DENPASAR, Radarbali.id - Kemeriahan menjelang 17 Agustus mulai terlihat di sepanjang Jalan Hayam Wuruk, Denpasar. Berdasarkan pantauan di lapangan, kurang lebih terdapat lima pedagang bendera sudah membentangkan barang dagangannya di dekat trotoar.
Salah satu pedagang yang akrab disapa Pak Ahim, 60, sudah mulai berjualan sejak (28/7) lalu. Jenis benderanya pun beragam, mulai dari background, bendera lisplang, bendera kecil, bendera besar, dan lainnya.
”Semuanya komplit. Paling bendera jenis bandir cepat habis. Banyak diminati, soalnya bagus posisinya,” terangnya ketika ditemui, Jumat 2 Agustus 2024.
Bendera dibanderol mulai dari harga Rp5 ribu untuk bendera kecil, hingga Rp300 ribu untuk bendera background dan lisplang ukuran 10 meter.
”Paling laris background lisplang, bendera panjang. Harganya Rp200 ribu sampai Rp 300 ribu. (Ditawar, red) Rp200 ribu saya kasih karena belum makan,” sambungnya.
Dalam sehari, ia tak membawa stok yang banyak. Untuk bendera panjang, Ahim biasa membawa empat atau lima buah bendera.
Stok bendera pun terus direfill dari bos atau pemilik modal untuk dijual lagi keesokan harinya. Apabila stok bendera masih tersisa, ia akan simpan untuk dijual tahun depan.
”(Penjualan, red) sehari ga nentu. Kadang-kadang dapat Rp50 ribu, Rp100 ribu, kadang-kadang Rp1 juta. Kalau mau meriah, dari tanggal 5 Agustus ke atas baru jalan,” kata Ahim.
Pembeli dari kalangan kantoran biasanya mulai membeli bendera sejak tanggal (1/8) sampai (5/8). Sementara di tanggal (5/8) ke atas, pembelinya rata-rata dari warga.
Jumlah pembelinya pun tak menentu tiap harinya, terkadang dua orang sampai sepuluh orang. ”Ya (pendapatannya, red) sudah cukup buat makan di sini, ngontrak. Saya pendatang, setahun sekali datang ke sini untuk jualan bendera. Untuk memeriahkan kemerdekaan Republik Indonesia,” tuturnya.
Di daerah asalnya, Jawa Barat, pria 60 tahun ini bekerja sebagai tukang ojek pangkalan. Ia pun memang rutin tiap tahunnya datang ke Bali bersama rekan-rekannya khusus untuk berjualan bendera sekaligus refreshing.
”Kan dari seluruh dunia datang ke Bali. Saya juga ingin setiap tahun sambil refreshing. Kalau (dagangan, red) habis tanggal 5 Agustus, ya pulang,” sambungnya.
Lebih lanjut, diakuinya berjualan di kawasan Hayam Wuruk hingga saat ini membawa berkah baginya. Terlebih lokasinya yang berada di pusat kota dan ramai dilalui orang. ”Alhamdullilah lumayan lah. Tiap tahun ada rezekinya buat saya. Tadi ada pembeli, berarti rezeki saya,” terangnya.***
Editor : Made Dwija Putera