Dinsos Bali Pulangkan Ratusan Gelandangan Pada Januari-Maret 2024, Terbanyak Asal Jawa Timur
Ni Made Ari Rismaya Dewi• Rabu, 27 Maret 2024 | 17:10 WIB
MENGGELANDANG: Salah seorang gelandangan di jalan Gajah Mada Denpasar ini termasuk yang dipulangkan ke daerah asalnya.
DENPASAR, radarbali.id - Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Bali telah memulangkan sebanyak 344 orang gelandangan dari Bali ke daerah asalnya selama tahun 2023 lalu. Di antaranya 246 orang ke Jawa Timur dan 98 orang ke Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pada awal tahun ini, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani ungkap telah memulangkan gelandangan yang dibawa oleh Satpol PP sejak Januari hingga Maret 2024.
"Sekarang baru sekitar 109-an (gelandangan yang dipulangkan, red). Kemarin juga ada penambahan, karena tiap hari rasanya Satpol PP yang kita ajak kerja sama juga membawa gelandangan pengemis ke sini," tuturnya, kemarin (26/3).
Sama seperti tahun lalu, dari total gelandangan yang dibawa ke Dinsos P3A, sebanyak 75 orang dipulangkan ke Jawa Tdan 34 orang ke NTB.
"Kita memulangkan sistem estafet melalui provinsi terdekat. Itu sudah sesuai kesepakatan Kementerian Sosial," sambungnya.
Pihaknya pun sudah koordinasi dengan baik pada Dinas Sosial dari provinsi lain selama proses pemulangan. Adapun rata-rata gelandangan tersebut masih berusia muda dan ada juga yang sudah lanjut usia (lansia).
Dinsos P3A Provinsi Bali telah memfasilitasi transportasi dan konsumsi saat gelandangan ini diberangkatkan. Pendanaannya pun tergantung pada tujuan keberangatannya yang juga dikoordinasikan dengan Dinas Perhubungan.
Antisipasi juga sudah dilakukan secara intern untuk pembinaan, pemberdayaan, hingga peningkatan kompetensi yang menjadi kewenangan di Provinsi Bali, bersinergi juga dengan kabupaten/kota.
Provinsi lain pun tentu sudah melaksanakan hal yang serupa. Hanya saja para gelandangan tersebut memiliki keingintahuan terhadap Bali yang digadang-gadang memiliki banyak lapangan pekerjaan.
"Jadi keingintahuan mereka besar untuk ke Bali. Sehingga kadang naik truk pun oke. Setelah di sini (sampai Bali, red), sudah melihat langsung, kalau tidak punya skill kan susah juga," kata Ayu.
Kendati demikian, pihaknya telah memberikan pengertian kepada para gelandangan bahwa menggelandang itu tidak bagus dan lebh baik meningkatkan skill.
Daerah pariwisata pun dipantaunya tak terlalu banyak ditemukan gelandangan. Karena penjagaannya pun lebih ketat dibandingkan tempat umum.
Lebih lanjut, diakuinya provinsi Bali tak memiliki penampungan atau shelter untuk gelandangan. Karena mereka langsung dipulangkan dan hanya menunggu selama beberapa jam saja di kantor Dinsos P3A. Hingga saat ini juga tercatat belum ada gelandangan yang dipulangkan dari luar Bali ke Bali.***