Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Gerakan Pemilahan Sampah di Kota Denpasar, Desa Adat Dukung dengan Pararem, Lurah Desa Serangan Minta Pengangkutan Limbah Ikan Tiap Hari 

Ni Made Ari Rismaya Dewi • Rabu, 9 Oktober 2024 | 03:39 WIB
ANTRE: Pasca penerapan gerakan serentak pemilahan sampah di Kota Denpasar, tampak  warga antre buang sampah di Desa Pemecutan Kaja kemarin.
ANTRE: Pasca penerapan gerakan serentak pemilahan sampah di Kota Denpasar, tampak warga antre buang sampah di Desa Pemecutan Kaja kemarin.

DENPASAR, Radarbali.id - Gerakan serentak pemilahan sampah di Kota Denpasar telah dimulai sejak sepekan lalu, yakni tanggal (1/10). Masing-masing desa/kelurahan pun turut mendukung program dari Pemkot Denpasar melalui DLHK ini, salah satunya di Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan.

Lurah Serangan Wayan Sukanami menyampaikan,  pihaknya telah menginformasikan gerakan ini kepada kepala lingkungan, yang nantinya disebarluaskan ke warganya masing-masing. ”Dari masing-masing kepala lingkungan juga sudah menginformasikan lewat parum banjar atau rapat banjar. Bahwa untuk pemilahan sampah sudah harus dilaksanakan per 1 Oktober,” ujarnya.

Termasuk sanksi kemungkinan sampah tidak akan diangkut jika tidak terpilah. Pihak Kelurahan Serangan pun turut berkoordinasi dengan Jro Bendesa ( kepala adat) terkait pemilahan sampah. Pasalnya, ada saran atau usulan dari pengelola TPS3R dan pengelola swakelola sampah, agar pihak desa adat membuatkan semacam pararem (aturan adat).

Warga di Serangan disebutnya kebanyakan warga asli. Sehingga pararem tersebut dapat memperkuat Perwali Kota Denpasar tentang pemilahan sampah yang ada. ”Dari Jro Bendesa juga menyampaikan akan dirapatkan bersama prajuru. Rencana akan pembuatan pararem. Nanti seperti apa (lanjutannya, Red) belum disampaikan kepada kami,” paparnya.

Sosialisasi juga gencar dilakukan, dengan berkeliling menggunakan mobil patroli pecalang atau audio untuk mengimbau warga melakukan pemilahan sampah dari sumber, yaitu dari rumah tangganya. Termasuk tetap mengadakan edukasi kepada warga dan bersama-sama kepala lingkungan akan mengadakan jadwal sosialisasinya.

Khusus pengangkutan sampah organik diharapkannya, bisa dilakukan setiap hari. Karena jika sesuai jadwal, pengangkutan sampah anorganik dilakukan pada hari Selasa, Jumat dan Minggu. Sedangkan hari Senin, Rabu, Kamis, dan Sabtu untuk sampah organik. ”Sampah di Serangan itu adalah sampah dari limbah ikan. Mungkin kalau sampah organiknya setiap hari akan diangkut oleh pihak pengelola sampah, yakni TPS3R,” kata Sukanami.

Seperti diketahui, sampah organik terutama limbah ikan berasal dari usaha kuliner yang ada di Kelurahan Serangan. Sehingga pengangkutan nantinya bisa dengan cara alat angkut yang dibagi dua adanya motor cikar (moci) sesuai dengan video yang diberikan oleh DLHK. Melalui gerakan pemilahan sampah ini, diharapkannya masyarakat di Serangan memiliki pemikiran bahwa sampah ternyata bisa menghasilkan uang dengan cara menjual kembali ke pihak pengepul.

 Karena hingga saat ini di Serangan belum memiliki bank sampah. ”Dari sana kami harapkan masyarakat bisa lebih teliti dan lebih rajin untuk memilah sampah. Kami harus optimistis juga (untuk berjalannya pemilahan sampah dari sumber, red) karena kita juga akan koordinasi dengan Jro bendesa dan kolaborasi dengan desa adat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Serangan terdiri dari tujuh lingkungan yaitu enam banjar adat dengan satu Kampung Bugis. Penduduknya berjumlah kurang lebih 5.100 jiwa dengan sekitar 1.100 KK.  Warga di tiap lingkungan pun sudah ada yang berlangganan ke TPS3R. *** 

 

 

 

Editor : Made Dwija Putera
#gerakan pemilahan sampah #sampah denpasar #desa adat #pararem