RADAR BALI - Proyek Pengelolaan Sampah Jadi Energi Listrik (PSEL) yang akan dibangun di lahan milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) di Pesanggaran, Denpasar, Bali, menarik minat investor global.
Proyek ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mengatasi masalah sampah sekaligus menghasilkan energi terbarukan.
Pendanaan proyek PSEL Denpasar akan difasilitasi oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia.
"Sudah ada calon 24 (investor) kalau tidak salah waktu pihak Danantara ke Bali dan bertemu kami. Itu sudah ada 24 investor luar negeri yang akan mendaftar Danantara," kata Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa.
Antusiasme terhadap tujuh proyek Waste-to-Energy (WTE), termasuk PSEL Denpasar sangat tinggi.
Badan Pengelola Investasi Danantara mencatat bahwa total entitas yang mendaftar mencapai sekitar 200 perusahaan.
Jumlah ini terdiri dari 53 badan usaha domestik dan 54 entitas dari luar negeri, sementara sisanya sedang dalam proses identifikasi lebih lanjut.
Para peminat datang dari berbagai negara maju. Hal itu menunjukkan minat global yang kuat terhadap solusi energi terbarukan di Indonesia.
Negara-negara besar seperti Jepang, Belanda, Jerman, Singapura, dan China termasuk di antara yang paling tertarik.
Setelah melalui proses seleksi yang ketat, jumlah peminat tersebut telah disaring menjadi 24 perusahaan terpilih pada Jumat pekan lalu.
Tingginya minat ini didorong oleh beberapa insentif investasi utama yang ditawarkan pemerintah.
Fasilitas tersebut meliputi kepastian harga jual listrik ke PLN, penghapusan tipping fee yang memberikan keuntungan finansial bagi pemerintah daerah, dukungan regulasi, serta kemudahan dalam penyediaan lahan.
Ketertarikan Global dan Janji Pengembalian Tinggi
Proyek PSEL Denpasar menjadi magnet investasi karena potensi keuntungan yang ditawarkan.
Tingkat pengembalian investasi (ROI) dari proyek waste-to-energy (WTE) ini diperkirakan mendekati 10% per tahun atau tingkat pengembalian modal dalam waktu 10 tahun.
Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir menjelaskan, kepastian pasar menjadi pendorong utama.
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah diwajibkan membeli energi listrik dari WTE senilai USD 20 sen per kilowatt hour.
PSEL dengan kapasitas 1.000 ton per hari seperti PSEL Benowo di Surabaya mampu menghasilkan daya listrik 12 MW per hari.
Bila beroperasi pada kapasitas puncak, listrik yang dihasilkan dari satu instalasi PSEL mampu memenuhi 1 persen dari beban puncak Bali.
"Menurut saya tingkat pengembalian investasi ini bagus atau high single digit. Maka dari itu, ada 200 perusahaan yang mendaftar ke proyek ini dan sudah diseleksi menjadi 24 perusahaan pekan lalu, Jumat (31/10)," ujar Pandu.
Proyek PSEL di Denpasar termasuk dalam tahap pertama dari tujuh proyek WTE yang dilelang oleh Danantara bersama Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta.
Managing Director Danantara Stefanus Ade Hadiwidjaja menyebut kebutuhan investasi untuk setiap proyek WTE berada di kisaran Rp 2,5 triliun hingga Rp 3 triliun.
Dengan demikian, total investasi untuk empat kota tahap awal mencapai sekitar Rp 12 triliun.
Danantara berencana mendanai proyek ini melalui skema ekuitas, menargetkan kepemilikan sekitar 30%, ditambah dengan utang bank.
Syarat dan Target Operasi
CEO Danantara Rosan P. Roeslani sebelumnya menegaskan bahwa investor asing yang tertarik wajib membentuk usaha patungan (konsorsium) dengan mitra lokal.
Hal ini bertujuan untuk memastikan transfer teknologi dan memberdayakan industri domestik.
Masa konstruksi PSEL Denpasar ditargetkan awal 2026 dan beroperasi pada April 2026.
Denpasar telah menyediakan lahan seluas 6 hektare di Pesanggaran yang merupakan lahan milik Pelindo.
Selain itu, Denpasar dan Badung juga menyanggupi untuk mengirim sampah organik minimal 1.200 ton per hari atau melebihi kapasitas minimum operasional PSEL sebanyak 1.000 ton per hari.***
Editor : Ibnu Yunianto