DENPASAR, Radarbali.id-I Nyoman Juniarta alias Jigo terlihat sibuk melayani beberapa konsumen yang ingin mencicipi kopi racikan Cafe Gantari Jaya di salah satu event di lapangan Renon, Denpasar beberapa hari lalu. Beberapa customer rela mengantre. Sementara pria 42 tahun itu, mencatat pesanan.
Ada yang berbeda dengan barista lainnya, Jigo melayani para pembeli sambil duduk di kursi roda. Karena dia mengalami kecelakaan lalu lintas beberapa tahun lalu. Kini, harus duduk di kursi roda seumur hidupnya. Kendati demikian, dia tak patah arang. Di bawah naungan Rumah Harapan Kota Denpasar, dia bersama sejumlah kaum disabilitas lainnya bergabung dalam sebuah kelompok UMKM bernama Kelompok Usaha Bersama Gantari Jaya, Denpasar.
Kelompok ini kemudian menjalankan beberapa unit usaha. Salah satunya adalah Cafe Gantari Jaya. Usaha kopi ini, kerap terlibat dalam sejumlah event atau festival besar di Bali. Jigo menjelaskan, keputusan menjalani usaha cafe atau kedai kopi ini bermula dari latar belakangnya dulu. Di mana sebelum mengalami kecelakaan, dia di bidang food and beverage management. ”Kebetulan saya basic-nya adalah food and beverage management dulu,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Bali.
Setelah tergabung dalam kelompok usaha bersama itu, dan berlatar belakang pengetahuannya, dia lalu mengajak teman disabilitas lainnya untuk mencoba membuka cafe. ”Saya mendapat ide saat mencoba kopi di Kintamani. Kami mencoba koordinasi dengan dinas sosial. Kami kemudian diberi link ke Pertamina Pesanggaran. Jadi Difel Cafe Gantari Jaya ini binaan Pertamina Pesanggaran,” bebernya.
Tak hanya menjalankan usaha kedai kopi, kelompok usaha bersama ini juga menjalankan pelatihan pembuatan roti atau kue. Selain itu, juga menjalani management keuangan secara bersama. Bahkan, 10 persen dari penghasilan dimasukan ke kas bersama untuk nantinya diperlukan sebagai dana darurat dan perawatan gedung.
Di Cafe Gantari Jaya, mereka menjual beragam jenis olahan kopi. Kelompok yang juga berisi beragam kaum disabilitas ini mengerjakan tugasnya masing-masing. Ada yang mencatat pesanan, ada juga yang bertugas meracik kopi. ”Kami ingin disabilitas dilihat mampu oleh masyarakat, tidak dianggap lemah oleh masyarakat. Karena ada stigma bahwa Disabilitas tak bisa apa-apa,” pungkasnya. ***
Editor : Made Dwija Putera