DENPASAR, Radarbali.id - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW akan digelar pada Senin (16/9) mendatang. Warung-warung di sekitar masjid pun mulai ramai menjual kembang telur, termasuk di kawasan Kampung Islam Kepaon, Desa Pemogan, Denpasar Selatan.
Seperti di Warung Hani, Jalan Pemogan Nomor 178 yang sudah memajang beragam motif kembang telur warna-warni. Mulai dari motif bunga khas Kampung Islam Kepaon, motif ketupat, motif bunga keranjang, motif burung, hingga motif boneka.
Pemilik Warung Hani, Suryati, 48, mengaku sudah mulai banjir pesanan sejak seminggu sebelum hari H. ”Mulai pesanan tiga hari yang lalu. (Di awal, red) baru 50 sampai 100 pcs. Kadang untuk sekolah-sekolah itu (beli, red) 3 sampai 5 pcs,” ujarnya, Rabu 11 September 2024.
Baca Juga: Uniknya Makepung Lampit di Jembrana yang Memikat Kunjungan Wisatawan Asing
Dalam satu hari, ia bisa menerima 80 hingga 100-an pesanan. Meski puncak acaranya di tanggal (16/9), pesanan kembang telur dari tahun ke tahun terus berlangsung selama satu bulan hingga bulan November. ”Kayaknya lebih ramai sekarang (tahun 2024, red). Kan dari COVID-19 itu agak sepi, masih laku tapi tidak sampai 1.000 pcs,” sambungya.
Sementara tahun lalu, pesanan yang diterima menyentuh 3.500 pcs dalam satu bulan. Dengan kondisi tahun ini, diharapkannya dapat mencapai penjualan kembang telur seperti tahun lalu. Meskipun diakuinya saingan pedagang di kawasan Kampung Islam Kepaon juga makin banyak.
Ditambah harga pokoknya yang makin naik dibandingkan tahun lalu. Dari awalnya Rp2.500/pcs menjadi Rp3.000/pcs. Begitupun untuk pembelian dalam jumlah banyak yang dahulu dijual Rp2.300/pcs menjadi Rp2.500/pcs. Jika sekalian dengan telur, ia menjual di harga Rp5.000/paket.
Baca Juga: MEMALUKAN! Polda Bali Pecat 9 Polisi Karena Terlibat Pencurian, Perzinahan, Biseksual hingga Narkoba
Pelanggannya biasa mencari kembang telur yang sudah menjadi satu paket yang ditusuk ke styrofoam. Satu paket biasanya berisikan 50 atau 70 pcs. ”Yang (pesan, red) banyak itu mungkin dari perwakilan masjid tertentu, terus ada seseorang yang menghandle. Dia belinya banyak sekalian,” kata Suryati.
Tak tanggung-tanggung, pelanggannya bahkan berdatangan dari Sanur, Kerobokan, Jimbaran, bahkan ada juga yang dari Madura. ”Dia pulang ke Bali terus tertarik, sampai beli 150 pcs dipakai dus, dia bawa (ke Madura, red). Katanya dia mau bikin acara spesial di rumahnya sendiri,” sambungnya.
Jika stok di warungnya habis, maka ia akan mengambil stok dari ibu-ibu pengrajin di Kepaon. Dalam sehari, para pengrajin ini disebutnya bisa menghasilkan hingga 2.500 pcs kembang telur.
Biasanya ia menjual hasil kreasi dari keluarganya. Satu perajin bisa menghasilkan 100 hingga 200 pcs kembang telur. Satu kembang telur dibelinya seharga Rp2.500 dan dijual kembali seharga Rp3.000. ***
Editor : Made Dwija Putera