DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Gelombang penolakan terhadap LNG terus bergulir. Kini, tokoh Sanur yang juga praktisi pariwisata menolak adanya Terminal khusus LNG (Liquified Natural Gas) di kawasan pesisir Desa Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan.
Itu disampaikan oleh Ketua PHRI Denpasar yang juga Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, Ida Bagus Gede Sidharta Putra atau Gusde, menilai dengan adanya LNG akan memberikan dampak sosial, budaya, dan lingkungan yang serius bagi kawasan pariwisata Sanur.
”Wisatawan datang ke Sanur mau melihat keindahan alam, pantai, dan keramahan masyarakat. Kalau ada kilang, sudah tidak indah lagi, dan bagaimana dengan pencemaran laut?” ujar Gusde saat diwawancara kemarin (16/10).
Kekhawatirannya bukan tanpa sebab, pantai Sanur bukan hanya destinasi wisata, juga memiliki nilai sosial dan agama yang tinggi bagi masyarakat lokal.
“Pantai Sanur adalah pantai untuk banyak hal termasuk acara agama, rekreasi warga lokal dan wisatawan mancanegara,” terang pria yang akrab disapa Gusde ini.
Dengan adanya aktivitas penyaluran gas lewat LNG akan merusak pariwisata Sanur yang kini sudah mulai pulih pasca Covid-19. Tingkat hunian hotel (occupancy rate) telah lebih dari 80 persen.
Tren kunjungan wisatawan yang meningkat menjelang akhir tahun. Terlebih, Sanur akan dijadikan lokasi wisata kesehatan (wellness).
“Saat ini Sanur sangat bagus occupancy rate-nya, di atas 80%. Sayang dirusak Sanurnya, apalagi kita sedang menggalakkan wellness,” tandasnya.***
Editor : M.Ridwan