DENPASAR, Radarbali,id - Pengelolaan sampah semakin gencar dilakukan di Kota Denpasar. Kali ini, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar turut mendukung program pemilahan sampah dari sumbernya melalui pembuatan Teba Vertikal atau Teba Modern.
Adapun lokasi yang menjadi percontohan teba vertikal di Kota Denpasar yakni di Pura Lokanatha yang menjadi pengemponnya Kota Denpasar. Ketua Pengurus Harian PHDI Kota Denpasar, I Made Arka ungkap teba modern ini sudah dirancang sejak dua tahun lalu.
“Tujuannya salah satunya adalah kami dari PHDI bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk umat kami,” tuturnya, Senin 22 Juli 2023.
Hal ini sekaligus menjadi upaya agar tidak ada orang yang menafsirkan bahwa Agama Hindu yang paling banyak menciptakan sampah. “Karena kami kan ada upakara, banten, dan sebagainya. Apalagi hari-hari besar Galungan sampah lagi 20 persen numpuk. Itulah kami berpikir untuk membuat teba vertikal dan kami sosialisasikan, ” sambungnya.
Baca Juga: Lahan Kosong di Kota Denpasar Sering Kebakaran, Dipicu Musim Kemarau hingga Pembakaran Sampah
Di awal, pihaknya akan menyasar 200 titik yang akan dibuatkan teba vertikal dengan bekerja sama dengan DLHK dan BPD. Termasuk juga di Pura Desa dan Puseh Desa Adat Denpasar.
Dicontohkannya satu desa adat Denpasar paling banyak ada 106 banjar. Sehingga jika hal ini bisa disosialisasikan, paling tidak ada 106 banjar sudah tahu cara pengolahan sampah menggunakan teba modern.
“Intinya kami membuat teba vertikal agar sampah sedikit keluar, dengan tujuan sampah organik yang ada di pura. Karena kami di PHDI harus fokusnya ke pura dulu,” kata Arka.
Untuk di Pura Lokanatha, pihaknya menempatkan lima buah teba vertikal. Satu teba vertikal memiliki kedalaman 2 meter. Jenisnya pun berbeda, ada yang menggunakan satu buis dan ada yang menggunakan dua buis.
Menariknya, teba vertikal dengan menggunakan dua buis juga dapat digunakan sebagai meja. Umat pun dapat memanfaatkannya juga untuk sekedar menjadi tempat ngopi.
“Cuma harus ada aliran air yang masuk. Ketika hujan, di samping untuk pengolahan sampah, itu dipakai untuk resapan,” jelasnya.
Paling tidak setahun sampah-sampah yang terkumpul di teba vertikal bisa digali hasilnya menjadi pupuk organik. Pupuk organik ini dapat dimanfaatkan untuk tanaman-tanaman yang ada di pura.
Terlebih sampah-sampah sisa upakara seperti bunga dan daun menjadi pupuk organik dengan kandungan yang paling tinggi. “Kalau saya punya target mungkin sebanyak-banyaknya, karena saya ingin lebih cepat sosialisasi. Kalau bisa mungkin seribuan dalam setahun,” sambungnya.
Respons dari pembuatan teba vertikal oleh PHDI Denpasar hingga saat ini diakuinya sangat positif. Jumlah teba yang akan dibangun nantinya menyesuaikan dengan keperluan pura masing-masing. Setelah dibuatkan teba modern, pihak pura dapat mengelolanya sendiri.
Lebih lanjut, teba vertikal ini tak hanya digaungkan ke pura-pura. Melainkan sampai ke seluruh umat, terutama di Denpasar yang dewasa ini sulit ditemui teba.
Masyarakat juga bisa membuat sendiri teba modern-nya yang berada di kisaran Rp1,5 juta untuk penggunaan satu buis dan Rp1,9 juta untuk dua buis. ***
Editor : Made Dwija Putera