DENPASAR, Radarbali.id - Dibalik keindahan Bali sebagai surga wisata, masih ada masalah lingkungan dan pengelolaan sumber daya air yang menjadi tantangan serius. Terlebih dengan pertumbuhan pariwisata yang pesat, urbanisasi, dan krisis iklim yang memberikan tekanan besar pada sumber daya air yang tersedia.
Hal ini diperparah dengan lonjakan permintaan air, baik untuk kebutuhan domestik maupun komersial. Direktur Eksekutif IDEP Foundation, Muchamad Awal ungkap laporan dari Walhi Bali menunjukkan bahwa penggunaan air di Bali telah melebihi kapasitas siklus hidrologi.
Sementara intrusi air laut telah terjadi di beberapa daerah wisata utama seperti Sanur dan Kuta. Hal ini menunjukkan meski pembangunan Bali membawa dampak positif bagi perekonomian, namun juga memicu kelangkaan dan penurunan kualitas air bersih.
Baca Juga: Empat Desa di Jembrana Terancam Krisis Air Bersih, Ini Persiapannya
”Dalam kerumitan itu, skema tata kelola air Bali yang berkelanjutan dan partisipatif belum hadir untuk jadi jalan keluar,” tuturnya.
Oleh karenanya, pihaknya berkolaborasi sejumlah NGO dan komunitas mengadakan ’Apa Kabar Kita (2): Festival Air Bali’ pada Selasa (30/7) di Taman Inspirasi Muntig Siokan, Desa Adat Intaran, Sanur Kauh, Denpasar Selatan.
Dalam festival yang digelar dengan urun data, urun daya, urun karya, dan urun dana ini akan menjadi ruang kolaborasi multi-perspektif untuk mencari solusi terhadap krisis air dan masalah lingkungan lain di Bali. Salah satu hasil konkret yang diharapkan dapat lahir dari kolaborasi tersebut adalah rancangan awal Peta Jalan Air Bali.
Baca Juga: Astaga! Di Buleleng Ada Enam Ribu Pelanggan Air Menunggak Pembayaran
”Mengingat isu air ini sangat kompleks dan saling mempengaruhi isu lain yang langsung berhubungan dengan penghidupan masyarakat,” ujarnya.
Seperti mata pencaharian; pangan; kesehatan; energi; lingkungan; dan dampak krisis iklim. Sehingga butuh upaya terkoordinasi dan partisipatif yang lebih besar dari semua pihak terkait untuk mulai merumuskan Peta Jalan Air Bali.
Dengan mengundang masyarakat, diharapkan peta jalan ini menjadi langkah konkret seluruh pihak untuk menghasilkan solusi bersama terhadap masalah bersama. Sekaligus menyadarkan mereka bahwa kondisi air sudah mengkhawatirkan dan bahwa mereka memilki peran di dalamnya.
Dilanjutkan dengan panggung hiburan dengan tiket bibit pohon, yang mengangkat isu kampanye air dan pameran produk masyarakat Desa Intaran. Terutama untuk masyarakat yang masih belum sadar bahwa airnya sudah mulai berkurang maupun terasa asin.
”Mudah-mudahan bisa me-reach orang lebih aware dan peduli. Itu yang bisa mendorong pemerintah membuat kebijakan yang betul-betul bisa selaras dengan kebutuhan dan permasalahan masyarakat,” kata Awal.
Ketua BUPDA Intaran, Agung Arya Teja pun tak menampik bahwa kondisi air di Denpasar, khususnya di Desa Adat Intaran, cukup memprihatinkan. Sebagai daerah hilir, wilayahnya dipertemukan dengan arus sungai dari subak Renon dan Sidakarya.
”Semua itu kan tidak seperti di pegunungan airnya. Itu semua sudah keruh, banyak sampah. Jadinya di sanalah bisa dikatakan kami menerima sampah,” terangnya.
Baca Juga: Waspada! Bali Terancam Krisis Air, Ratusan Tanaman Imbuhan Kini Mulai Ditanam di Tabanan
Desa Adat Intaran pun telah melakukan berbagai upaya untuk melindungi hilir. Mulai dari perlindungan mangrove; penanaman terumbu karang untuk menjaga kualitas air laut; hingga menjaga 90 hektar subak yang masih efektif.
Ia pun berharap agar kampanye air yang mengambil tempat di Desa Adat Intaran ini juga berimbas kepada masyarakat sekitar dan dapat mendorong pemerintah.
”Kami berharap regulasi pemerintah yang mendukung dampak terhadap kami di hilir. Sehingga regulasi pemerintah itu memang melindungi kami yang di hilir,” ungkapnya.***
Editor : Made Dwija Putera