DENPASAR, Radarbali.id - Paslon Nomor Urut 2, I Gusti Ngurah Jaya Negara-I Kadek Agus Arya Wibawa (Jaya-Wibawa) menjawab satu-per satu pertanyaan dari panelis dalam Debat Terbuka Pertama Antar Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Denpasar Tahun 2024. Debat mengusung tema ”Dinamika dan Tantangan Kota Denpasar Menuju Smart City” pada Sabtu (19/10) di Hotel Prama Sanur.
Terkait pendidikan, paslon nomor urut 2 ini menyampaikan akan melakukan pembinaan dan pengembangan untuk para anak-anak muda atau peneliti-peneliti muda di Kota Denpasar.
”Kami akan memberikan insentif, baik insentif pendanaan maupun akses dari sumber-sumber pendanaan. Denpasar juga sudah melaksanakan Denpasar Innovation Day,” kata Arya Wibawa.
Disebutnya program ini sudah terlaksana selama empat tahun dan tiap tahunnya melibatkan para anak-anak muda, untuk menampilkan inovasi-inovasi mereka di Gedung Dharma Negara Alaya.
Baca Juga: KPU Denpasar Tentukan Lokasi Debat Pilwali Kota Denpasar 2024, Putaran Pertama di Sanur
Kemudian terkait kemacetan, Jaya Negara ungkap semasa menjabat sebagai Wali Kota Denpasar, dirinya telah bertemu dengan Menteri Perhubungan guna membahas pengelolaan Pelabuhan Sanur.
Pasalnya, secara tata ruang Pelabuhan Sanur adalah pelabuhan pengumpan lokal dan aset kota Denpasar itu digunakan untuk pembangunan pelabuhan. Nyatanya, pembangunan Pelabuhan Sanur tak hanya memberikan dampak dari sisi ekonomi, tetapi juga menimbulkan kemacetan.
”Begitu statusnya menjadi milik kota Denpasar, kami juga memiliki pelabuhan pengumpan lokal yang ada di Serangan dan di Mertasari. Jadi kami akan pecah,” paparnya.
Kunjungan wisatawan yang rata-rata 6 ribu per hari akan dipecah menjadi 3 ribu di utara dan 3 ribu di selatan. Termasuk juga akan membuat kantong kantong parkir ke Pelabuhan Sanur.
”Juga yang terpenting agar rekayasa lalu lintas, kami akan mengusulkan yang pertama kepada pemerintah agar ada jalan tembus dari pelabuhan Sanur ke Prof. Mantra,” sambungnya.
Kedua, mempersiapkan jalan keluar dari jalan Pelabuhan Sanur ke Padang Galak. Kemudian soal Kota Denpasar yang heterogen, dirinya ingin menekankan spirit kita semua bersaudara serta toleransi. Sekaligus dengan dibentuknya forum-forum kerukunan.
Masalah sampah yang menjadi PR besar di Kota Denpasar disampaikannya sudah diupayakan melalui pengelolaan sampah berbasis TPS3R maupun dengan TPST. Kemudian menyiapkan mesin plastik yang mengolah sampah menjadi tas kresek dan juga paving block.
”Pada intinya kami sangat mendukung kebijakan dari Provinsi Bali yang akan membangun pengelolaan sampah dengan incinerator berbasis teknologi dan Sampah itu diselesaikan,” ungkapnya.
Baca Juga: KPU Denpasar Deadline Paslon Pilwali untuk Penurunan APS Mandiri Sebelum 12 Oktober
Dari sektor pariwisata, upaya menyeimbangkan antara pariwisata Sanur dengan kecamatan lain dilakukan dengan keberadaan desa wisata. Contohnya di Desa Kesiman Kertalangu dan Subak Sembung.
Terakhir, paslon nomor urut 2 ini akan memaksimalkan Society 5.0 dalam bidang teknologi untuk melahirkan entrepreneur maupun pelaku startup di Kota Denpasar, seperti Gede Anta dan Gus Krisna.
”Kami juga ingin meningkatkan perekonomian melalui sistem QR code. Nanti daerah-daerah wisata kami akan pasang QR code, kemudian akan menjadi storytelling nanti untuk para wisatawan ke depannya,” ujar Arya Wibawa.***
Editor : Made Dwija Putera