DENPASAR, Radar Bali.id– Pemerintah Kota Denpasar hari ini menggelar upacara peringatan Perang Puputan Badung ke-119 di Lapangan Puputan Badung, Minggu (21/9/2025).
Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh para pejabat daerah, veteran, tokoh masyarakat, dan ribuan pelajar yang mengenakan pakaian adat Bali.
Upacara ini bertujuan untuk mengenang kembali peristiwa heroik pada 20 September 1906, di mana para pejuang dan rakyat Badung memilih untuk bertempur hingga titik darah penghabisan (puputan) daripada menyerah kepada penjajah Belanda.
Semangat Patriotisme dan Kehormatan
Dalam sambutannya, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menekankan pentingnya meneladani semangat patriotisme dan kehormatan para pahlawan.
"Perang Puputan Badung adalah simbol perlawanan tanpa kompromi demi menjaga martabat dan kehormatan tanah air. Semangat ini harus terus kita kobarkan, tidak hanya dalam menghadapi penjajah, tetapi juga dalam membangun Kota Denpasar menjadi lebih maju," ujarnya.
Wali Kota juga mengajak seluruh masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif. "Mari kita jadikan semangat Puputan sebagai motivasi untuk terus berinovasi, berkreasi, dan menjaga persatuan," tambahnya.
Acara berlangsung dengan pembacaan sejarah singkat Puputan Badung yang terjadi pada Tahun 1906, saat rakyat Badung melawan kolonialisme Belanda akibat aturan Hak Tawan Karang yang dikemas dalam garapan adegan kolosal.
Acara juga dihadiri para penglingsir puri se-Kota Denpasar, Ketua DPRD Kota Denpasar, anggota dewan, Forkopimda Kota Denpasar, LVRI Kota Denpasar, pimpinan OPD, serta undangan lainnya.
Atraksi dan Penampilan Budaya
Selain upacara, peringatan ini juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni budaya. Salah satu yang paling menarik adalah pagelaran tari kolosal yang menceritakan kembali detik-detik Perang Puputan Badung.
Tarian tersebut dibawakan oleh ratusan seniman muda, yang berhasil membangkitkan kembali suasana heroik dan emosional dari peristiwa bersejarah itu.
Acara diakhiri dengan tabur bunga di monumen Puputan Badung sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada para pahlawan yang gugur.
Peringatan ini tidak hanya menjadi seremonial, tetapi juga pengingat bagi seluruh masyarakat Denpasar akan nilai-nilai luhur perjuangan dan pengorbanan para leluhur.[*]
Editor : Hari Puspita