DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Komunitas literasi menggelar ETC Book Forum 2025, forum yang diinisiasi oleh Partikular di Graha Yowana Suci (18/10/2025). Hadir sebagai ruang pertemuan bagi para pegiat buku dan penerbitan. Ada juga pementasan teatrikalisasi puisi
Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama karya Pranita Dewi ditampilkan oleh Komunitas Aghumi sebagai ruang jeda.
Sutradara pertunjukkan Wulan Dewi Saraswati menjelaskan, memilih buku karya Pranita Dewi ingin menampilkan bukan hanya tentang mencapai puncak, melainkan tentang keberanian untuk berhenti, menatap kembali, dan bernapas.
Seperti mendaki gunung, kita kadang kehilangan napas, namun di titik itu pula kita menemukan kehidupan yang paling mujur. Komunitas Aghumi menelusuri batas antara hidup dan rutinitas.
Tentang tubuh yang terus bergerak meski letih, tentang jiwa yang mencari jeda di tengah suntuk keseharian.
”Karya ini adalah ajakan untuk berhenti sebentar, mendengar detak nyawa yang mungkin sudah lama kita abaikan. Sebab dalam jeda itulah nyawa sering kali paling hidup,” terang Wulan.
Aghumi adalah komunitas seni pertunjukan di Bali yang menjadikan tarot sebagai ekspresi artistik dan medium refleksi sosial. Mengusung pendekatan terapeutik partisipatoris.
”Aghumi merumuskan seni sebagai praktik penyembuhan, ruang kritis, dan dialog kolektif untuk menyuarakan yang terpinggirkan,” pungkasnya.
Forum ETC Book bertujuan menjadi wadah bagi penulis, pembaca, penerbit, ilustrator, akademisi, dan masyarakat umum untuk saling berdialog, bertukar pandangan, serta menganalisis secara sederhana perkembangan dan tantangan yang dihadapi dunia buku dan penerbitan saat ini.
Rangkaian acara diskusi ETC Book Forum 2025 menghadirkan topik-topik yang menarik untuk ditelusuri. Sesi pertama,
"Menilai Buku dari Sampulnya: Cerita-Cerita tentang Mencipta Sampul Buku", mempertemukan peserta dengan Ndari Sukutangan, seorang ilustrator dan desainer dari duo Sukutangan yang berkarya di Bali.
Diskusi ini tidak bertujuan menilai, tetapi berbagi cerita tentang proses kreatif yang panjang di balik sebuah sampul.
Dari berbagi pengalaman tentang riset, interpretasi narasi, dan upaya mengubah ide kompleks menjadi visual yang memikat, termasuk kisah di balik beberapa karya mereka yang pernah menerima penghargaan maupun yang gagal.
Sesi ini dapat memberikan perspektif tentang bagaimana elemen visual juga menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah karya.
Sesi diskusi kedua membahas "Buku-buku yang Menarik Dewan Juri" bersama sastrawan terkemuka, Oka Rusmini, Dalam konteks perkembangan media, ETC Book Forum turut menawarkan Lokakarya "Mengulas Sastra untuk Sosial Media: Mengubah Hobi Baca Jadi Konten yang Menarik" bersama Laksmi Mutiara (Bookstagrammer). Lokakarya ini mengajak peserta untuk melihat media sosial sebagai ruang yang lebih dari sekadar tempat berbagi foto.
Tujuannya adalah membantu peserta belajar bagaimana menulis ulasan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga cerdas secara isi, membuka pintu bagi lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam percakapan sastra yang bermakna.
Baca Juga: NASI KENTUT, KHAS MEDAN BUNG! : Nama Bikin Geleng-Geleng, Rasa dan Khasiatnya Bikin Nagih
Fokus forum juga diarahkan pada kondisi lokal melalui Diskusi "Tentang Ruang dan Komunitas Buku di Denpasar" bersama Eko Dananjaya perwakilan dari BKRAF Denpasar dan Ayulia Amanda dari Bali Book Party.
Diskusi ini menjadi bincang-bincang santai tentang upaya memanfaatkan fasilitas publik untuk diskusi buku, tantangan yang dihadapi oleh komunitas literasi dalam mencari ruang yang inklusif, dan bagaimana kita semua bisa berkontribusi dalam membangun infrastruktur yang mendukung kegiatan literasi di kota ini.
Dengan suasana Denpasar Tempo dulu di Graha Yowana Suci, ada sepuluh lapak penerbit, kolektif independen, dan studio kreatif, seperti Florto Studio, There But for The Books, Jahebiru, Umah Yuma, Gembira Enterprise, Comicotopia, Partikular, Baca Komik Lokal, Huruf Biru x Toko Rabu, dan Tektonik Records, diharapkan dapat memperkaya pilihan bacaan dan karya cetak alternatif bagi pengunjung. Forum ini berharap dapat menjadi kontribusi kecil namun konsisten bagi ekosistem literasi di Bali.***
Editor : M.Ridwan