupukan, ogoh-ogoh seolah-olah diwujudkan dalam wujud atau karakter yang berbeda-beda. Seperti misalnya diwujudkan sebagai Bhuta Kala. Sehingga ketika dipralina, Nyomnya-nya mengembalikan beliau pada tempat semula dan tidak mengganggu alam semesta. Termasuk manusia dan isi alam.
"Fungsi Nyomnya mengembalikan beliau-beliau ke tempat di mana mestinya dan tidak menggangu kehidupan kita," terangnya.
Namun, belakangan ini dengan berkembangnya zaman, dirinya tak menampik ada ogoh-ogoh yang memang dibiarkan di balai banjar sebagai pajangan.
Baca Juga: Pemain Inti, Muda dan Potensial Dicomot Timnas, Teco Siapkan Rotasi
Ataupun ada juga ogoh-ogoh yang dibiarkan karena ada pihak pembeli yang berniat untuk membeli kreativitas mereka.
"Berarti kalau ada yang masih terwujud di balai banjar, kemungkinan secara sastra atau keyakinan sudah di-pralina. Hanya saya mungkin karena terlalu baik ogoh-ogohnya (belum dibakar, red)," kata Butuantara.
Namun dari lembaga Parisadha termasuk lembaga MDA tetap menyarankan bahwa konsep ogoh-ogoh itu berkaitan dengan kegiatan Nyepi. Sehingga seusai diarak, ogoh-ogoh dipralina atau dibakar.
Ataupun ada juga ogoh-ogoh yang dibiarkan karena ada pihak pembeli yang berniat untuk membeli kreativitas mereka.
"Berarti kalau ada yang masih terwujud di balai banjar, kemungkinan secara sastra atau keyakinan sudah di-pralina. Hanya saya mungkin karena terlalu baik ogoh-ogohnya (belum dibakar, red)," kata Butuantara.
Namun dari lembaga Parisadha termasuk lembaga MDA tetap menyarankan bahwa konsep ogoh-ogoh itu berkaitan dengan kegiatan Nyepi. Sehingga seusai diarak, ogoh-ogoh dipralina atau dibakar.
Baca Juga: Libur Sehari, Bali United Kembali Latihan untuk Menjamu Persija Jakarta Akhir Maret 2024
"Kita juga imbau silahkan ogoh-ogoh dibakar. Masalah tempat, kita juga tidak saklek. Yang penting aman, tertib, sesuai dengan kesepakatan desa masing-masing. Apakah di kuburan atau tanah kosong," ujarnya.
Namun jika bisa proses pembakaran dilakukan di setra atau kuburan dengan didahului unsur tirta pemralina. Lebih lanjut, dalam rangkaian menjelang Nyepi juga ada konsep Ramya, Sunya, dan Santi.
Ramya berarti ramai, yang menggambarkan suasana saat Pengerupukan yang riuh. Karena kekuatan kala dikeluarkan, begitu selesai Ramya akan dilanjutkan dengan Sunya yaitu Nyepi dengan Catur Bratha Penyepian-nya.
"Kita juga imbau silahkan ogoh-ogoh dibakar. Masalah tempat, kita juga tidak saklek. Yang penting aman, tertib, sesuai dengan kesepakatan desa masing-masing. Apakah di kuburan atau tanah kosong," ujarnya.
Namun jika bisa proses pembakaran dilakukan di setra atau kuburan dengan didahului unsur tirta pemralina. Lebih lanjut, dalam rangkaian menjelang Nyepi juga ada konsep Ramya, Sunya, dan Santi.
Ramya berarti ramai, yang menggambarkan suasana saat Pengerupukan yang riuh. Karena kekuatan kala dikeluarkan, begitu selesai Ramya akan dilanjutkan dengan Sunya yaitu Nyepi dengan Catur Bratha Penyepian-nya.
Baca Juga: Praktik Jual Miras Terselubung di Warung dan Kos-kosan, Aparat Sita 130 Botol Arak
Terakhir yaitu Santi dengan melakukan kegiatan seperti Dharmasanti, Simakrama, sebagai langkah awal di tahun Saka yang baru. Saling maaf-memaafkan untuk ke depan yang lebih baik.***
Terakhir yaitu Santi dengan melakukan kegiatan seperti Dharmasanti, Simakrama, sebagai langkah awal di tahun Saka yang baru. Saling maaf-memaafkan untuk ke depan yang lebih baik.***